pak, pengalaman ini dari aku sendiri. Aku lulus kuliah cumlaude. IPK 3.9.
Wisuda disaksikan keluarga besar. Foto pakai toga dicetak besar, dipajang di rumah orang tua.
Semua bangga. Aku juga bangga. Tapi 5 tahun setelah lulus, aku sadar sesuatu:
5 hal yang paling MENENTUKAN kualitas hidupku, NGGAK SATUPUN DIAJARIN di sekolah/kampus.
Ini pengalamanku pribadi, kejadian di 2022 kmrn. Gua nelfon 119 untuk ngaduin adanya ancaman pembunuhan yg terjadi sm temen gua, waktu itu gua kalut bngt karna bnr2 pelaku udh terang2an bawa sajam. Pas gua telfon gua jelasin semuanya, bahkan gua tawarin buat kasih bukti (c)
Gw baru sadar, ternyata selama ini gw terlalu available.
Terlalu gampang di-reach, terlalu gampang bilang "iya", terlalu gampang ngasih waktu, tenaga, bahkan space buat orang lain.
Sampe akhirnya gw sadar, beberapa orang cuma datang pas mereka butuh sesuatu.
Tapi pas gw yang butuh mereka, tiba-tiba semua orang sibuk.
Maybe the problem was never that I cared too much. Gw cuma terlalu sering ngasih akses ke orang yang bahkan gak pernah bener-bener hadir buat gw.
Sekarang gw belajar: gak semua orang harus punya akses yang sama ke hidup gw.
Jangan cuma bilang ke ChatGPT:
❌ “Buatkan saya rencana.”
❌ “Beri saya ide.”
❌ “Analisis ini.”
Kamu sedang menggunakan AI canggih seolah-olah cuma anak magang. 😅
Kalau prompt-nya tepat, hasilnya bisa jauh lebih powerful.
Ini 7 prompt yang tinggal copy-paste 👇
Seporsi ilmu satu menit tentang nasehat menjadi diri sendiri and bersikap dengan orang disekitar mu
“Kamu harus bisa menjadi diri yang tidak dibangun dari validasi orang lain”🥹
GUBERNUR MULAI MELAWAN PUSAT.
AKANKAH DIIKUTI KEPALA DAERAH LAIN?
Ketegangan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat kembali menjadi sorotan. Ketika kebijakan dari pusat dinilai tidak sejalan dengan kondisi serta kebutuhan daerah, muncul pertanyaan: sampai sejauh mana kepala daerah akan mengikuti kebijakan pusat?
Jika persoalan daerah terus menumpuk sementara pemerintah pusat dianggap belum memberikan solusi yang dirasakan masyarakat, bukan tidak mungkin tuntutan agar daerah memiliki ruang lebih besar dalam menentukan kebijakannya kembali menguat.
Situasi ini menjadi ujian bagi hubungan pusat dan daerah—terutama ketika kepentingan masyarakat di lapangan berhadapan dengan kebijakan yang dibuat dari pusat
Korsel, Finlandia, Jepang, sampai Singapura bisa jadi negara maju dan disegani karena mampu mencerdaskan rakyatnya.
Tidak jauh dari Singapura, orang berpendidikan dimaki terbuka di mimbar. Makian itu disambut tepuk tangan meriah.
Ajaibnya sebuah Doa ini :
"Innahu min sulaiman
wainnahu bismillahirrahmanirrahim
Ala ta'lu alayya wa'tuni muslimin"
Amalkan baca 3x setiap pagi dan
setiap malam sebelum tidur
In Syaa Allah ada miracle yang akan terjadi, Kunfayakun
Allahu Subhanallah
Soalnya cara Al-Qur'an ngebenerin rezeki itu bukan lewat hitung-hitungan angka, tapi lewat cara pandang hidup lo ke dunia.
Al-Waqi'ah ngajarin pola pikir "akhirat duluan". Anehnya, orang yang fokusnya ke akhirat malah biasanya urusan dunianya lebih rapi.
Soalnya hidupnya jadi lebih terarah, ga gampang panik, dan ga reaktif tiap ada masalah dateng.
Rezeki emang lebih deket sama orang yang tenang.
Rezeki sering ketutup karena hati kelewat takut miskin. Al-Waqi'ah ngebongkar ketakutan paling dasar manusia, yaitu takut kehilangan.
Begitu ketakutan itu berkurang, orang jadi lebih berani melangkah, ngambil peluang, dan berbagi.
Simpelnya: takut turun, mental naik, peluang jadi kebuka.
Ini kata-kata Cinta Laura Kiehl di salah satu podcast.
