Dulu jaksa nuduh Nadiem: "Hartamu lebih gede dari gajimu, berarti hasil korupsi. Bayar sini 5,68 T"
Sekarang netizen nanya balik:
"Loh Pak... laporan harta bapak 18 M, kok yang ditemukan polisi (diduga terkait bapak) 543 M? Hartanya lebih gede dari gaji tuh. Pake rumus bapak sendiri ya, itu artinya apa?" 🤔
Rumus yang dipake buat nuduh orang, sekarang muter balik ke yang bikin rumus. 😛
Banyak yang gak tau vonis Nadiem itu gak kompak. Dari 3 hakim, ada 1 yang bilang "buktinya gak cukup, harusnya dia BEBAS."
Dulu suara hakim ini tenggelam. Sekarang, pas kredibilitas penuntutnya lagi diobok-obok polisi, semua orang bakal ke notice:
"Eh bener juga kata hakim yang satu itu..."
Kasus nya sampe sekarang belum selesai sob tapi timing nya tepat banget
Nadiem gak terima → banding. Kejagung juga gak puas (maunya 18 tahun) → banding juga.
Artinya apa? perkara ini masih lanjut ke pengadilan yang lebih tinggi. Dan PAS banget di tengah-tengah itu... kantor yang nuntut Nadiem malah digeledah polisi.
Vonis Nadiem 30 Juni. Geledah 8 Juli. Cuma 8 hari cuy 😄 Pengacara Nadiem gak perlu kerja berat amunisinya dianterin sendiri wkwk
Yang paling bikin nyesek Nadiem nangis di pengadilan:
"Uang Rp809 M itu gak pernah sepeser pun masuk kantong saya. Saya gak punya uang segitu. Cek aja harta saya."
8 hari kemudian, polisi bongkar brankas rahasia di balik dinding rumah yang diduga terkait pimpinan yang nanganin kasusnya. Isinya 74 kg emas + tumpukan dolar. Total setengah triliun 🌛
@seoyeaje ah i’m so sorry :( ketrigger wajar sih liat sesama perempuan kayak gt, but who cares abt their opinions girl cb klik salah satu aja profilenya, they’re all miserable, misogynistic and male-centered… soo invalid & irrelevant, kalo diberantemin satu-satu ga ada poinnya juga
yaelaaaaahh cewek lagi yang disuruh “berubah,” emang kita transformer??
WHEN WILL WE START HOLDING MEN ACCOUNTABLE FOR THEIR PERVERSE BEHAVIOR 🙄🙄🙄🙄🙄
stop treating them as if they’re fucking babies 🙄 rape enabler.
kenapa ya orang indo tuh lebih fokus ke, “pakaian terbuka = konsekuensi dihujat”.
padahal akar masalahnya adalah orang-orang yang nggak bisa mengontrol mata, mulut, dan nafsunya. kalo logika ini bener, harusnya perempuan berhijab, pakai abaya, atau bahkan niqab seharusnya aman total, dong? kenyataanya tetap banyak yang kena catcall, pelecehan, bahkan kekerasan seksual.
bilang “ya wajar dihujat karena di negara mayoritas Muslim” sama aja dengan membenarkan bullying. negara manapun, kalau ada kelompok mayoritas yang suka menindas minoritas atau yang beda, seharusnya kita LAWAANN!?? bukan nyuruh korban menyesuaikan diri sampai individualitasnya hilang…
@iPopBase Yaallah tergulinglah pemerintah yang berbohong kepada rakyatnya, tergulinglah pemimpin yang berbohong kepada rakyatnya, tergulinglah pemimpin yang tidak setia kepada kepentingan negara di atas segala kepentingan 🤲
Fizeram um compilado de 4 minutos mostrando os lances em que a Argentina foi favorecida contra o Egito.
Simplesmente um escândalo mundial. Quanta sujeira envolvida. 🤢
Kalau kayak gini mah kelihatan banget kalau:
1. Aldi Taher akan selalu mencari spotlight, tak peduli seberapa hinanya pun, agar dia selalu bisa jualan. Terakhir ya bagaimana dia menghina dina Baskara karena menolak pendiskriminasian berdasarkan orientasi seksual.
2. Aldi Taher tak benar-benar peduli dengan produk yang dia jual. Selama masih ada yang beli dengan asas yang awalnya "kasihan," lalu ke "penasaran," dia akan terus jualan. Dia akan terus berganti produk entah sampai kapan.
Apakah salah? Kalau cuma dari kacamata penjual, ya tidak. Dia hanya mencari cuan sebesar-besarnya, at whatever cost.
Tapi coba lihat dari sisi konsumen. Kemarin baru ketemu ayam goreng yang masih mentah. Ketika burgernya masih ngehype, kesegaran bahan bakunya jadi pertanyaan. Apakah produk seperti ini layak jual dan konsumsi? Tidak.
Kita semua butuh uang, tapi apakah cara mendapatkan uang kita sudah etis?
Michele Ramos, professora do interior de São Paulo, desabafa após três alunos colocarem um caco de vidro em seu copo de água:
“É uma dor muito grande. A sala viu o que estava acontecendo e ficaram de murmurinho ao invés de me falar o que tinha acontecido, o que ele tinha colocado. E ainda ficaram [falando]: 'Se eu fosse você, não beberia essa água, professora'. Que tipo de educação essas crianças estão recebendo em casa? Eu nem sei a quem recorrer, estou tendo que vir aqui no hospital por uma questão burocrática, porque eu só queria ir para minha casa e deitar em posição fetal. Não quero voltar a trabalhar”