I’ve typed and deleted so many words to try to describe the pain, anger, and guilt. Just read his.
We will miss you Anas. We bear witness to your sacrifice and against your murderer.
May Allah have mercy on you and reunite you with all the pure souls before you.
BREAKING:
Israel used Joe Biden’s designated “humanitarian aid pier” to massacre more than 210 Palestinians civilians, mostly children, in Nuseirat refugee camp today.
This is a US-Israeli holocaust.
Repeat. Spread it. Let the world know.
Kmrn ngobrol ama nyokap trus nyokap bilang :
🧕Kemaren mama denger dr ust Soni, kalimatnya sih kita udh tau tp kek baru makin sadar dan tertohok pas ustadznya nyampein :
“Kalo lg ada masalah, inget doa nabi Musa. Apa doanya? Robbisyrohli sodri, wa yassirli amri, wahlul uqdatan min lisaani, yafqohu qouli.
Cantik sangat doa ini
ya الله, sibukkanlah aku dengan kebaikan hingga aku lupa akan kesedihan
& jauhkan aku dari rasa malas hingga aku bersyukur atas keberkahan أمين
Yang kampanye beneran, Anies dan Ganjar. Yang menang, Prabowo.
Anies dan Ganjar: bangun tiap pagi dan harus menghadapi kampanye dialog 2 arah, mulut tak berhenti bicara, menyiapkan data buat dialog...
Prabowo kampanye jarang-jarang. Kalau kampanye juga banyak jogetnya.
Eh, menang.
Pemilih kita memang masih belum mau disuruh mikir sih. Butuhnya makan siang.
The images from Gaza of the Rafah massacre by Israel last night look like a horror movie. Children dangling with limbs blown off, or crawling screaming with their dying breaths. Parents picking up the heads of their babies that are barely recognizable. The hundreds stacked like bodies in a slaughterhouse.
The fact that their stories will be erased in mainstream media while videos are being suppressed on social media tells you all you need to know. Any semblance of international law or standard for humanity is dead. Palestinian life under occupation never mattered to you before, so our deaths under genocide don’t matter to you now.
Don’t ever lecture us on morality again. Your hearts are dead.
#SuperBowlMassacre
Umur 30 adalah saat lo ngerti kenapa ada orang2 yang mau ambil paycut untuk pindah kerjaan, atau bikin grand gesture yang beresiko di karir mereka.
Biasanya, di umur segini, lo udah ngejalanin karir selama 8 tahunan dan udah mulai punya opini sendiri tentang bagaimana industri ini bekerja.
Dan di saat itu juga lo mulai paham apa yang bener-bener lo mau kerjakan untuk jangka panjang.
Lo mulai mengerti bahwa hidup lebih kayak lari marathon, bukan sprint.
Dalam lari marathon, gak ada saingan dengan pemain lain. Ga ada yang senggol-senggolan atau sabotase usaha orang lain.
Because now, you start to realize that the real competition is with your own potential, not with the other runners.
Di meeting2 saya dgn brand2, saya paling malas dengan mereka yang menganggap audience itu sudah final, “Odiens itu bodoh, jadi kasih yang bodoh2 aja. Mereka kaga ngerti elu kasih yang ketinggian!”
Dan tentu sebaliknya, saya paling suka bertemu dengan klien2 yang berkata, “Insight musti tajem, sesuatu yang mereka bisa relate, something’s that real. Eksekusi jg musti bagus banget.”
“Inget,”
“orang2 ini kaga bego.”
Ngerjain yang kedua, tentu jauh lebih sulit. Jangan ditanya. Jungkir balik. Belum lagi pertaruhannya tinggi, karena kemungkinan gagal jadi besar sekali.
Tapi kalau berhasil menemukannya, dan melewati proses kerja keras yang mengikutinya, hasilnya selalu sangat membanggakan hati.
Kita bisa berkata dengan puas,
“See? I knew you guys weren’t stoopid.”
🥰
Saya rasa di awal perjalanan kampanyenya yang panjang ini, Mas @aniesbaswedan juga sedang melakukan taruhan yang sama.
Dia bertaruh, bahwa rakyat Indonesia, tidaklah bodoh.
Cukup sudah pemilu dengan jalur kaos dan amplop dan intimidasi dan joget2an. Cukup menganggap rakyat pemilih hanyalah orang2 dangkal yang tidak mengerti apa-apa. Cukup melihat pemilih cuma tangan-tangan dan kepala-kepala untuk diamplopi dan ditakuti.
Kalau saya boleh bilang bahwa saya mengenal beliau, saya akan mengira bahwa semua acara #DesakAnies adalah cara dia membuktikan taruhannya.
Panggung demi panggung, kota demi kota. “Bisa, pasti bisa,” begitu mungkin batinnya setiap melangkahkan kaki naik ke panggung.
Dia mau membuktikan bahwa masyarakat bisa mendengar gagasan dan visi, bisa kritis, bisa diajak berpikir.
Bahwa khalayak bisa mengecek rekam jejak, bisa merasakan sendiri karakter pemimpin mana yang akan mereka pilih.
Dan bahwa rakyat bisa bergerak untuk apa yang mereka yakini, karena politik adalah aspirasi dan gerakan dan kerelawanan.
It’s a really, really huge bet.
Tapi, baik menang atau kalah di pemilu 2024, paling nggak saya rasa, dia sudah merasa menang di pertaruhan yang ini.
Dia sudah bangga, sudah lega. Phew, katanya.
Menonton video di bawah ini, saya berkhayal bahwa sambil dia bernyanyi lantang, sambil tangan mengepal-ngepal terangkat ke langit, dia sedang berbisik haru di dalam hatinya,
“Kan?”
“Aku tahu, kalian tidak bodoh.”
❤️💪🏼🔥
Mas Gibran, Mas Gibran, @gibran_tweet cara pemerintah mengelola sumber daya nikel hari ini terbukti lebih banyak membawa petaka buat masyarakat. Biodiesel adalah solusi palsu yang hanya akan terus hancurkan hutan Indonesia. #DebatCawapres
Tonton ini ya https://t.co/urTRzXYN9m
If you are blind to our humanity, we are not blind to your hypocrisy. Joseph Robinette Biden Jr, we charge you with genocide.
My address at today’s March on Washington for Gaza.
International bodies rarely act against international colonial power.
But international solidarity is power. Palestinians will never forget the noble defense by our brothers and sisters of South Africa against apartheid and genocide. From Mandela and Tutu until freedom.
🇿🇦 🇵🇸
“Hamza was not a part of me, he was all of me. He was the soul of my soul.”
There are no words left to describe the cruelty and evil of Israel’s crimes anymore. First they murdered the wife, 2 kids, and grandchild of Wael El-Dahdouh while he was reporting on air. Then he himself was struck but survived a month later. And today they murder his son Hamza who has also been reporting on their crimes. More journalists have been killed by Israel than in any other conflict zone. And even their families are not spared. It is sickening. I swear if it was only the crimes they’ve committed against this single man, it would be enough to damn an entire nation.
May Allah unite you and your family in the eternal gardens of paradise dear brother @WaelDahdouh
To Israel:
You can’t say “never again” while committing a literal genocide.
You can’t bring up the Holocaust while detaining Palestinians, including children, in concentration camps.
You can’t say you’re the victim while you’re bombing every hospital, bakery, journalist, and child in sight.
You can’t say “self defense” while your kids are writing their names on rockets being blasted towards other kids whom you turned into orphans.
You can’t say you’re protecting anyone while killing them.