-----
"Aku udah pernah travelling ke 39 negara, tapi yang paling berkesan selalu buat aku adalah saat aku mengunjungi daerah-daerah terpencil atau terisolasi di Indonesia.
Karena, saat aku mendatangi tempat-tempat terpencil, di situlah aku menyadari sebetapa... sebenarnya kita-kita yang tinggal di perkotaan sebenarnya tidak boleh komplain.
Kemarin baru aja ke Asmat, kebanyakan tempat gak punya listrik yang tetap. Kalau ada listrik pun mungkin hanya 1 bohlam untuk menerangi satu tempat tinggal, gitu.
Dan juga banyak anak-anak di daerah tersebut, orang tuanya memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Bukan karena gak mau anak-anaknya berpendidikan, tapi karena kondisi hidup sangat sulit, mereka memilih untuk beberapa minggu dalam jangka waktu 1–3 bulan, tinggal di hutan untuk mencari makanan, karena pertanian di situ gak ada, it's a swamp land.
Jadi bayangin kita di Jakarta, "Aduh Wi-Fi slow", "Aduh makanan ini gak enak", "Hmm kurang high class", atau "Oh macet". Ini tuh hal-hal yang harusnya tidak kita pikirkan dan tidak membuat kita frustrasi. Karena kebutuhan mendasar kita sangat terpenuhi.
Dan itu tuh... saat datang ke daerah-daerah yang kusebutkan tadi, itu membuat aku sadar, "Wow, our lives..." kehidupan kita sangat teramat indah."
BMKG sudah rilis Peta Simulasi Dampak dan Mitigasi Megathrust wiayah Jawa
Nah, apa yang bisa kita lakukan dan persiapkan?
1. Pahami Lingkungan Sekitar kita
- Cek peta kerawanan bencana di wilayah masing-masing
- Ketahui rute evakuasi menuju tempat tinggi
- Tandai titik kumpul aman terdekat di lingkungan rumah dan tempat kerja
- Ketahui lokasi pengungsian akhir yang sudah ditentukan pemerintah daerah
2. Persiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) Isi satu tas ransel dengan kebutuhan dasar untuk 3 hari:
- Air minum dan makanan instan/tahan lama
- Kotak P3K, obat-obatan pribadi, dan sanitasi
- Senter, baterai cadangan, dan peluit untuk alat panggil bantuan
- Powerbank dan pakaian ganti secukupnya
3. Amankan Dokumen dan Aset Penting
- Simpan berkas penting (ijazah, sertifikat, akta, surat berharga) dalam wadah anti air
- Buat salinan digital di penyimpanan awan (cloud)
- Siapkan surat wasiat atau catatan aset keluarga di tempat aman sebagai antisipasi risiko terburuk
4. Diskusi dengan Keluarga terkait Rencana Darurat
- Buat kesepakatan jalur komunikasi jika jaringan seluler terputus
- Tentukan siapa bertugas membawa apa saat situasi darurat
- Simpan nomor-nomor darurat lokal di ponsel (BPBD, ambulan, polisi, pemadam dll)
Kalau ada simulasi mandiri bisa diikuti secara berkala ya manteman.
Bencana tidak bisa kita prediksi kapan datangnya, tapi dampaknya bisa kita tekan dengan persiapan yang matang.
Tetap tenang, rasional, dan terus tingkatkan literasi kebencanaan kita.
Mari saling jaga dan saling ingatkan...
HAK DAERAH DIUBAH JADI UTANG DAERAH, DAN KEMENKEU NYEBUTNYA SKEMA PEMBIAYAAN
Bupati Siak nolak. DPRD Sulteng nyindir pakai analogi uang saku. Purbaya jalan terus kayak nggak denger apa-apa.
3 September, forum Sarasehan 100 Ekonom.
Purbaya bilang pemotongan DBH "nggak bakal ganggu pembangunan daerah" karena pemda bisa pinjam lewat PT SMI.
8 September, lima hari kemudian.
Skema itu resmi diumumkan. Pinjam ke SMI, cicilan pokok dan bunganya dipotong otomatis dari DBH pemda sendiri.
DBH 2026 dipotong dari Rp192,2 triliun ke Rp58,5 triliun. Turun 69,5%.
Jian tenan urutannya.
Kata Muhammad Safri, Ketua Fraksi PKB DPRD Sulteng, ini kayak uang saku anak dipotong ortu, terus pas anaknya butuh, disuruh minjem uangnya sendiri lewat lembaga milik keluarga. Wajib dibalikin, plus bunga.
