PKI selalu dimitoskan anti tuhan, padahal Tan Malaka sejak kecil hafal alquran, Aidit juga muslim taat dan pernah jadi muazin, Haji Misbach seorang mubaligh, dsb dsb.
Sementara presidenmu:
Bahas sedikit panjang kali ya
Sebenernya di level elit, istirahat terlalu lama itu punya konsekuensi. Karena sering ada perbedaan besar antara physical fitness dan match fitness.
Contohnya tadi Scaloni parkir 9 pemain starter dia. Tapi Messi tetap main di menit 60an. Artinya menit bermainnya di kelola, bukan dihilangkan sama sekali.
Dalam sport science, ada konsep bernama SAID Principle (Specific Adaption Imposed Demand). Artinya, tubuh akan beradaptasi terhadap tuntutan yang benar-benar diterimanya. Makanya latihan tidak bisa menggantikan pertandingan.
Di pertandingan, pemain harus melakukan beberapa hal yang hampir mustahil dilakukan di latihan.
Scanning dibawah tekanan, keputusan sepersekian detik, duel fisik dan tekanan psikologis. Semua itu membentuk match sharpness.
Karena itu, banyak pelatih tetap memainkan pemain terbaiknya walau hanya 20-30 menit daripada mengistirahatkannya.
Tujuannya bukan statistik belaka. Namun timing, ritme permainan, neuromuscular readiness dan decision making.
Penurunan performa setelah jeda yang panjang biasanya sistem saraf akan kehilangan ritme permainan.
Dalam sport physiotherapist, disebut sebagai return to performance bukan sekedar return to play.
Itulah mengapa, pemain yang baru sembuh dari cedera akan diberikan menit bermain singkat 10-30 menit.
Bukan karena dia tidak terlalu kuat, tapi tubuh perlu beradaptasi lagi dengan ritme permainan.
Karena di level elit, match sharpness bisa menjadi pembeda antara juara dan tidak.
Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
Saya duduk2 di depan bangunan yg dulu satu2nya gereja di kecamatan ini,mengenang momen di pekerjaan sebelumnya saya sering mengantar paket majalah rohani di Gereja ini.
Kenapa orang-orang malah berpusat pada orientasi seksual Teddy?
Ini, kan, terlalu spekulatif, gak ada buktinya juga, dan andai benar pun tidak ada hubungannya dengan kelayakannya memegang jabatan publik.
Mungkin ini bukan opini populer, ya, tapi saya tidak begitu peduli dengan hal itu.
Karena sebenarnya ada banyak hal yang perlu diperhatikan dari Teddy:
Pertama, jabatan Seskab itu secara hukum nyaris kosong. Menurut @grok (setelah saya tanya), berdasarkan Perpres Nomor 148 Tahun 2024, tidak ada satu pasal pun yang mengatur tugas, fungsi, dan wewenang Sekretaris Kabinet.
Jabatannya diakui, tapi mandatnya tidak diatur. Namun, masalahnya...
Kedua, posisi Teddy cuma eselon II.a, alias setara direktur (dulu Seskab setingkat menteri, lalu diturunkan supaya Teddy tidak perlu pensiun dari militer).
Tapi praktiknya, tanggal 30 Mei 2026, Gus Ipul datang "menghadap" dan menunggu di kantor Seskab. Seorang menteri yang seharusnya lapor langsung ke Presiden malah datang dan duduk menunggu di kantor eselon II.
Kan, kocak.
Ketiga, Teddy itu perwira TNI aktif (tolong koreksi jika keliru, @grok). Ini kan jelas melanggar UU TNI karena menduduki jabatan sipil di luar lembaga yang diizinkan.
Ketika dulu dwifungsi dilucuti Gus Dur, sekarang dwifungsi itu muncul kembali lewat pintu belakang, bahkan sebagiannya terang-terangan.
Tapi rangorang malah fokus sama buntad-bunted.
Ya Rabb...
IQ, EQ, dan SQ adalah tiga aspek yang berbeda dari kemampuan manusia. Ketiganya bisa dilatih, meskipun dengan cara yang berbeda.
1. Melatih IQ (Intelligence Quotient)
IQ berkaitan dengan kemampuan berpikir logis, analitis, memahami pola, dan memecahkan masalah.
Cara melatih:
Membaca buku yang menantang pemikiran (sains, filsafat, sejarah, ekonomi).
Belajar bahasa baru.
Bermain catur, sudoku, teka-teki logika.
Mempelajari matematika dan statistik dasar.
Melatih kemampuan berpikir kritis dengan mempertanyakan asumsi dan mencari bukti.
Menulis ringkasan atau analisis dari apa yang dipelajari.
Contoh latihan harian:
30 menit membaca buku nonfiksi.
15 menit mengerjakan teka-teki logika.
Belajar satu konsep baru setiap hari.
---
2. Melatih EQ (Emotional Quotient)
EQ adalah kemampuan memahami, mengelola, dan merespons emosi diri sendiri maupun orang lain.
Cara melatih:
Mengenali emosi yang sedang dirasakan dan penyebabnya.
Mendengarkan orang lain tanpa langsung menghakimi.
Belajar mengendalikan impuls saat marah atau tersinggung.
Memahami sudut pandang orang lain meskipun tidak setuju.
