Gw waktu di IMM pas lagi pengkaderan dikasih tau tentang The Dead Cat Strategy
Ibarat kata begini para elit lagi rapat, dan mereka ketahuan bikin blunder yang parah misal rupiah ambles, kasus pesta babi atau bagi-bagi proyek lahan basah. Akhirnya publik yang tau mulai marah di SOSMED.
Terus, salah satu dari mereka tiba-tiba ngelempar kucing mati ke orang-orang yang protes itu. Reaksi semua orang pasti shock dan jijik kan, dan akan fokus ke kucing nya.
Nahh kembali ke topik. Lagu, meme, atau kelakuan konyol politisi kayak joget-joget lagu MBG yang viral itu adalah si kucing mati tersebut.
Selama netizen sibuk bikin meme, ngetawain, dan joget pakai lagu itu di TikTok, nggak ada lagi yang ngomongin isu substansial.
Kritik soal eksploitasi lahan atau kebijakan pro-oligarki lenyap ditelan fyp. Kalian kira kita lagi ngejek dia, padahal kita lagi ngebantu dia nutupin isu aslinya.
Tapi apa isu nya Buahlil yah? 💀 Maybe isu di sebelah nya kali. Kebetulan enakan pake Bahlil buat ngeledek wkwk
Pantes aja orang Indonesia banyak ilang arah. Semenjak awal masuk SMA udah ditanya mau masuk jurusan apa. Like....bjir gua masih kelas 10 broo. Iri banget sih sama negara yg punya pre university program. Tuhan kenapa aku WNI 😭
Wdyt. Penasaran ga, dari dulu naik TransJakarta (Tj), bayar segitu-segitu aja kan? Ternyata ada sesuatu yg orang-orang ga banyak tau. 🧵
Sejak 2004, tarif Tj cuma naik sekali yaitu di tahun 2005, dari Rp2.000 jadi Rp3.500. Setelah itu? Ngga naik sama sekali sampai sekarang setelah 21 tahun berjalan. Padahal harga keekonomiannya udah beda jauh.
Yang nutupin selisihnya siapa? APBD Jakarta. Total subsidinya 3,63 triliun di 2024 dimana yang menikmatinya bukan cuma warga Jakarta. Subsidi itu utk pengguna TJ termasuk warga dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Kita cukup bayar dengan harga tetap Rp3500, tapi liat harga normalnya berapa? Rp13.500/tiket. Jadi tiap pengguna Tj disubsidi sekitar Rp10 ribu/tiket oleh Pemprov Jakarta.
Mungkin, pertanyaannya bukan lagi, kenapa naik? tapi kok bisa segini lama ngga naik?
@txttransportasi
Kali ini setuju sm statement "blok m"-fikasi nya. Jujur muak y, rute exsisting blok m aja udh banyak bgt tapi lucunya yg diprioritasin pemerintah malah nambah rute Transjabodetabek dan blok m.
Meanwhile masih bnyk wilayah di Jakarta yg coverage transum ny jelek.
Udah paling bener Bodetabek gabung DKI jadi satu provinsi. Biar pajak orang Bodetabek masuk ke DKI juga dan DKI sediain transum buat Bodetabek dgn tarif terjangkau.
Tapi tentu Jabar dan Banten tidak suka karena Bodebek dan Tangerang Raya menyumbang pajak yg besar😁
Jangankan ngerapihin Transportasi, Bus yang diprovide sama Jakarta aja, halte proper sampe sekarang kgk disiapin, warga Jatiasih tiap hari ngantri panas panasan di trotoar.
🎥: https://t.co/AiemrME49N
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI Jakarta akan segera memutuskan penyesuaian tarif layanan bus TransJakarta lintas TransJabodetabek.
Ia menegaskan penyesuaian tarif diperlukan karena beban subsidi yang ditanggung Pemprov DKI Jakarta dinilai terlalu besar.
Keputusan berlaku untuk semua rute bus yang melayani Bogor, Depok, Tangerang, & Bekasi.
(https://t.co/hbNW1xrJv0)
Pembangunan kawasan SCBD mulai direncanakan pada tahun 1987-1992. SCBD dulunya merupakan kawasan kumuh yang berdiri di atas lahan seluas 45 hektar.
Pada buku peta Jakarta Street Atlas & Names Index 9th Edition 1992, terbitan FALK ciptaan Gunther W. Holtrof, tampak kawasan SCBD masih belum ada atau belum tergambar.
Karena pembangunan infrastruktur SCBD baru dimulai pada kisaran tahun 1992 setelah penyusunan masterplan selesai.
