Rohingya dari Myanmar. Jika lihat rupa, mereka mirip Bangladesh tapi Bangladesh juga tidak mengaku itu rakyat mereka. Sekarang mereka berkampung di Malaysia.
Yang terbaik ialah seluruh negara harus tekan UN untuk paksa Myanmar terima Rohingya.
Tapi itu lah, UN pun tak guna.
@meinmokhtar Kehadiran mereka ke negara kita lebih banyak mendatangkan kerosakan.
Jutaan duit cukai digunakan untuk melangsaikan bil2 hospital mereka.
Saya ulang, duit cukai yang dibayar oleh T20 kebanyakannya.
Jgn ingat tunggakan ni dilupuskan begitu saja. Hasil cukai yang menampungnya.
This Marie Claire Women of the Year award winner is a Rohingya activist
she sharply criticised and condemned Malaysia, a country that has hosted the largest number of Rohingya refugees in the region and borne huge costs
yet not a single word about Myanmar, where the genocide against her people actually took place
it appears she hates Malaysia more than she hates Myanmar
Kepada Noor Azizah,
Mengapa menyalahkan negara yang memberi perlindungan, membuka ruang untuk hidup dan menerima komuniti anda atas dasar belas ihsan?
Rakyat negara ini telah menyumbang bantuan bernilai besar dan memberi peluang untuk meneruskan kehidupan dengan lebih selamat.
Dari sudut undang-undang, kehadiran tanpa dokumen tetap menjadi isu, namun layanan yang diberikan jauh berbeza berbanding apa yang didakwa berlaku di negara asal.
Persoalannya, adakah wajar negara yang membantu pula dijadikan sasaran kritikan?
Belas ihsan tidak sepatutnya dibalas dengan permusuhan, dan penghargaan tidak sepatutnya dilupakan.
So here’s the gist
The whole thing is a messy fanwar between some Korean netizens and Southeast Asians and it escalated FAST.
It started in Malaysia at a K-pop concert. Korean fans brought big professional cameras that broke venue rules. Malaysian staff enforced the rules and some Korean fans reacted badly then racist comments toward Malaysians/SEA people started flying.
Some Korean netizens then told SEA fans to stop listening to K-pop and stick to their “own music,” basically implying SEA doesn’t belong in K-pop spaces.
Indonesians clapped back by promoting No Na an upcoming Indonesian girl group saying “we have our own pop now, we don’t need K-pop validation.”
Korean netizens mocked No Na’s music videos, calling them cheap, poor, and uncultured.
Filipinos and Thais jumped in to defend No Na and SEA pop in general, turning it into a full “SEA solidarity” moment.
Koreans then accused SEA people of being insecure and “siding with colonizers”.
Vietnamese users responded by bringing up Korea’s war crimes in Vietnam, calling out the hypocrisy and superiority complex.
Some Korean netizens even dragged India and Pakistan into it with racist stereotypes, making things worse.
SEAblings vs SOKOR SUMMARY:
• at first, it was 🇲🇾malaysia vs 🇰🇷south korea. the reason? big cameras at the concert.
• k-netz criticized the rice quality in SEA.
• 🇹🇭thais, 🇮🇩indo, 🇻🇳viets, and 🇵🇭filos went on to argue about plastic surgeries to english proficiency level.😭
Ubah rutin tahun 2025 ;
Tidur awal, solat 5 waktu, baca Al-Quran, kurangkan handphone, fokus belajar, elak maksiat, baca kitab hadis, cari hubungan halal, buat baik sesama manusia, elak negatif, dan buat hidup jadi hebat. InsyaAllah!