Medallion's humming... that can only mean one thing! It's time to announce The Witcher 3: Wild Hunt - Songs of the Past! ⚔️
This brand new expansion for The Witcher 3: Wild Hunt will take you to the Path with Geralt of Rivia once more. It’s being co-developed with @Fools_Theory and is coming to PC, Xbox Series X|S, and PlayStation 5 in 2027. Stay tuned for more information in late summer. ⏰
The live-action movie adaptation of #ELDENRING, produced by the studio A24 in partnership with Bandai Namco and filmed for IMAX, is slated for release on March 3, 2028.
Production will begin in Spring 2026, and the full cast has been announced. Learn more: https://t.co/WyyyXMkiUF
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
I've had so much fun on here, but Hugh says it's time to go. I've learned so much about Earth! Hugh says it'll be useful when we get there! 🥰
GOODBYE FOR NOW! I'll never forget you all! 🥹
Karena ramai sekali di linimasa... Saya coba menonton jawaban Prof. Stella Christie, khususnya soal Market Value di kalangan teman-teman @direktoridosen
Q: Seandainya Prof Stella dikasih wewenang untuk membuat kebijakan yang seluas-luasnya. Apa yang pertama kali diubah atau dibikin, diperbarui based on your background? Kalau tidak ada obstacle soal anggaran, enggak ada birokrasi lah. Seorang peneliti itu ada kegeraman individu karena kita sudah tahu knowledge-nya, tapi praktiknya tidak begitu
A: Wah ini bisa panjang. Tapi saya kasih yang pendek ya, yang paling penting. Talent Development. Dan saya akan bahkan khusus untuk universitas kita. Kita belum sepenuhnya menghargai secara tepat betapa pentingnya talent kita di Universitas.
Artinya pada saat ini, ada suatu problem yang jarang diketahui oleh publik, yaitu begitu sulitnya seorang dosen pindah dari suatu PTN ke PTN lainnya. Dan ini tidak terjadi di negara yang saya sudah lama, seperti di Amerika Serikat maupun di Tiongkok dan saya sangat tahu tentang iklim Eropa.
Kalau di tempat-tempat lain, masing-masing individu dosen itu mempunyai kekuatan karena dialah yang menghasilkan hasil riset, dialah yang sungguh-sungguh dicari oleh universitas.
Jadi kalau seorang yang sangat mampu, yang sangat berhasil meritokrasi ini, nanti akan dicari oleh Universitas lain, ditawarkan gaji yang lebih tinggi. Di sini susah, karena kita pakai sistem PNS yang semuanya sama rata gitu. Kita harus memberikan market value kepada talent kita terutama di akademia.
Tentu saja banyak yang kita bisa ubah. Tapi kalau di swasta, ini sudah market value. Di akademia, di Indonesia, kita belum. Dan ini luar biasa, menjadi impediment kita untuk menghasilkan industri dan perekonomian berbasis sains dan teknologi.
Karena kalau kita tidak mempunyai market value terhadap talent kita, terhadap dosen-dosen kita... mereka tidak akan berlomba-lomba menghasilkan pemikiran dan inovasi yang paling baik.
Saya gampang saja. Kalau kita tanya, apakah kita punya startup industry yang berbasis teknologi di Indonesia. Tidak ada. Korea punya Samsung. China punya ya sudah tidak disebut lagi, punya banyak banget, Huawei. Tentu saja industri paling maju pada saat ini, paling masif dan banyak uang adalah industri AI, berbasis teknologi.
Semua itu berbasis riset. Kita tidak punya itu, atau masih sangat sedikit. Karena kita tidak punya riset yang kompetitif. Kenapa kita risetnya tidak kompetitif, bukan karena dosen-dosen kita tidak mampu, mereka sangat mampu. Tetapi mereka tidak punya insentif untuk menghasilkan yang paling kompetitif karena mereka bahkan untuk bisa dipindah dari satu universitas ke universitas lain itu pun sulit.
