Keresahan Sebagai Pendukung Timnas Indonesia:
BULAN MADU TELAH PURNA
Kalau ukuran sepak bola adalah HASIL, maka John Herdman memang gagal di AFF 2026. Evaluasi, bahkan kalau perlu dipecat. Itu adalah risiko menjadi pelatih.
Tapi jangan berhenti di BENCH.
Berapa pelatih lagi yang harus dikorbankan sebelum yang benar-benar dievaluasi adalah orang-orang yang memilih mereka?
Yang mimin ikuti, sejak era Nurdin Halid, Djohar Arifin Husin, La Nyalla Mattalitti, Edy Rahmayadi, Joko Driyono, Iwan Budianto, Mochamad Iriawan, hingga Erick Thohir, narasinya hampir selalu sama: reformasi, mimpi besar, target tinggi.
Yang berubah hanya nama ketua dan nama pelatih.
MASALAHNYA TETAP SAMA.
Kompetisi lokal tak kunjung menjadi fondasi yang kuat, pembinaan usia muda berjalan tidak konsisten, polemik perwasitan tak pernah benar-benar selesai, regulasi berubah-ubah, dan tata kelola federasi terus menuai pertanyaan.
Terkini, hang paling ironis justru cara menentukan PRIORITAS.
Turnamen PRAMUSIM dipoles sedemikian rupa hingga terasa hampir setara dengan kompetisi resmi dari sisi branding, eksposur, hingga gaung medianya. Sementara PIALA INDONESIA, yang seharusnya menjadi turnamen knockout bergengsi seperti FA Cup, Copa del Rey, atau DFB-Pokal, justru mati suri.
Federasi juga belum mampu menghadirkan PIALA SUPER, sebagaimana Community Shield di Inggris, Supercoppa di Italia, atau Supercopa di Spanyol yang mempertemukan juara liga dan juara piala setiap musim.
Padahal semakin banyak KOMPETISI RESMI, semakin tinggi jam terbang pemain, semakin luas kesempatan klub berkembang, dan semakin kuat fondasi sepak bola nasional.
Yang diperbesar justru SEREMONI, bukan EKOSISTEM KOMPETISI.
Demi mempercepat prestasi serta CITRA FEDERASI datang proyek naturalisasi.
Salah? Jelas tidak. Karena sudah sesuai regulasi dan peraturan yang ada.
Yang salah, publik dijanjikan jalan pintas menuju level yang lebih tinggi. Seolah kualitas pemain adalah jawaban atas seluruh persoalan. Ketika hasil tak sesuai harapan, pelatih kembali menjadi kambing hitam.
Publik juga belum lupa bagaimana Shin Tae-yong diakhiri. Pelatih yang membawa Indonesia mencatat berbagai pencapaian justru disingkirkan dengan keyakinan bahwa Indonesia membutuhkan sosok yang lebih hebat dan proyek yang lebih menjanjikan.
Setelah Kluivert hacur lebur, Kini Herdman gagal di AFF 2026.
LALU SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?
Kalau setiap kegagalan selalu berhenti pada pelatih, berarti federasi selalu benar.
Yang membuat publik semakin lelah adalah STANDAR GANDA.
Saat tim nasional menang, para petinggi federasi tampil di depan kamera, berbicara tentang keberhasilan proyek dan arah yang benar. Namun ketika tim kalah, narasinya berubah menjadi kesalahan pelatih, pemain, atau faktor teknis.
Erick Thohir dan Arya Sinulingga berulang kali tampil sebagai wajah utama setiap keberhasilan.
Maka sudah seharusnya keduanya juga berdiri paling depan ketika proyek yang mereka bangun gagal mencapai target.
JANGAN HANYA MAU MENERIMA APLAUS SAAT MENANG, TAPI MENGHILANG SAAT KALAH.
Kepemimpinan bukan hanya soal menerima tepuk tangan, tetapi juga memikul tanggung jawab.
Silakan evaluasi Herdman.
Tapi evaluasi juga mereka yang menunjuknya. Evaluasi arah proyek naturalisasi. Evaluasi kualitas liga. Evaluasi sistem kompetisi. Hidupkan kembali PIALA INDONESIA. Bangun PIALA SUPER yang layak. Perkuat pembinaan usia muda. Benahi tata kelola federasi.
