Bisa ngerjain kerjaan rumah, kaya beberes, nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, juga masak itu basic life skills, bukan gender based skills.
Jadi kalo manusia udah dewasa, tapi ga bisa ngerjain kerjaan rumah, ya itungannya manusia inkompeten atau disfungsional.
Ngeri ya replynya, if A then not B. Padahal dalam kasus ini, if A, then B also possible.
Balik lagi ke dinamika. Memang akan less ideal kalo keduanya kerja (suami-istri), karena akan ada anggapan “semuanya sudah berhadapan dengan kejamnya dunia di luar rumah”.
Maka, jika keduanya bekerja, jika memungkinkan, delegasikan. Cuci baju, bersihin rumah cuci pirinh, cari ART harian atau infal (adhoc).
Jika ga memungkinkan, maka sepakati “level of compromise apa”. Misal, hari kerja rumah berantakan ya wes, wiken beresin bareng2.
Compromise itu lebih sering sama-sama ga enak, bukan sama sama enak. Yg “affordable compromise” itu apa di rumah tangga itu.
Kl salah 1 di rumah, dan menghadapi anak, iya ada perannya masing-masing, lebih kurangnya masing-masing. Tapi inget, itu adalah PILIHAN bersama (ya kalo bersama ya, bukan terpaksa). Artinya, akan ada “role dedicated” yg gabisa di “delegasi” ke pasangan.
Solusinya? Acceptance.
Masing-masing ya ada capenya.
Yg adil?
Masing2 dapet momen bego planga plongonya, baik si istri/suami.
Momen plangaplongo universal: pulang kerja.
Artinya: MAKAN WES BELI AJA.
tapi kalo salah 1 aja yg kerja, yaudah, diskusikan. Jatah planga plongo nya momentumnya gimana. Bukan transaksiomal, tapi samakan ekspektasi.
Kenapa sih jika guru dan dosen meminta hak kesejahteraannya sepertinya berat sekali dipenuhi?
Ada saja alasan pembenaran dan penolakannya. Mulai dari alasan ‘moral’ hingga anggaran.
Saya tidak berbicara pada level guru atau dosen yg berstatus ASN saja. Swasta pun demikian.
Saya pernah mengantarkan seorang Guru Besar Fakultas Hukum senior di salah satu universitas swasta besar mahasiswanya ribuan (bahkan puluhan ribu), ketika terbaring sakit, bahkan institusi kampusnya tidak memfasilitasinya dengan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
Kalau mau tau gak adilnya gaji dosen
Jadi gini, gaji dosen itu: Gaji Pokok + A + B + C + D + ...
Jangan tanya ke dosen yang sedang pegang jabatan atau di tengah karir. Mereka mah A, B, C, D-nya banyak.
Masalahnya: A, B, C, D-nya ini:
1) Gak didapat dengan mudah
2) Bisa hilang
3) Gak aksesibel ke semua orang
Tanya ke 2 kelompok: dosen muda dan dosen yang mau pensiun.
***
Tanya ke dosen muda. Yang baru masuk. Yang dapetnya Gaji Pokok doang. A, B, C, D, ... -nya belum ada.
Yang baru nikah, baru punya anak, baru bayar anak sekolah. Yang baru masih punya master, belum punya doktor.
Mereka masih harus nyiapin biaya lahiran, ngerawat anak, uang masuk TK, bayar sekolah SD.
Masih harus nyiapin uang buat tugas belajar buat dapet S3. Beasiswa cari sendiri. TOEFL dan TPA bayar sendiri.
Tunjangan belum ada. Jabatan fungsional pertama ngurusnya bisa tahunan. Kalau dapet tunjangan Asisten Ahli masih 375 ribu.
Sertifikasi dosen belum bisa. Harus Asisten Ahli dulu. Itu pun harus 2 tahun setelah memenuhi BKD. Masih harus bayar training Pekerti/AA pake duit pribadi dulu.
Insentif publikasi? Duit publikasi dari mana? Risetnya dibayarin siapa? Waktunya kapan kalau buat bertahan hidup aja susah.
Proposal riset? Minimal harus udah Lektor biasanya. Biar bisa riset harus lektor. Biar bisa lektor harus riset.
Jabatan di kampus? Mesti berpolitik, ngemeng sana, ngemeng sini.
Semua A, B, C, D itu belum ada.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen muda yang menerima gaji pokok doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
***
Kelompok kedua: dosen yang sudah sangat senior.
Di mana A, B, C, D - ... nya sudah tidak kepegang lagi.
Jabatan sudah kena regenerasi ke yang lebih muda. Hilang tunjangan jabatan struktural.
Kondisi kesehatan sudah jauh menurun. Mesti pasang cincin jantung, mesti rutin cuci darah, mesti dirawat di rumah sakit. Keluar biaya banyak.
Banyak dosen senior yang sampai minta donasi ke koleganya, untuk perawatan.
Mau publikasi juga udah gak kuat. Ilmu yang dipelajari udah gak lagi update. Mau belajar lagi udah gak sehat. Insentif publikasi udah gak masuk lagi.
Mau proyekan juga kondisi udah gak memungkinkan. Bolak-balik Jakarta ke kota kampusnya udah gak kuat lagi. Kalau dipaksain memperburuk kondisi kesehatan.
Tabungan udah dipakai buat hidup, nyekolahin anak, nguliahin anak, yang jumlahnya lebih dari satu. Tiap anak biaya sekolah makin naik, UKT terus naik.
Tinggal gaji pokok doang, paling sama sertifikasi. Dengan UMR yang terus naik, paling juga udah di bawah UMR setahun dua tahun lagi.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen senior menerima gaji pokok + sertifikasi doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
i lost my little spark.
udah nyoba buat main ke tempat terbuka, doing things i love the most, olahraga, ngopi, ngejurnal, baca buku, dan lainnya. tapi tetap aja kayak "lelah" dan berujung beberapa hari ini kayak cuma doomscrolling ga kelar-kelar
Level insecurenya perempuan itu ketika slalu menghindar bila dideketin, bukan karena sok cantik, u never know how feel, ketika harus sadar diri duluan sebelum menerima kaya; "aku ga-secantik itu dan se-worth it itu buat dimiliki"
Been there too. Pas aku jawab "soalnya temen-temenku lebih paham perasaanku"
ortuku nge-gaslight "kalo terjadi apa-apa nanti yg nolong kamu itu ortu, bukan temenmu" 😃
Intinya, kalo ga di-gaslight, ya diadu nasib.
*sending virtual hug ke semua anak yg mengalami hal serupa 🫂💖
hubungan yang sehat itu yang SALING mengusahakan
jadi, gw "kurang" setuju ke kata "if he want he would"
mungkin lebih spesifik ke
"if you respect me, with all of my effort, ill respect u more"
Kalau kamu menyesal karena "terlalu effort & terlalu kecintaan" did you actually love them atau kamu cuma mengharapkan timbal balik? Thinking love as transaction?
Ibarat ngasih seseorang kado with ulterior motives. Ada maunya
seporsi kemenangan
orang tua yang gak pernah buru-buruin anaknya buat nikah, orang tua yang gak pernah kasih tekanan soal kerjaan ke anaknya, dan orang tua yang selalu dukung apa pun keinginan anaknya selama itu baik.
Gua percaya banget:
Ketika kita berpasangan dengan orang yang tepat, banyak aspek dalam hidup ikut membaik. Kita jadi lebih sehat, lebih tenang, mood lebih baik bahkan pintu rezeki pun ikut membaik. Begitu pun sebaliknya.