Tapanuli Tengah udah kena duluan. Pinjam Rp70 miliar, bunga 6,19%, tenor 8 tahun. Sekarang masih nyicil Rp11 miliar per tahun. Itu ruang fiskal APBD yang ilang tiap tahun, bukan proyek yang jalan.
Bupati Siak Afni Zulkifli udah nolak terang-terangan. Safri di DPRD Sulteng nyindir keras. Kemenkeu jalan terus, katanya ini cuma opsi.
Opsi kok ditawarin lima hari setelah haknya sendiri dipotong.
DBH itu hak daerah. Utang itu kewajiban daerah. Purbaya nuker keduanya dan nyebutnya skema pembiayaan.
#AkalAkalanPurbaya
Seporsi adab: berhenti ngurusin hidup orang lain.
Ga nikah, yaudah.
Nikah di usia yang ga lagi muda, yaudah.
Cerai, yaudah.
Punya anak, yaudah.
Milih childfree, yaudah.
Resign, yaudah.
Ganti karier, yaudah.
Mulai hidup dari nol lagi, yaudah.
Kenapa sih harus selalu ada aja yang ngerasa punya hak buat nanya, komentar, bahkan menilai hidup orang lain?
Kenapa susah banget ngerti kalo setiap orang punya timing, keadaan, prioritas, dan cerita yang mungkin ga pernah mereka ceritain ke siapa-siapa?
Yang menurut kita terlambat, bisa jadi justru waktu yang paling tepat buat mereka.
Yang menurut kita salah, bisa jadi keputusan paling masuk akal setelah mereka ngelewati hal-hal yang kita ga pernah tau.
Ga semua harus dikomentari.
Ga semua pilihan harus dipahami.
Ga semua hidup harus berjalan sesuai standar yang kita percaya.
Urusin hidup masing-masing.
Biarin orang lain punya ruang buat ngejalani hidupnya sendiri.
Skill yang jarang diajarin di kampus/sekolah tapi kepake banget pas udah kerja:
1. Homospatial Thinking - menggabungkan beberapa ide berbeda menjadi satu konsep atau solusi baru.
2. Pattern Recognition - menemukan pola dari berbagai data, informasi, dan pengalaman.
3. Janusian Thinking - mampu melihat dan mempertimbangkan dua gagasan yang bertentangan secara bersamaan.
4. Semantic Association - menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah kita miliki.
5. Systems Thinking - melihat masalah secara menyeluruh dan memahami bagaimana satu hal dapat memengaruhi bagian lainnya.
6. Critical Thinking - nggak langsung menerima informasi, tapi terbiasa mempertanyakan, menganalisis, dan mencari dasar di baliknya.
🚨 STOP meminta AI untuk “PERBAIKI TULISAN SAYA INI”
Gunakan sistem 10 prompt ini untuk mengubah draft yang lemah menjadi tulisan yang lebih rapi, menarik, profesional, dan enak dibaca. 👇
Ini lagi rame ges, jadi Mas Ibam ini merupakan eks Konsultan Kemendikbud era Nadiem.
Dia sudah menyiapkan "bom waktu" untuk jaga-jaga kalau nanti dia kenapa-kenapa.
Dia udh membagikan sebuah Deadman Switch ke publik, hash enkripsinya udh cocok, tinggal nunggu keynya aja.
Jadi kalau dia kenapa-kenapa keynya akan tersebar ke publik dan nanti publik yang bekerja menyelamatkan "Files" tsb.
Untung komdiginya planga plongo, mana ngerti beginian 🤣
Ciri-ciri Orang Have di kantor :
- Gak carmuk
- Gak ngejar jabatan
- Gak haus validasi atasan
- Gak sibuk cari muka
- Gak ikut drama kantor
- Gak takut kalau gak dianggap penting
- Kerja sesuai tanggung jawab, bukan cari panggung
- Let it flow, gak semua hal harus dikejar
- Datang kerja, kerja bener, pulang
- Kerja-pulang-lupakan
- Gak bawa masalah kantor ke rumah
- Gak iri lihat orang lain naik jabatan
- Gak perlu pamer kesibukan
- Gak merasa harus selalu terlihat sibuk
- Bisa bilang “cukup” ketika memang sudah cukup
- Punya kehidupan di luar kantor
- Jabatan bukan ukuran harga diri
- Lebih pilih ketenangan daripada pengakuan
- Fokus berkembang, bukan sibuk membandingkan
- Kalau diapresiasi senang, kalau nggak juga tetap jalan
- Bisa kerja profesional tanpa menjadikan kantor sebagai seluruh hidupnya
- Punya prinsip: kerja yang baik, hidup yang baik, pulang dengan tenang
It’s a HAVE & BERKELASS 🩶✨