@myshawti Kami tidak ada lelah²nya untuk mendengungkan ini:
PEMBERIAN MAKAN YANG BERNUTRISI DAN BERGIZI PADA ANAK ADALAH TUGAS ORANG TUA. SEDANGKAN TUGAS NEGARA ADALAH MEMASTIKAN ORANG TUANYA MAMPU UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS ITU LEWAT UPAH PEKERJAAN YANG LAYAK.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.
Negara lagi krisis, warganya jumpalitan buat survive, eh presidennya malah minta ulang tahunnya dirayain meriah. Kejadian seabsurd ini pernah terjadi di Iraq semasa pemerintahan Saddam Hussein & The President's Cake memotretnya ke dalam tontonan coming of age seru juga pilu memakai POV seorang bocah SD yatim piatu dari desa yg terpaksa jelajahi kota bersama sang nenek untuk nyari bahan bikin kue buat hari ultah pak presiden.
Ditengah situasi mencekam dimana suara pesawat tempur sering berseliweran, karya perdana Hasan Hadi ini terasa jenaka di awal berkat kepolosan & rasa ingin tahu si protagonis yg selama ini terkungkung di rumah pinggir sungai bersama sang nenek. Dia pernah nanya, "kamu Allah ya?" ke pak pos yg menolongnya. Namun seiring berjalannya durasi, saat si bocil mulai sering melihat realita getir di negaranya yg amburadul, hatiku pun mencelos sekalipun petualangan mencari bahan kuenya dikemas energik.
Bagus!