'masih kuat?'
'inget ya, ga boleh keluar'
'gerakin terus'
'belum boleh berhenti, sayang'
'iya, gitu'
'pinter'
'basah banget, kamu'
'kalo capek, berhenti'
'belum puas? mau keluar?'
'hari ini selesai, kita lanjutin besok ya'
—
keep edging yourself, day by day, until we meet♡
'pasang pelan-pelan, sayang'
'iya nyalain, boleh kok'
'tahan ya, enak kan?'
'kamu kuat berapa lama, sayang?'
'ini yang kamu mau kan?'
'gemes banget minta izin main'
'enak? suka?'
'ga boleh keluar dulu ya...'
—
I'm not even there, yet you still follow my voice like a good girl
as she whimpering on the floor, trying to close her legs, her little mouth whispered in a tired voice "can I cum, sir?". staring still, there is no reaction from him. just watching her to hold the vibrator on her own pussy, and continue listening to his favorite music. her moan
'kamu ngapain bandingin telapak tangan?'
'lucu ya, kamu kecil banget'
'ujung jarinya masa dua buku di bawah aku'
'dua tangan? coba'
'bisa kugenggam pake satu tangan lho'
'kalo gini kamu ga bisa lawan ya'
'lepasin?'
'ga mau'
'kamu yang mulai'
—
now pick your safeword, princess🤍
'Tanpa sadar, aku terus memainkannya. Sesekali, matanya yang berbentuk almond dan tajam bertemu denganku. Aku tak pernah bosan dengan caranya menatap — caranya memandangku. Tatapan yang merendahkan itu terasa seperti melucuti tiap benang yang menempel di—'
We Met, Once—Libro