emang sulit sih. tapi beneran deh, hidup kalau udah bisa, “yaudah lah ya, that happens, that’s just how it is, that’s life” rasanya lebih ringan aja.
meskipun diri ini masih suka ngeluh juga sih wkwk. tapi mau gimana lagi, dinikmatin aja lah hidup genre comedy slice of life ini.
Semakin bertambahnya usia, semakin merasa harus ramah ke setiap orng yg ditemui.
Karena kita ga tau beban apa yg mreka pendam.
Ada orng yg mengubur mimpinya dalam2, karena dia tau mimpinya sulit diwujudkan.
Seiring bertambah usia, rasanya hidup cuma ttg belajar berdamai dgn ketidaktahuan, termasuk ditinggal tanpa penjelasan/permintaan maaf. Belajar memahami bhw org lain akan menghargaimu dlm kapasitasnya masing-masing & hanya perlu begitu sebaliknya, will take you far.
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
Ngejaga Mental Health bkn berarti kita harus bahagia terus2an, bkn berarti harus positive vibes only.
Kata partner w yg jebolan psiko, setelah aware soal Mental Health, next step yang perlu dilakuin adlh ngebangun Mental Resilience. Gak gampang jatuh, gak gampang baper, gak gampang sedih.
Krn dunia gak se-happy go lucky itu. Kita akan salah, kita akan ketemu sm org yang nyalahin kita, kita akan sedih, atau membuat org lain sedih.
Jd bkn soal gabole sedihnya, tp belajar utk bs nerima dan balik lagi.
Perubahan yg terjadi saat heartbreak itu real guys. Dada sesek, mual, hilang nafsu makan, berat badan naik/turun signifikan, ga bisa tidur, berat untuk bangun dan functioning.
Terima keadaannya dan cari pertolongan. Mengakui ga lantas menjadikan kamu lebay.