Jika dilihat pada peta juga tampak ada beberapa usulan rencana seperti Stasiun Permata Hijau & Jalan Bypass Simpruk (Simprug).
Di luar dari kesalahan rencana perjalanan yang dia lakukan.
Sebenarnya infrastruktur prasarana skytrain Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ini asal jadi.
Asal jadi hasil konstruksinya, piernya, girdernya, bangunan stasiunnya, terus rel betonnya juga tidak halus. Hasilnya juga kelihatan timpang, tidak selaras dengan bangunan bandara eksisting.
Bahkan transportasi yang digadang² dapat beroperasi secara driverless ini pun sampai sekarang masih dioperasikan secara manual.
Kok bisa orang yang dulunya core of the core agama, tiba-tiba pas masuk ring kekuasaan, fatwa nya malah sering clash sama arus bawah?
Lu pasti tahu Kerajaan Mataram Islam, kan? Kerajaan ini sering banget diagung-agungkan di sejarah.
Tapi, pas takhta turun ke Amangkurat I (sekitar tahun 1647), ada satu tragedi politik gila yang bikin orang membaca nya shock.
Yaitu pembantaian ribuan ulama di Alun-Alun Plered.
Bayangin aja, sekitar 5.000 sampai 6.000 ulama beserta keluarganya dibantai habis cuma dalam waktu kurang dari satu jam
Kenapa raja dari kerajaan Islam malah ngebantai tokoh agama?
Karena dalam berpolitik tokoh agama yang punya massa, pintar, dan independen itu merupakan ancaman terbesar buat kekuasaan.
Amangkurat I ngerasa posisinya goyah karena para santri dan ulama ini berani ngritik kebijakannya. Daripada pusing, dia pilih opsi delete permanen.
Nahhh di era modern, cara barbar kayak Amangkurat I itu udah nggak laku mana melanggar HAM dan malah bikin revolusi.
Terus gimana cara menjinakkan tokoh-tokoh agama atau intelektual radikal yang pinter-pinter ini? Jawabannya satu yaitu DIKOOPTASI.
Negara itu butuh legitimasi. Kalau ada kebijakan yang berpotensi nabrak norma agama, negara butuh sosok dari dalam lingkaran agama itu sendiri buat jadi juru bicaranya.
Kalau politisi biasa yang ngomong, pasti diamuk massa. Tapi kalau yang ngomong adalah tokoh yang basic bahasa Arabnya jago, mantan rektor, dan santri tulen? Publik dan netizen bakal mikir dua kali, atau minimal bingung mau nyerang argumennya pakai apa.
Elu tau Lembaga Eijkman kan? Itu lembaga riset biologi molekuler di Jakarta.
Dari zaman Belanda, Christiaan Eijkman nemuin penyebab penyakit beri-beri (Kekurangan Vitamin B1) di lembaga ini, yang bikin dia bisa dapet hadiah Nobel loh.
Lembaga ini survive melewati masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, sampai garda terdepan pas pandemi COVID-19.
Tapi, usianya yang udah lebih dari seabad harus tamat di era modern cuma gara-gara sentralisasi politik birokrasi.
Saat BRIN dibentuk, Eijkman dilebur. Ratusan tenaga riset dan asisten peneliti yang nggak berstatus PNS diberhentikan dan budaya riset independen mereka hancur lebur disuruh ngikutin alur birokrasi kaku ala aparatur negara.
Pas 2022 namanya resmi dilucuti dari "Lembaga Biologi Molekuler Eijkman" dan diturunkan statusnya sekadar jadi PRBM Eijkman (Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman) di bawah payung besar BRIN.
Ribut-ribut soal gengsi SCBD gini, gw mau nambahin funfact aja nih :
SCBD itu awalnya kawasan kumuh tengah kota, dibangun pake cara KKN ala orde baru
> awalnya mau dinamain KNTS (Kawasan Niaga Terpadu Sudirman)
> salah satu pencetus SCBD itu orang yg kental dengan orde baru
> Tomy Winata. Bro 9 naga ini deket bgt sama lingkaran orde baru dan militer
SCBD dibangun gak pake tender ke publik. Langsung aja dikasih ke perusahaan si Tomy Winata
> kerjasama bareng yayasan punya TNI AD
> gedung pertama selese dibangun 1995
> gedung Artha Graha
> nama perusahaan Tomy Winata
> baru lah habis itu apartemen, hotel, perusahaan elit pada masuk
> baru rampung di 2007
Nah, poin menariknya. Indonesia ini bisa kok ngubah kawasan kumuh jadi kawasan elit dan modern. Cuma butuh butuh political will dan orang dalam yang tepat. Pertanyaannya siapa yang dapet akses itu sekarang?