Life events that hit a man the hardest:
1. Losing his mother.
2. Losing a child.
3. Losing his father.
4. Losing his wife.
5. Experiencing his first heartbreak.
6. Watching his daughter get married.
7. Going through a period of being broke.
8. Experiencing his first major success.
9. Being betrayed by a close friend.
10.Realizing that nobody is coming to save him.
What would you add?
Ternyata suami itu paling senang
dan bahagia jika istrinya
seperti ini,,
Sering ngajak HB tanpa
di minta duluan,,
Suka memeluk dan mencium .
suami tanpa di minta
Sering bermanja mesra serasa
masih pacaran
Rutin memanjakan suami tanpa
bv54n4 dan tanpa di minta,,
Adakah istri seperti ini, sungguh
suami akan bahagia,,
Sekarang aku udah nikah, tapi tetep gabisa berhenti jd selingkuhan pejabat. Uang bulanannya lebih dr yg dia kasih ke istri, kalo lagi berantem entotannya kasar banget, memek dibikin teler sama kontolnya. Pokoknya badan aku punya dia, bukan suamiku
Dulu, sebelum nikah, aku punya pacar. Kami putus baik-baik.
Nggak ada orang ketiga. Nggak ada drama. Dia cuma bilang satu kalimat.
"Kita orang yang tepat, tapi waktunya belum."
Aku angguk. Aku percaya. Aku pulang dengan dada sesak.
Bertahun-tahun aku bawa kalimat itu. Setiap ada yang nanya kenapa putus,
aku ulang kalimat yang sama. "Kita tepat, cuma waktunya belum."
Kedengarannya dewasa. Kedengarannya damai.
Kayak kami korban takdir, bukan pelaku pilihan. Tapi makin ke sini, kalimat itu makin aneh.
Karena kalau aku perhatiin, "waktu yang belum" itu nggak pernah datang pas dia lagi sendiri.
Dia muncul pas ada hal lain yang lebih dia perjuangkan. Karier. Keluarga. Kebebasan.
Dan aku, nomor sekian. Aku nggak mau percaya itu.
Tapi lambat laun, aku mulai sadar.
Aku lihat dia 3 tahun kemudian. Dari foto teman.
Dia nikah. Bahagia.
Aku lihat tanggalnya. Setahun setelah kami putus.
Aku mikir, "Waktunya belum? Tapi setahun kemudian waktunya pas?" Aku nggak bisa jawab.
Dadaku sesak lagi. Tapi kali ini beda.
Aku nggak bilang dia salah milih. Semua orang berhak milih hidupnya.
Tapi aku baru paham. "Right person, wrong time" itu bukan penjelasan.
Itu pembungkus. Biar keputusan ninggalin seseorang kedengarannya kayak takdir.
Bukan pilihan.
Dan itu yang paling nyakitin.
Malam itu aku cerita ke istriku. Bukan karena aku masih sayang sama mantan.
Tapi karena aku baru paham. Aku bilang, "Dulu aku percaya banget sama kalimat itu."
Istriku diem. Lalu dia jawab. "Kalau kamu masih percaya sampai sekarang, kita nggak akan pernah nikah, Mas."
Aku kaget.
Istriku lanjut.
"Dulu kita pacaran, kamu nggak punya uang. Aku nggak punya uang. Waktu itu susah." "Tapi kita nggak pernah bilang 'waktunya belum.'" "Kita bilang 'kita cari jalan.'" "Dan kita jalan sampai sekarang."
Aku nelen ludah. Dia bener.
Aku baru sadar. Orang yang beneran nganggap kita tepat,
nggak nunggu waktu yang benar. Dia bikin waktunya.
Dia nggak nyari musim.
Dia nyari cara. Dan kalau dia pergi sambil bilang "waktunya belum,"
sebenarnya dia lagi bilang, "aku milih yang lain."
Sekarang aku udah nikah.
Punya anak. Dan aku bersyukur istriku bukan tipe yang nunggu waktu.
Karena kalau dia nunggu waktu yang pas, kami nggak akan pernah mulai.
Kami akan terus nunggu. Dan nunggu itu nggak pernah berakhir.
Coba jujur di komentar. Pernah nggak kamu dikasih alasan "waktunya belum"?
Atau kamu sendiri yang ngasih alasan itu ke orang lain? Sekarang setelah baca ini,
apa kamu masih percaya? Atau kamu mulai sadar kalau itu cuma pembungkus?
Menurut kalian, “right person, wrong time” itu beneran ada, atau cuma cara halus untuk bilang bahwa seseorang memang nggak memilih kita?