Captured in the behind, every second of the photoshoot felt like a small journey toward the perfect result. From the way the light touched the skin, the direction of the gaze, to the breath caught by the lens. Then the image was developed, becoming something not only seen but also felt.
Aku mulai mencatat setiap nada dan arah yang kutemukan. Polanya tidak acak. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini, sebuah pesan.
Dan sekarang aku berdiri di persimpangan jalan menuju pegunungan, menggenggam seruling itu erat.
Jika aku mengikuti petunjuk ini... mungkin aku akan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui manusia.
Tapi jika aku berhenti sekarang, aku mungkin tidak akan pernah tahu kenapa seruling ini memilihku.
Sejak saat itu, setiap kali aku meniup seruling itu, nadanya berubah, dan selalu diikuti dengan arah yang berbeda. Kadang ke hutan, kadang ke lereng gunung. Seolah-olah seruling ini sedang mencoba membimbingku ke suatu tempat.
Aku masih ingat jelas sore itu. Kabut tipis menggantung di atas sungai yang mengalir pelan di pinggir desa. Namaku Liam, dan aku tidak pernah percaya pada hal-hal anehโฆ sampai hari itu.
Aku meniupnya.
Nada yang keluar bukan sekadar suara. Itu seperti gema, bergetar di udara, lalu menghilang ke arah pegunungan. Dan anehnya, setelah nada itu berhenti, aku mendengar sesuatu.
Bukan suara manusia. Lebih sepertiโฆ bisikan.
Di antara bebatuan basah, aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana, sebuah seruling bambu tua, usianya jelas sudah sangat lama. Permukaannya dipenuhi ukiran yang tidak kukenal. Awalnya kupikir hanya benda hanyut biasa, tapi entah kenapa, aku merasaโฆ dipanggil.