Aku punya teman, dengan kesadaran penuh menunda hamil sampai 8 tahun,
Krn apa?
Krn dia bner2 mau matangkan diri jadi seorang ibu, Krn abis nikah dia lagi belajar jadi istri dan explore byk hal baru trmsuk jadi wanita karir dan traveling breng suami
Gongnya apa?
Pas dia ngerasa udh siap, Allah belum kasih, dan ditahun ke 8, Allah kasih rejeki hamil buat dia, dan tahun lalu lahiran, anaknya udh hampir setahun
Dia bner2 udah siap smuany, baca buku, wktu hamil, cari dokter, cara lahirnya nnti, pas udah lahir ngasih smua Hak Anak, dengerin, ngbrol sama anaknya, tau handle baby bluesnya, anak sakit dan tantrumnya dia nikmatin
Aku mo nangis bgt terharu anaknya terlahir beruntung di rahimnya 😭😭, aku slalu meluk dia kalo ktemu.
Di luar itu shout out buat suaminy yg pengertian, punya komunikasi yg bagus, bisa di ajak kerjasama sebagai partner, paham kebutuhan istri tanpa mengenyampingkan kewajibannya 🤗
papaku tuh orangnya gak berisik soal kasih sayang ke anak. bukan tipe yang touchy juga peluk cium gitu enggak.
tapi pas aku pulang ke rumah, semua air mineral di rumah diganti jadi disney sebab dia bilang, “ada teteh di rumah.”
cintanya gak berisik, tapi aku tau aku dicintai.
Sheila Dara gak pernah berisik tapi nemenin Vidi sampe akhir. Willing dari awal buat tetep lanjutin serius sama Vidi setelah tau sakitnya. Such a beautiful couple.
Aku belajar dari Sal Priadi dari lagu ini untuk berusaha mendoakan, memaafkan, dan meminta maaf setulus-tulusnya. Setiap malam, agar tenang, agar lelap. Dan barangkali rezekimu mengalir bukan karena kamu sibuk bekerja siang dan malam, tapi karena kamu selalu lapang menerima apapun yang terjadi di hidupmu, tanpa balas dendam dan memilih untuk selalu mendoakan hal baik, memaafkan dan selalu meminta maaf.
My coworker ended her five-year marriage over something most people would probably call “small.”
She told me that in their home, she naturally took on the chores. She cooked. She did the laundry. She kept things running. It wasn’t something they formally discussed... it just became the routine. And she went along with it.
Then she got sick. Not just a light cold... the kind where your body feels heavy and even standing up is exhausting. For once, she couldn’t function the way she usually did.
That evening, her husband came home, saw the laundry basket, and separated his clothes from hers. He washed only his. Later, he made himself dinner, plated it, and ate. When she asked if he could make something simple for her too, he replied, “I’m exhausted. I don’t have the energy.”
She said it wasn’t even the words that hurt. It was the absence of instinct. The absence of care. The fact that helping her didn’t occur to him automatically the way serving him had always occurred to her.
That night, lying there sick and hungry, she realized she wasn’t in a partnership. She was in an arrangement where her labor was expected, but his effort was optional.
People think love disappears in dramatic arguments or explosive fights. But sometimes it fades in moments like that... when someone watches you struggle and chooses convenience over compassion.
i love being woman, but.. KERAMAS PLUS NGERINGIN RAMBUT CAPE BANGET🥹😮💨😭😭 luluran, skincare, dandan, prepare dll😔😔 the feeling afternya suka tapi mengumpulkan energinya itu WAHHH
gue selalu ngeyakinin diri sendiri "gapapa kok kalo proses nya lebih lama dari temen² yg lain, gapapa kok ketinggalan, yg penting i do my best" tp ga bohong sih ttp aja ga tenang, takut, dan kepikiran🥲
siapa yg setuju kalo 2026 ini bakal jadi titik balik kita? i mean, aku yakin bgt tahun ini kita bakal selalu dikelilingi kebahagiaan, kabar baik, dan keberkahan🤍
no more cry & pain like 2025🙅🏻♀️
cheers for new year and new chapter🥂