Lucu ya, kalau diresapi lagi, ternyata selama ini gue bener-bener sendirian. Gue pikir lingkaran pertemanan gue luas, tempat mengadu gue banyak, dan nama gue cukup diingat. Tapi itu cuma ilusi. Gue cuma kenal banyak orang, bukan punya temen yang bener-bener tempat pulang. Sering banget gue ngerasa deket sama banyak jiwa, saling tukar cerita, tertawa sampai larut, tapi di ujung hari, saat riuh itu reda, gue sadar nggak ada satu pun dari mereka yang sudi jadiin gue prioritas. Not a single person would choose me first. Gue cuma ada saat mereka butuh penengah, pendengar, atau sekadar pengisi kekosongan. Begitu mereka selesai, gue kembali jadi sosok yang terlewatkan. Ternyata emang dari dulu gue tuh nggak pernah penting buat siapa pun wkwk, cuma gue aja yang ke-PDean ngerasa dianggap.
jujur bnget di era era cewe cewe pengen jadi cewe berkarir dengan gaji tinggi dan independen women, gw aslinya lebih pengen jadi cewe yang diprovide abis abisan, pagi ikut anter sekolah anak, abis itu ditinggal gym, siang ke bakery bentar urus bisnis, lanjut pilates, sore yoga sambil ngopi cantik, malem dinner sama suami sekalian ketemu kolega bisnis. maaf bgt jangan dihujat 😭🙏🏻
mau seberapa bagusnya platform tiktok buat au juga gabakal pernah ngalahin feeling di twitter ini wkwkwk. this app holds so much memories to me and i can never let it go
De Paul tentang kunjungan Messi ke Camp Nou:
"Sebelum kami terbang, Leo mengejutkanku. Dia menatapku, dengan senyum tenang itu, dan berkata: 'De Paul, sebelum kita pergi, mari kita singgah ke Barcelona, aku ingin melihat Camp Nou'. Aku pikir dia hanya bercanda, tapi dia serius.
Kemudian, kami naik jet pribadi dan terbang ke Barcelona. Saat tiba di sana, tak ada yang tahu kami ada di sana.
Messi ingin melakukan kunjungan ini dalam diam, tanpa kamera, tanpa kilatan, tanpa keramaian... Kami menginap di hotel tepat di depan stadion, Messi duduk di balkon, menatap lurus ke arah Camp Nou dan berkata: 'Seluruh tempat ini menyimpan bagian dari diriku.'
Setelah makan malam, dia meminta untuk singgah sebentar ke stadion. Saat tiba di sana, Leo berjalan menuju pusat lapangan dan berdiri di sana, dalam diam. Mengingat semua kemuliaan yang pernah dia saksikan di sana."