manifesting punya pasangan yang didikannya bukan cuma bikin anaknya pintar, tapi juga lembut, penyayang, respectful, dan tau cara memperlakukan orang lain dengan baik.
karena menurutku anak itu belajar bukan cuma dari sekolah, tapi terutama dari rumah. cara dia ngomong, bersikap, memperlakukan orang lain sebagian besar adalah hasil dari apa yang dia lihat dan rasakan sejak kecil.
Kematian Winda Lorenza Gowasa di Medan menjadi sorotan publik
Winda ditemukan meninggal dunia dengan luka tembak dan polisi menyatakan peristiwa tersebut sebagai bunuh diri
Di tengah kasus itu, muncul informasi bahwa nama Winda Lorenza Gowasa pernah dijadwalkan diperiksa KPK sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi Bea Cukai
Ini membuat masyarakat perspekulasi bahwa Winda telah di bunuh secara berencana, karna pasalnya ia adalah salah satu kunci penting dalam penanganan kasus korupsi besar
source: IG fact.horsemen
Perkenalkan, pelatih 0 trofi, tapi meninggalkan begitu banyak warisan, prestasi, dan kebanggaan. 🇮🇩
Dalam 5 tahun, STY membawa sepak bola Indonesia ke level yang membuat kita mulai disegani negara lain.
Bukankah itu juga sebuah prestasi?
Ini bukan soal meminta STY kembali. Cerita Timnas dan STY sudah selesai. Ini hanya pengingat untuk federasi dan kita semua: belajar menghargai orang yang pernah berjuang, bukan membuangnya begitu saja ketika sudah dianggap tak diperlukan.
Menurut kalian, apa warisan terbesar STY untuk sepak bola Indonesia?
aku pernah lihat tipe perempuan yang jago banget memahami orang.
orang kasar, dia cari lukanya.
orang hilang, dia cari alasannya.
orang egois, dia cari masa kecilnya.
sampai suatu hari dia sendiri capek, kenapa ga ada yang otomatis memahami dia balik? tau ga apa yg bikin sedih??
@LambeSahamjja Statement yg paling anj dr gendut bajingan itu wni ga ada yg mau kaya cuma pgn bisa makan. Bajingan bgttt mulut kek gt disaat lu punya harta triliunan dan rakyatnya untuk nabung 10jt aja sulit
curhatan ganjar soal pertanyaan pilih kenyang otak atau kenyang perut?:
- jawabannya: keduanya penting
- tapi kalau negara harus milih prioritas jangka panjang,
- pendidikan gak boleh dikorbankan
- ada ilustrasi: desa dikasih pilihan bantuan sembako 3 bulan vs beasiswa pelatihan teknologi 3 bulan
- hampir semua pilih sembako
- cuma 1 pemuda yang pilih beasiswa
- 6 bulan kemudian sembako habis
- si pemuda malah dapet kerja jadi programmer dan bisa nafkahin keluarga
- pesannya: sembako atasi lapar hari ini, pendidikan atasi biar gak lapar di masa depan
- dia nyindir statement prabowo soal tidak yang lebih penting dari pada perut lapar
Kementerian Pendidikan Singapura akan menaikkan gaji sekitar 36 ribu guru dan tenaga pendukung pendidikan sebesar 2% hingga 9% mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini bertujuan menjaga daya saing gaji sekaligus menarik dan mempertahankan tenaga pendidik berkualitas. Di sisi lain, para pendidik menilai peningkatan kesejahteraan juga perlu diiringi perbaikan beban kerja, pengembangan karier, serta keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat. Gimamene menurut kalian?🤔
[📸: Shutterstock]
cc ahquote
Yang dirugikan dari komentar-komentar tenaga kesehatan nirempati itu adalah kepercayaan masyarakat.
Sebagai golongan white collar, tenaga kesehatan itu terikat dengan etika profesi. Artinya risiko pelanggarannya bukan cuma pidana, tetapi juga soal integritas.
Karena ketika sumpah itu dilanggar, kepercayaan masyarakat pun terkoyak. Padahal kesehatan itu salah satu sektor yang banyak hoaks dan logika mistikanya.
Teman-teman dokter, teman-teman nakes.
Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.
Sakit itu Tidak Enak.
Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.
Kita tahu semua itu.
Tapi pasien kan enggak.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.
Sering kali, cukup kata-kata kita,
“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”
Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang.
Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.
Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.
Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
Keduanya sama-sama berjuang.
Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.
Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?
Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?
Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.
Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.
Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.
Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.
Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.
Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.
Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.
Gue baru sadar, sejak John Herdman jadi pelatih timnas, sudah tidak ada lagi yang membandingkan dengan STY.
Artinya fans timnas pun terima aja kalo pelatih penggantinya sepadan atau bahkan lebih baik.
Kita membandingkan pelatih yang kemarin dengan STY itu karena kualitasnya downgrade bukan buzzer STY.
Begitu pelatihnya upgrade, udah ngga ada lagi yang membandingkan dengan STY. So, fans timnas itu objektif.
Reminder to:
• Gibran menyuap mahasiswa UBK 300 juta
• Korupsi emas jampidsus 74KG
• Kasus keracunan mbg
• Korupsi 10M Kebun Binatang Surabaya
• Korupsi pengadaan kipas angin Kopdes 1,8 Triliun
• pemotongan anggaran perpusnas 377 M
• Dana belanja pendidikan Indonesia terendah, hanya 1,3%
• BBM Pertalite Mulai langka
Saking gaada berita baik di negara ini🥲🥲
Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!
NORMALISASI JANGAN PRENGAT-PRENGUT KE ORANG YANG NGGAK TAHU APA-APA. MOOD JELEK ITU URUSANMU, BUKAN TIKET BUAT NYEBARIN ENERGI BURUK KE ORANG LAIN. SEMUA ORANG JUGA LAGI CAPEK, LAGI SIBUK, LAGI BERJUANG. JADI NGGAK USAH MERASA PALING MENDERITA DI DUNIA.