Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Aku ada ide.. gimana kalau..
Main film lah kalian bertiga. Tentang arsitek muda yang belum mampu KPR rumah sendiri karena keluarganya benalu semua, akhirnya sering diremehin tante tiap lebaran sama keluarga besar.
Tunggu Aku Punya 1 Cluster 7 Perumahan Yang Sweet Tanpa Loan.
Sependek pengalaman saya, film adalah salah satu produk yang paling ga bisa “dibohongin” pakai trik marketing. Alasan utamanya: segala hal yang diklaim di marketingnya akan langsung terbukti dalam waktu 2 jam. Instan. Dan saat penonton kecewa, mereka bukan hanya tak merekomendasikan film tsb ke orang lain, bahkan bisa melarang untuk menonton karena tak ingin waktu orang terbuang. Ya, kata kuncinya memang waktu. Nonton film itu effortnya besar. Selain uang, waktu adalah pengorbanan paling berharga yang dibutuhkan untuk menonton sebuah film di bioskop.
Ngeliat cardiologist diceramahin tentang Gerd and Jantung sama netizen yang ga punya background medical harusnya bikin kita sadar kalo pendidikan gratis itu jauhhhhhhhhh lebih penting daripada makan gratis…
Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004) is where the series grows up. Alfonso Cuarón brings real mood, shadows, time, guilt, and consequence. The magic feels dangerous, the world feels alive, and suddenly these movies have a soul.
The Duffer Brothers say that Volume 2 of ‘STRANGER THINGS’ Season 5 will fully explain all mysteries about The Upside Down.
“This is something that has been planned for 10 years now, and it just now, obviously is the time to reveal it”
3 DAYS!!
Video live report di Aceh dr CNN ini diturunkan? Cek sj ig kita bisa atau relawan/donatir lain atau live aljazeera. 😊
Cth dari andien:
(((Lanjut cari desa selanjutnya)))
(((...yaAllah ini beneran nggak ada akses dari manapun..)))
(((..tidak bisa landing...hovering rendah)))
Aceh jelas butuh tim gab dr luar (evakuasi/nakes/konseling) & logistik lbh byk dr wil lain.
Jml pengungsi di aceh > 550 RIBU++ org.
Jgn lupakan, pasti byk kel prajurit TNI/polri & nakes lokal yg jg terdampak.
Sy pcy mereka tetap ikut bertugas dlm tim gab.
https://t.co/gI2HHjYzXU
Dear @CNNIndonesia. Ketika kemarin wartawan kalian dicabut kartu liputan istananya, kami bersuara mengecam pembredelan yg merampas kebebasan pers.
Sekarang, kalian sendiri yg membredel karya jurnalistik wartawan kalian?
Self-censorship is the worst form of censorship!
HBO isn’t making decision based off the imagination you have in your mind. You’ll / we’ll always have Alan Rickman’s Snape. 💙
SNAPES CHARACTER & STORY HAS NOTHING TO DO WITH BEING WHITE, BROWN, or BLACK.
He is only described as “sallow”. Sickly skin tone, that can be achieved still.
Everything involving Lily, Harry, James and the ACTUAL IMPORTANT stuff to his character do not have to change. He still can be madly in love with Lily & make crucial life changing decisions based on that love & feeling of betrayal.
Shouldn’t have to explain to “Harry potter universe” this concept. How are you so in love with the books / universe and continue to push this & ignore the themes of love and acceptance of others the book focuses on. Ridiculous. Imagine Harry, Ron or Hermione boycotting something over someone’s skin color LOL they spend their time fighting against stuff like this.
I think it is very clear that production on the Harry Potter TV series has started.
Unfortunately, that would likely mean that HBO is sticking with Paapa Essiedu as Severus Snape. He does not resemble Snape at all, which is a massive problem considering how important Snape’s role in the story is. Essiedu is a great actor, and I wish he would’ve been cast in a different role.
Every other actor cast in the series closely resembles their character that J.K. Rowling described in the books EXCEPT Snape. Why is that? Why did HBO decide to completely change the look of Snape, and no other characters? Some answers would be nice.
This TV show will span 8-10 years and the character of Snape, in my mind, will essentially be absent from the story. I will not be able to convince myself that Essiedu is Snape because there is zero resemblance. You can’t tell the story without Snape, but I guess that’s the route HBO has chosen to take. A big mistake.
What a massive disappointment.
Asyik, banyak pejabat sedang dibongkar aibnya. Tetap serukan #CabutUUTNI#TolakRUUPolri#TolakRUUKejaksaan
Kelihatan banget mereka gak kompak. Membuang teman sendiri, lho! 😝
Kita tidak sama. Rakyat tak boleh kalah!
Rakyat bersatu, tidak dapat dikalahkan!