Jadi ekosistem... beberapa sudah saya mulai, insentif untuk melakukan riset yang terbaik. Insentif finansial kepada orangnya. Kemampuan ini sebagai di-market value. Jadi apa yang mereka kerjakan itu harusnya di-value oleh market dengan sekian. Kita harus bisa berani menginvestasikan, mendatangkan, atau memberikan gaji dan remunerasi yang setara dengan yang dihasilkan.
Secara gampang adalah kita belum menghasilkan sesuatu yang kompetisi berdasarkan kualitas di universitas kita.
Q: Jadi poinnya adalah memberikan apresiasi by market. Jadi setiap individu itu didorong untuk bisa menghasilkan riset berkualitas dengan insentif yang lebih baik gitu. Jadi itu misinya Prof Stella sekarang.
A: Ya itu misi saya. Udah satu yang sudah saya kerjakan. Saya berhasil mengubah, tentu saja dibantu oleh seluruh teman-teman di Kementerian, berhasil mengubah regulasi. Tadinya kita tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif finansial bagi dosen-dosen yang memenangkan riset grant funding dari Kementerian.
Sejak Januari tahun ini, itu sudah diubah dan teman-teman kita yang berhasil memenang riset grant, mereka mendapatkan insentif finansial langsung kepada dirinya. to the pocket
Q: Jadi sekarang dosen, penghasilannya mungkin harusnya lebih baik. Dosen yang berprestasi
A: Yes, dosen yang berprestasi. Ini mungkin saya mungkin bicara blak-blakan. Banyak keluhan, mungkin kemarin juga kita lihat ada di koran, berita di PTS Perguruan Tinggi Swasta bahwa gaji-gaji dosen ini miris ya. Yang akan saya bicarakan ini mungkin akan dapat banyak hujatan.
Tapi begini, saya sangat mengerti kemirisan ini. Tetapi, terus terang teman-teman, kita tidak bisa menyelesaikan kemirisan gaji ini hanya dengan menetapkan misalnya batas... oke, harus setidaknya sekian.
Karena, ini berarti kita lagi-lagi tidak memakai market value. Kita harus... perguruan tinggi kita harus berkompetisi. Dan gaji dan remunerasi itu harus berdasarkan kualitas dan kompetisi.
Jadi, bukannya saya tidak prihatin. Sangat prihatin. Tetapi yang kita ingin lakukan adalah bagaimana membentuk ekosistem agar remunerasinya itu lebih tinggi dan setara dengan kualitas yang dihasilkan.
Dan jangan sampai ada satu yang tidak pernah tersebut, tetapi saya ingin menyebutkannya. Di Indonesia ini, kita berpikir akademia, universitas, perguruan tinggi itu adalah suatu yang notabene-nya harus dikerjakan tanpa kompetisi. Jadi harus disediakan anggarannya, semuanya harus mendapatkan, terbagi-bagi. Dan tidak sama dengan persaingan industri, persaingan di swasta. Itu adalah suatu pemikiran yang menurut saya, sama sekali salah.
Kemajuan sains dan teknologi di semua negara itu karena kompetisi. Dan inilah yang harus kita akui. Dan kalau kita mau menjadi bangsa maju, kita harus bersama-sama untuk 'ayo, kita mau berkompetisi'. Jangan takut kompetisi. Dan jangan berharap dan jangan memikirkan bahwa karena itu di Perguruan Tinggi, tidak perlu kompetisi.
Hack COMPLETE! Hi everyone, it's me, Diana! I'll be posting here for a little bit! I'm so excited to learn about Earth from you all. Let's play together, okay?
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
📌Langsung aja, Ini struktur isi CV yang bener - bukan asal tulis jobdesc dan bukan asal ATS friendly, apalagi graphics CV pake Canva padahal non creative jobs.
Gue ambil langsung dari breakdown-nya Jonathan Javier (Wonsulting – ex Snapchat) yang tembus kerja di perusahaan top-tier.
👇 Guidancenya begini berdasarkan warna, CV yang bener itu terdiri atas:
🟥 Action Verb
🟧 Hard Skill
🟩 Impact Metrics
🟦 Impact Statement
🟨 Soft Skill (secukupnya)
Lanjut penjelasan tiap bagiannya nih gue reshare dengan bahasa sederhana 👇