@keluhkesahkonoh Di Jepang pun kalo tau yg beli berhijab pasti dikasih tau misal menunya mengandung alkohol ataupun babi. Jadi pelayannya pasti nyaranin menu yg halal, emng se toleransi itu di Jepag.
Kalo sekarang doanya nggak muluk² ya Tuhan. Anak sehat jasmani rohani dan fisik, utuh gaada yg kurang. Keluarga semua panjang umur dan rezekinya mengalir deras. Dijauhkan dari orang² yg dzolim. Amiiin
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Terharu menembus layar, momen seorang anak yang video call sang ayah yang sedang jual es krim keliling, memberitahu bahwa ia telah resmi menjadi sarjana. Dibalik toga dan gelar yang diraih ada perjuangan orang tua yang tidak pernah berhenti bekerja untuk masa depan sang anak.
Teman-teman, Insya Allah 7 hari lagi saya akan berangkat haji ke Tanah Suci bersama PIHK Sahid Tour.
Saya mendapat amanah untuk mendampingi dan menjaga kesehatan 500 ++ jamaah Haji Khusus Sahid Tour dari berbagai kota, sejak keberangkatan sampai Insya Allah nanti kembali ke Tanah Air.
Tanggung jawab besar yang saya persiapkan 2 bulan terakhir bersama dg tim medis.
Insya Allah, selama di sana saya akan berbagi catatan perjalanan, edukasi kesehatan haji, dan hal-hal kecil yang bermanfaat untuk teman-teman yang suatu hari nanti juga Allah panggil ke Baitullah.
Teman-teman juga bisa follow @sahidtour untuk mengikuti perjalanan yang lebih lengkap.
Bagi saya, perjalanan ini terasa amat sakral.
Ini jawaban dari doa yang saya panjatkan saat embrio-embrio calon bayi saya dan istri terbentuk.
“Ya Allah Ya Robbi, beri aku petunjuk-Mu. Apa yang harus aku lakukan agar Engkau Ridho aku mendapatkan predikat seorang Ayah."
Lalu tiba-tiba Sahid Tour menghubungi.
“Dokter Gia, apakah dokter bersedia menjadi tim medis untuk menjaga kesehatan Jamaah Haji Khusus Sahid Tour?”
Saya gemetaran saat membaca, lalu menjawab.
“Bersedia.”
Karena saya tahu, ini bukan perjalanan biasa.
Jelas bukan perjalanan untuk mencari kenyamanan. Ini perjalanan melepaskan keduniawian selama sebulan dan untuk pertama kalinya sejak menikah, saya tidak bersama istri lebih dari 10 hari.
Mohon doanya, teman-teman.
Semoga seluruh jamaah diberi kesehatan, kekuatan, kesabaran, keselamatan, dan pulang menjadi Haji yang Mabrur.
Postingan ini akan saya pin.
Teman-teman boleh titip doa di kolom komentar.
Insya Allah, saya akan usahakan membacanya satu per satu saat berada di Tanah Suci, terutama ketika berada di Masjidil Haram.
Semoga setiap doa yang teman-teman titipkan, Allah terima dengan kasih sayang-Nya, Allah jaga dalam rahasia terbaik-Nya, lalu Allah kabulkan pada waktu yang paling indah.
Dan semoga suatu hari nanti, nama teman-teman semua ikut dipanggil ke Tanah Suci.
@GiaPratamaMD Bismillah, Dokter titip doanya untuk anak saya yg saat ini sedang saya kandung, semoga anak saya diberikan kesempurnaan, umur panjang, rizki dan nasib yg baik kelak nanti. Saya doakan semoga Dr. Gia dan istri segera mendapat amanah jadi orang tua. Amiiin Ya Allah.