Karena semua itu berada dalam kendali federasi, BUKAN PELATIH.
Pelatih hanya mengelola 90 MENIT di lapangan.
Federasi mengelola MASA DEPAN SEPAK BOLA INDONESIA.
Kalau yang terus berganti hanya pelatih, sementara cara mengelola sepak bola tidak pernah berubah, jangan heran jika yang terus berulang bukan prestasi, melainkan kekecewaan.
BULAN MADU TELAH PURNA.
Kini saatnya berhenti menjadikan pelatih sebagai tameng.
KALAU KEMENANGAN SELALU MENJADI MILIK FEDERASI, MAKA KEGAGALAN JUGA HARUS MENJADI TANGGUNG JAWAB FEDERASI.
Sesederhana itu.
BANGKEEE NGAKAK GUAAA 😭😭😭
Lagi hot hotnya kasur yang dikirim ke apartemen nemu video Ruben Iklanin KASUR 🤣
RADA GELEUH SIH GUA cuman gapapa dah wkwkkwkwkwkw
Ini video tahun 2024 di tahun yang sama Ruben Onsu sama Sarwendah cerai.
SAMPE INI ALASAN KALIAN CERAI. KATA GUA KOCAK ANJIR
Dari Eselon III jadi Pelaksana
Dari Grade 13 ke Grade 7,
Dari Tunjangan 13.670.000 menjadi 5.079.000
berkurang 8.591.000 per Bulan
Itulah Harga yang dibayar untuk membuka selembar penyelewengan Menteri PU yang mau ngajak anaknya liburan ke US pake fasilitas negara.
@IndosFC Kesukaan aboardmania nihh hohoho, bodo amat pemain gak dapet menit main yang penting klub luar boss bisa dibangga-banggain aboardmania pas timnas calling
Bahkan yang terbaik pun tidak bisa menulis ulang takdir.
Cristiano Ronaldo akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya memang tidak pernah ditakdirkan untuk memenangkan Piala Dunia. Meski telah menjaga fisik di level tertinggi hingga usia 41 tahun demi memimpin Portugal di enam edisi berbeda, ambisi besarnya selalu kandas jauh sebelum menyentuh partai puncak.
Kegagalan ini membuktikan bahwa kerja keras luar biasa sekalipun kadang tidak berdaya melawan garis takdir, menyisakan satu ruang kosong yang selamanya tidak akan pernah bisa ia isi.
This is the end. The Final Dance is over. The King leaves without his crown 💔
Kemarin dapet tawaran sama kayak gini, kerja cuma wfh tapi paid sejuta. Alhasil gua tolak, dari awal udah gak bener kesananya pasti makin gak bener. Gila ya pemerintah udah keluarin anggaran gede bikin program yang bagus kayak gini buat freshgrad masih diakain aja sama oknum 🤪
jadi ada perusahaan yang memanfaatkan maganghub
ceritanya gini:
perusahaan ikut maganghub buat nerima anak magang dan anak magang ini cuma absen aja pas pulang lalu dia tiap bulan dapat 1,5jt tanpa ngapa"in dan sisanya perusahaan yang dapat
teknis absensi di maganghub itu anak magang cuma list aja kegiatan sehari" ngapain di web dan bakal di approve sama mentornya
gw rasa ini hrus di evaluasi juga sistem absensi buat anak magang sih. tolong ini anukan dulu pak biar ngga gitu lagi @KemnakerRI
Gua udah punya jawaban kalo ditanya soal ini.
https://t.co/Kj7BQ2oS4r
Apakah kasihan? Tidak sama sekali. Sekarang kita balik:
- Apakah kalian kasihan dengan ibu2 kantin yang penghasilannya 0 rupiah karena MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orangtua yang menangis karena anaknya keracunan MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan jutaan orang yang bayar pajak, namun uang pajak itu dipakai untuk korupsi dalam MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orang yang kena PHK akibat multiplier effect dari MBG ?
Sejawat kalian saja suka pamer gaji di SPPG dan merendahkan orang lain. Ngapain juga kasihan.