Pengakuan sopir taksi : "pas lewat rel kebetulan ada kereta lewat & tiba² mobilnya mati lalu ngunci steering & roda ditengah rel"
Sesuai sama yg saya bilang semalam, defaultnya EV ketika ada trouble itu memang dia lock roda & steering yang mana mengakibatkan mobilnya emang gabisa diapa²in, dan dari kejadian ini bisa dijadiin pelajaran & awareness lagi nih terutama buat pengguna EV, inget mobil lu itu isinya 90% listrik doang jadi lebih hati² & jangan serampangan di jalan
Sama yg terpenting, kenali sama pelajari dulu lu punya mobil mau EV ataupun ICE sebelum turun ke jalan, tuh buku panduan penggunaan mobil dibaca bukan cuman buat pelengkap sewaktu² mobil kalian mau dijual lagi
yaelah kak, itu kai benerin sinyalnya jg bakal tetep ada kecelakaan jg kalo orang2 pd nyerobot
kecelakaan terjadi karena ada sesuatu yg gak pas pada tempatnya
di antara krl, kajj, sm taksi, kira2 mana kendaraan yang SEHARUSNYA gaada di rel?
ya taksinya mmg yg salah lah
Yang paling bertanggung jawab ya KAI, bukan si taksi ijo.
Kalo biasa naik KRL mungkin paham bahwa sering ada gangguan sinyal yang bikin kereta "mandek" di Manggarai, misalnya. Selama ga ada insiden, masih ada backup plan.
Begitu ada "trigger" kecelakaan taksi ijo, gangguan sinyal jadi fatal akibatnya.
rumah di indo umumnya kyk gini karena 3 alasan yg aku sebut di tweet atas, karna di indo, khususnya di daerah yang kurang terjangkau aksesnya, masih minim source sdm (alias tukang yg bisa bikin style lain) dan materialnya. masih minim biaya nya pula, jadi ini arsitektur "pas2an"
bisa disebut "architecture without architect" kali ya. karna jalan2 ke daerah manapun, pasti rumahnya kayak gini semua.
arsitektur yg terbentuk karna terjangkau;
- terjangkau harganya
- terjangkau source sdm yg bangun & materialnya
- terjangkau buat iklim & kebutuhan penghuni
sumpah tp ini valid question yg bisa di expand menurut gw, sampe skrg pun belum nemu nama gaya arsitektur ini. ga terlalu heavy ke arsitektur vernakular, ke jengki juga jauh, ke colonial jauh. menurut gw ini the real indonesian style sih, tp belum nemu pembahasannya
terbentuk gaya ini jg bukan tanpa alasan sebenernya. karena gaya arsitektur sendiri ada alasannya, baik itu japandi style, american style, masing2 punya alasan & filosofi sendiri
@angga_fzn as freshgrad & berasal dari univ non-top, opsi pertama.
notes; di tempat yg bisa berkembang
sebenernya realistis aja siapa yg gamau opsi 2 (gajinya tinggi). gaji tinggi = value tinggi. if u don't have value yg tinggi, then cari value nya dl sebanyak mungkin, balik ke opsi 1 lg
"Kuliah arsitek cuman aesthetic doang"
Meanwhile gw selalu dapet kursi di krl & tj karna ilmu arsi yg gw pelajari, everyone should know architecture is EVERYWHERE 😋☝🏻
#salamanakanker🤟🏻
💚 Serius Pepatah Dosenku Emang Bener Ya? (Kalau Arsitek Gambar Yang Penting Aesthetic Terus Dilempar Yang Hitung Sipil Tapi Pas Bangunan Jadi, Yang Dipuji Malah Orang Arsitek)
Yawes bahas agak serius.
The “kuliah arsitek mahal-mahal” bahkan ga ada 1 matkul yang full ngajarin gimana mengoperasikan tools/apps/software. Terus apa yang dipelajari?
Setiap tarikan garis dalam desain arsitektur ada pertanggung jawabannya.
Naruh tangga di belakang berarti sirkulasi gimana?
Tinggi plafon 350cm berarti butuh berapa anak tangga, butuh ruang tangga seperti apa?
Bangunan terpaksa mepet kanan kiri berarti bentuk atap seperti apa? Buangan air dari atap kemana?
Dan masih ada ratusan item lagi. Dari semua item itu, ga ada yang benar dan salah, tapi fungsionalitas, estetika dan kekuatannya gimana? (anjay vitruvius), mana yang diprioritaskan?
Tools/apps dll akan mempermudah manusia, tapi kenyataannya itu cuma alat untuk visualisasi dan komunikasi aja. Kalo ide & decisionnya bagus ya outputnya bagus, begitu pula sebaliknya
Buat org yg suka ngedekor rumah/kamarnya yg niat bgt, pas ngontrak aku jadi gabisa bebas eksplor gitu, karna udah ada pikiran; "nanti juga pindah dari sini, ya buat apa"
Sedangkan di rumah sendiri bisa bebas eksplor. Thats why ini tergantung bgt sm teritori masing2
Ngontrak vs bangun rumah
Oke, saya coba bahas dari perspektif psikologi arsitektur. Kebetulan tesis S2 saya seputar ini.
Ngontrak lebih efisien, memenuhi 3 fase awal kebutuhan. Punya rumah, apalagi “taylor made” by architect, ada di kebutuhan 2 fase teratas.
Idk ini jg terjadi di org lain apa ngga tapi karna dari kecil di rumah sendiri trs ngontrak, aku ngerasa 'rasa kepemilikan' di rumah ngontrak tuh minim bgt, jd karena sense 'kepemilikan'nya ngga ada, urus rumahnya jd beda antara rumah sendiri dgn ngontrak
Ini pov dari aku sih