Meminta umpan balik dari orang terdekat tentang perilaku kita.
Melatih komunikasi yang jelas dan asertif.
Contoh latihan harian:
Menulis jurnal emosi selama 5 menit.
Saat ada konflik, tanyakan:
Apa yang saya rasakan?
Kenapa saya merasakannya?
Apa yang sebenarnya ingin saya capai?
---
3. Melatih SQ (Spiritual Quotient)
SQ berkaitan dengan makna hidup, nilai-nilai, integritas, dan kemampuan melihat sesuatu secara lebih mendalam.
Cara melatih:
Melakukan refleksi diri secara rutin.
Meditasi, doa, atau kontemplasi sesuai keyakinan masing-masing.
Membaca filsafat, etika, atau literatur spiritual.
Memikirkan pertanyaan besar seperti:
Apa tujuan hidup saya?
Nilai apa yang ingin saya pegang?
Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?
Melakukan tindakan yang selaras dengan nilai yang diyakini.
Melatih rasa syukur dan kesadaran diri.
Contoh latihan harian:
10–15 menit refleksi atau doa.
Menuliskan satu hal yang disyukuri dan satu hal yang bisa diperbaiki hari ini.
---
Kombinasi Latihan Terbaik
Jika ingin meningkatkan ketiganya sekaligus:
1. Baca buku berkualitas (IQ).
2. Diskusikan ide dengan orang lain dan dengarkan pendapat mereka (EQ).
3. Renungkan bagaimana ide tersebut berhubungan dengan nilai hidup Anda (SQ).
Secara sederhana:
IQ membantu Anda mengetahui apa yang benar.
EQ membantu Anda menyampaikan dan menerapkannya dengan baik.
SQ membantu Anda menentukan mengapa hal itu penting.
Orang yang sangat efektif biasanya bukan yang paling tinggi IQ-nya, melainkan yang mampu menyeimbangkan ketiga aspek tersebut.
SQ
(Tujuan & Nilai)
▲
│
│
EQ ◄──────┼──────► IQ
(Empati & │ (Logika &
Emosi) │ Analisis)
Umur 28+. Tidak semua perjalanan harus ditempuh berdua, ada jalan-jalan yang memang harus diselesaikan sendiri agar seseorang benar-benar bertemu dirinya. Pasangan itu kemungkinan hidup, bukan syarat eksistensi.
Kenapa petugas pajak hanya datang ketika sukses? Padahal usaha sendiri, modal sendiri, kerja sendiri, tapi kenapa dipajaki ketika berhasil?
Mungkin ini opini gak populer, tapi petugas pajak memang harus datang ke pengusaha sukses.
Kenapa?
Kalau belum sukses, ya, gak kena pajak. Gak sukses itu kalau labanya nihil, atau bahkan merugi, jelas gak kena pajak, dong.
Perusahaan pribadi, jika omzetnya di bawah 500juta selama setahun, ya, gak kena pajak.
Jomblo, atau sudah menikah, sudah punya anak atau belum, jika penghasilannga tahunannya di bawah ketentuan, ya gak kena pajak.
PTKP, namanya.
Saya kurang tahu pekerjaan Ibu Anik ini apa, tapi dari ceritanya seperti punya bisnis katering atau warung makan (karena ada kata "cuci sendiri").
Di tengah Bu Anik merintis perusahaannya, para pelanggannya itu mungkin naik motor atau sepeda lewat jalan beraspal.
Pajak membantu pelanggan untjk sampai ke warung Bu Anik.
Warungnya buka malam hari, dan jalannya terang sehingga pelanggan bisa sampai warung.
Penerangan jalan yang membantu pelanggan sampai ke warung itupun dari pajak.
Pelanggan naik motor dengan BBM Pertalite, misalnya. Subsidinya juga pakai pajak.
Pelanggan datang melewati jembatan? Jembatan itu juga dibuat dari pajak.
Bahan-bahan warung Bu Anik, dari beras, minyak, gula, dan lainnya bisa stabil juga karena pajak dipakai membuat infrastruktur logistiknya.
Membuka warung dengan rasa aman, karena ada polisi dan TNI, nah, gaji mereka juga dari pajak.
Sebenarnya pajak itu berguna bagi bisnis Bu Anik. Dan kalau bisnisnya sukses, ya, memang harus bayar pajak.
Kecuali memang PTKP, ya, gak bayar.
Begitu, Mas @prastow?
😬
Ada yang sadar?
Saat Idul Qurban, yang paling sering dibuang justru bagian paling “hidup” dari sapi.
Namanya: rumen.
Padahal ini bukan sekadar isi perut.
Ini reaktor biologis hidup. 👇
Sapi Madura yang punya 36% DNA banteng liar hasil silangan abad ke-7. Sebuah kebanggaan atas suksesnya manusia menguasai alam demi pangan.
Tapi hukum domestikasi itu patah di Sulawesi. Ada sepupu sapi yg ribuan tahun menolak tunduk pada manusia: Anoa.
Utas..
Kasus nadiem efek dominonya besar banget loh. Akhirnya orang yg bener-bener punya kapasitas intelektual takut dan ogah buat terlibat dalam tata kelola pemerintahan Indonesia. Dampaknya pejabat kita ke depannya diisi sama orang-orang yg ga kompeten.