@sarfazee Ga enaknya punya penyakit jiwa gitu, kak, yang ga pernah mengalami ya ga akan (dan biasanya ga mau) ngerti apa yg kita hadapi. Makanya sampai saat ini aku nggak kasih tahu siapapun selain nakes jiwa & 1 orang yg beneran bisa dipercaya.
@yappingfess Nder, I don't know if this works, tpi cb jd orang sibuk yg sibuknya brmanfaat. Kalo bs saking sibuknya mpe kamu g peduli omongan orang yg nyakitin krn dah g ada waktu. Even better kalo dri situ itu kamu bs mandiri & cepetan pindah ke kos. Peluk jauh, nder,
Menarik, izin aku jelaskan gimana cara kita sebagai orang yg memutuskan menemani penderita depresi. Karena membersamai penderita depresi emang butuh strategi.
Bukan berarti kita harus ninggalin dia. Tapi juga bukan berarti kita harus selalu available 24/7.
@yappingfess Buset dah, dosennya dekan & lagi S3 juga? Kombo maut itu 😭😭😭
Sebetulnya kamu ga salah nder, tapi mengingat kondisi jadwal beliau kurang menentu, tetap jaga sopan santun, kalau WA pake tanda baca yg bener & jangan bertele-tele. Semoga cepet lulus nder 💪🏽
@yappingbase Hemmm kalau aktivitas udah keganggu mungkin udah butuh bantuan profesional, nder. Serius. Coba ke psikolog. Cuma setahu aku blm dijamin BPJS, yang dijamin itu kalau udah ke psikiater. Kalau kampusmu ada layanan kesehatan mental gratis manfaatin aja nder.
Project Based Learning (PjBL) sering disalahpahami sebagai pembelajaran yang “menghasilkan produk”. Karena itu, begitu murid diminta membuat poster, video, aplikasi, maket, atau presentasi, kegiatan tersebut langsung disebut sebagai PjBL. Padahal, adanya proyek tidak otomatis menjadikan suatu pembelajaran sebagai Project Based Learning.
PjBL seharusnya berangkat dari masalah, pertanyaan, atau tantangan yang bermakna dan cukup kompleks sehingga murid perlu menggunakan pengetahuan untuk menyelidiki, mengambil keputusan, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi. Produk hanyalah representasi dari proses berpikir tersebut, bukan tujuan utamanya. Jika sejak awal guru sudah menentukan secara rinci apa yang harus dibuat, bahan yang harus digunakan, langkah-langkah yang harus dilakukan, dan bentuk hasil akhirnya, maka murid sebenarnya tidak sedang melakukan problem solving, akan tetapi mereka hanya mengeksekusi prosedur yang telah dirancang oleh guru.
Masalah lainnya adalah PjBL sering diberikan sebelum murid memiliki pengetahuan prasyarat yang memadai. Murid diminta “menemukan sendiri” solusi terhadap masalah yang bahkan belum mereka pahami konsep dasarnya. Akibatnya, kapasitas kognitif mereka justru habis untuk mencari informasi, memahami instruksi, dan menebak apa yang diinginkan guru. Dalam kondisi seperti ini, murid yang sudah memiliki pengetahuan awal biasanya dapat bergerak lebih jauh, sementara murid yang pengetahuan awalnya lemah cenderung hanya meniru teman, mencari contoh di internet, atau mengikuti template.
Karena itu, PjBL bukanlah pengganti pengajaran pengetahuan. Pembelajaran eksplisit, latihan, contoh, dan scaffolding tetap diperlukan sebelum dan selama proyek berlangsung. Semakin sedikit pengetahuan yang dimiliki murid tentang suatu bidang, semakin banyak struktur dan dukungan yang perlu diberikan guru.
Dengan demikian, pertanyaan penting ketika merancang PjBL bukan hanya, “Produk apa yang akan dibuat murid?”, tetapi: “Masalah apa yang harus mereka pecahkan, pengetahuan apa yang harus mereka miliki untuk dapat memecahkannya, dan keputusan intelektual apa yang benar-benar harus dibuat oleh murid sendiri?”
Tanpa tiga hal tersebut, Project Based Learning justru akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu "proyek mengikuti instruksi".
@bbarbieie Bisa jadi kalau kezaliman yang diterima beliau sangat besar sampai mengambil jalan pintas, malah itu jadi sebab beliau selamat dari hukuman karena dapet transferan pahala orang zalim atau bahkan dosa b**dir nya ditransfer ke orang zalim yg menyebabkan itu.
@bbarbieie Kapan mati itu takdir, jadi misal beliau ga jadi, bisa aja tiba-tiba terdorong.
Tapi kalau dihukum atau nggak, itu sudah urusan Allah. Orang cuma tahu ancamannya aja, tapi lupa kalau kezaliman sekecil apapun akan diadili. Ga mungkin kan orang tiba-tiba pengen b**dir tanpa sebab?
KENAPA TREN VIRAL DI MEDIA SOSIAL JUSTRU BISA JADI MAKANAN EMPUK BUAT PELAKU KEJAHATAN DIGITAL?
padahal kita nggak pernah sekalipun upload KTP, NIK, password, ataupun OTP.
jadi data pribadi yang bocor itu datang dari mana?
yuk simak secara menyeluruh.....
[A THREAD BASED ON STUDY CASE]
@ikhwanuddin Hmmm... Jadi keinget kasus konferens beberapa waktu lalu, jalan-jalan ke LN pake travel grant tapi penelitiannya ga tahu kapan (saking sibuknya konferens)
@Puspen_PKI Dunia pendidikan udah duluan. Nilai anak-anak jadi salah satu penilaian akreditasi. Akibatnya apa? Guru dipaksa ngasih nilai KKM walaupun si anak ga berhak. Buktinya berita anak SMA ga lancar baca tulis. Itu kalau jaman dulu kan nggak mungkin lulus SD. Sekarang? YNTKTS