Hanya suara detak jantungnya yang terdengar samar.
Peluru penembak jitu memang menembus bahu kirinya, tetapi rompi balistik khusus yang dikenakannya menahan sebagian besar daya hancur proyektil itu. Rasa sakitnya luar biasa, namun ia masih sadar.
Hujan turun tanpa ampun di sebuah pelabuhan tua di pinggiran kota. Petir menyambar langit, menerangi deretan kontainer yang menjulang seperti labirin besi. Jalanan sudah sepi dipayungi lampu-lampu temaram.
Seorang pria berpakaian serba hitam berlari di antara lorong-lorong
Tiba-tibaβ
KLANG!
Suara benda jatuh dari gang kecil.
Nadia berhenti. Ragu sejenak, lalu masuk.
Di dekat pohon tua, ia menemukan kotak hitam kecil. Hangat saat disentuh.
"Jam tangan?"
"Mulai malam ini... Agen Intel 04 resmi dinyatakan gugur."
Suara tembakan kembali menggema.
Dan tubuh Sang Hantu jatuh ke laut yang gelap.
Tak seorang pun menyadari...
bahwa pria yang mereka nyatakan mati masih membuka matanya di dasar air.
Mereka mengejar dirinya.
Agen 04 perlahan menoleh.
Di antara pasukan itu berdiri seorang pria yang selama ini paling ia hormati.
Atasannya sendiri.
Pria itu mengangkat pistol, lalu berkata dengan suara datar,
Mata Agen 04 membesar.
Belum sempat ia bereaksi, peluru penembak jitu menghantam bahunya.
Tubuhnya terpental ke belakang.
Dari kejauhan muncul puluhan pasukan bersenjata lengkap.
Mereka bukan mengejar musuh.
Sejak awal, seluruh operasi dilakukan justru untuk menyelamatkan data tersebut.
"Siapa yang memberi perintah?"
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian suara lain masuk.
Lebih pelan.
Lebih dingin.
"Karena... kaulah target sebenarnya."
Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari seberang.
"04... misi dibatalkan."
Ia terdiam.
"Ulangi."
"Misi dibatalkan. Hancurkan data itu sekarang juga."
Keningnya berkerut.
Perintah itu tidak masuk akal.
Melainkan sebuah perangkat penyimpanan data berukuran kecil yang berisi informasi rahasia bernilai miliaran dolar dan mampu mengguncang stabilitas banyak negara jika jatuh ke tangan yang salah.
Alat komunikasinya tiba-tiba berbunyi.
"Lima belas tahun menjadi bayangan," gumamnya pelan.
"Hari ini... aku menghilang untuk terakhir kalinya."
Ia membuka koper itu.
Di dalamnya bukan emas. Bukan permata. Bukan intan.
Bukan juga uang.
Di atas langit, sebuah helikopter tempur menyorotkan lampu ke arahnya.
Seketika seluruh pelabuhan berubah terang.
"Tidak ada jalan keluar!" suara pengeras terdengar menggema.
"Agen 04... menyerahlah!"
Ia hanya tersenyum tipis.
Tubuhnya terlempar ke udara sebelum menghantam lantai beton dengan keras.
Darah mengalir dari pelipisnya. Namun ia kembali berdiri.
Dengan langkah tenang, ia melanjutkan pelarian seolah rasa sakit tidak pernah ada.
"Ledakkan jembatannya!" teriak seseorang.
Ledakan dahsyat mengguncang pelabuhan. Seketika api membungbung ke atas langit, asap hitam mengepul sangat pekat.
Jembatan baja tempat Agen 04 berpijak runtuh seketika.
Di tangan kanannya tergenggam sebuah koper hitam berlapis baja. Sesekali muncul kilatan cahaya bayangan dari sorot lampu. Tangannya begitu kuat menggenggam koper.
Suara peluru..
Benda itu menjadi alasan puluhan orang bersenjata saling memburu malam ini.
Di kalangan intelijen, ia dijuluki Sang Hantu. Tidak pernah gagal menjalankan misi. Tidak pernah meninggalkan jejak. Bahkan sebagian besar agen hanya mengenalnya dari cerita.
Cipratan air terdengar sangat jelas. Napasnya teratur meski peluru berdesing melewati telinganya. Terkadang berhenti sejanak untuk melihat situasi di sekitarnya. Matanya selalu waspada mengamati keadaan.