Sumpah ya keracunan MBG ini beneran berita SETIAP HARI, amit-amit jangan sampe ini jadi hal yang normal, this isnโt normal at all. Nyawa rakyat BUKAN DATA.
Ga enak lah, enakan jadi uncle & aunty. Pas ponakan lagi lucu & kalem bisa diajak main & becandaan, kalau tiba-tiba bandel atau tantrum tinggal balikin ke ortunya.
Di Indonesia saat ini apa sih yg nggak dianggap sepele?
Puluhan ribu anak2 keracunan dianggap sepele.
Penanganan bencana dianggap sepele.
Kematian tragis rakyat kecil penjual cermin dianggap sepele.
Alat negara yg menyiram rakyat dgn air keras dianggap sepele.
Bermain2 pulpen dlm forum dgn kepala negara lain dianggap sepele.
Mendirikan ribuan koperasi tdk jelas arah tujuannya dan buang2 duit negara dianggap sepele.
Bertanya soal akuntabilitas keuangan negara dijawab dgn sepele "Pokoknya ada."
Apalagi cuma tenaga ahli staf kepresidenan yg percaya hoaks dan beropini ngawur?
Emang ada yang serius?
Thatโs true. Chemistry bisa dibangun, keseruan bisa diciptakan, interest bisa dipelajari. Tapi boundaries, values, moral compass, ethics, kalo ga sama bakal nambahin banyak pertanyaan dan keraguan, which leads you to less enjoy your relationship
ustadz adi hidayat mengajak taubat nasional:
- ajakannya introspeksi, refleksi
- dan istighfar atas semua yang terjadi belakangan ini
- katanya bisa jadi negara ini masih berdiri di tengah kebinasaan
- karena masih ada orang yang beristighfar di dalamnya
Ada yang janggal dari cara Presiden ngomongin alokasi anggaran negara kemarin.
โSaya dapat laporan SEA Games 1 miliar, ini Asian Games saya kasih 3 miliar.โ
Kata kuncinya ada di frasa โsaya kasihโ. Bukan โpemerintah mengalokasikan sesuai aturanโ, bukan โhasil kajian Kemenpora dan Kemenkeuโ, tapi โsaya kasihโ.
Di sini masalah etika publiknya.
Pertama, uang negara itu bukan milik pribadi.
Presiden bukan lagi pakai uang sendiri. Beliau lagi membelanjakan APBN di atas panggung seolah bagi-bagi amplop pribadi. Kebijakan miliaran rupiah dilempar gitu aja secara spontan: tanpa sebut sumber dana, tanpa kejelasan Perpres/Kepmen, dan tanpa batasan berapa medali yang dianggarkan. Kalau dapet 4 emas, total 12 miliar. Kalau tembus 10 emas? Siapa yang nanggung? Ya rakyat.
Kedua, meritokrasi main diterobos.
Bagian paling bikin geleng-geleng itu pas ngomongin karier: โsaya bisikin Kapolri, naikin pangkatlah, jangan pelitโ. Ini kaya pengakuan terbuka kalau kenaikan pangkat di TNI, Polri, atau PNS bisa diatur lewat bisikan. Aturan kepegawaian resmi cuma jadi pajangan. Kalau pangkat bisa naik cuma gara-gara "bisikan", besok-besok bisikan kaya gini bisa dipakai buat hal apa lagi? Ini bukan sekadar apresiasi atlet, tapi patronase.
Ketiga, gampang banget obral janji.
Bonus 3 miliar, naik pangkat, sampai jaminan masuk BUMN diomongin dalam satu napas. Sementara urusan birokrasi lain yang jauh lebih krusial malah sering lambat atau diabaikan.
Pola begini riskan banget: Prestasi dibeli pakai janji manis di depan kamera, tapi aturan dan tata kelola dikorbankan di belakang.
Menurut hemat kami, Ngehargain atlet itu wajib. Tapi cara menyampaikannya ngeliatin cara pikir yang bermasalah:
Negara dianggap kaya milik sendiri, aturan dianggap penghambat, dan etika pejabat publik dianggap opsional.
menko pangan, zulhas mengakui MBG program gagal
"kita akuin MBG gagal. anggaran besar, udh mau jalan 2 tahun, masalah ga berhenti termasuk yg terakhir (korupsi)"
"tapi MBG harus tetap dijalankan krn perintah konstitusi. orang miskin harus diurus oleh negara"