Surat Perjuangan Seorang Penegak Kebenaran
kepada Allah
Ya Allah,
Tuhan langit dan bumi,
Yang menanamkan semangat perlawanan dalam dada para nabi,
Yang mencintai keadilan, dan membenci kezaliman.
Hari ini aku menulis surat kepadaMu
bukan sebagai seorang biasa,
tapi sebagai seorang pejuang yang berdiri di antara reruntuhan nilai,
menghadapi gelombang kebohongan, kemunafikan, dan penindasan.
Aku tidak datang dengan tangan kosong.
Aku membawa luka-luka perjuangan,
tapi juga harapan yang tak pernah padam.
Ya Rabb,
Aku tahu jalan ini tidak mudah.
Terkadang sendiri. Terkadang sepi.
Terkadang dihujat oleh mereka yang kubela.
Namun aku tidak mundur.
Karena Engkau adalah sandaran langkahku.
Aku memohon:
Mudahkanlah perjuanganku.
Berikan arah saat aku bingung,
berikan kekuatan saat tubuhku lelah,
berikan cahaya saat pikiranku diselimuti gelap.
Limpahkan rezeki yang cukup dan berlimpah,
agar aku tidak terikat oleh dunia,
agar aku bisa mendanai kebenaran,
dan tidak perlu bergantung pada kekuasaan yang menyesatkan.
Beri aku hati yang tegar seperti Ibrahim,
lidah yang tajam seperti Musa,
kesabaran seperti Isa,
dan cinta penuh pengorbanan seperti Muhammad
yang tetap berjuang meski seluruh dunia membencinya.
Ya Allah…
Jika hari ini aku kalah,
ajarkan aku untuk bangkit dan melawan lagi.
Jika aku ditikam dari belakang,
tumbuhkan aku dengan lebih kuat.
Jika aku wafat dalam perjuangan ini,
jadikan kematianku sebagai pembuka jalan untuk mereka yang meneruskan cahaya-Mu.
Bangunkan ruh bangsa ini, ya Rabb.
Tumbuhkan pemuda-pemudi pemberani yang tidak takut berkata “tidak” pada kezaliman.
Gulingkan tirani, jatuhkan berhala-berhala kekuasaan,
dan gantikan mereka dengan hamba-hamba-Mu yang jujur dan amanah.
Aku tidak meminta kekayaan,
kecuali untuk menafkahi perjuangan di jalan-Mu.
Aku tidak meminta kekuasaan,
kecuali agar bisa menegakkan hukum-Mu.
Aku hanya ingin satu hal:
Engkau ridha atas hidup dan matiku.
Maka bimbinglah aku dalam setiap langkah.
Izinkan aku tetap kuat dalam badai zaman.
Dan jadikan aku bagian dari pasukan cahaya yang Engkau utus untuk menyelamatkan dunia ini.
Dengan nama-Mu, aku berjuang.
Dengan cinta-Mu, aku hidup.
Dengan izin-Mu, aku akan menang.
Dengan kehendak-Mu
Kebenaran takkan pernah mati.
Allahu Akbar!
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Hamba-Mu
Tifauzia Tyassuma
Pada hari ke-29 bulan Ramadan menjelang Idulfitri 1447 H, saya menerima Presiden Ke-5 RI, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, di Istana Merdeka. Pertemuan ini melanjutkan silaturahmi antarpemimpin bangsa.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*