Psikologi bilang, ada orang yang nggak terlalu suka bersosialisasi bukan karena sombong atau benci orang.
Mereka cuma terlalu peka. Cepat menangkap energi, membaca ketulusan, dan sadar saat sesuatu terasa nggak tulus.
Makanya, basa-basi sering terasa melelahkan.
Mereka lebih memilih hubungan yang sedikit, tapi jujur, tenang, dan tanpa topeng.
Itu bukan antisosial.
Itu cara mereka menjaga energi dan kesehatan emosional
"Karena setiap kali anak cerita, mereka nggak diizinkan untuk MERASA. Perasaan mereka langsung di-fix. Di-minimize. Di-reframe. Dan anak belajar satu hal: kalau aku cerita, aku gak akan didengar. Aku akan dinasihati."
"Jadi mereka berhenti cerita. Dan menyimpannya sendiri."
Bukan makian. Bukan kata-kata kasar.
Justru kalimat yang terdengar biasa. Kalimat yang mungkin pernah diucapkan hampir semua orang tua.
ini daftarnya:
"Nggak apa-apa, semua pasti ada hikmahnya."
"Yang semangat! Kamu pasti bisa!"
"Jangan sedih, masih banyak yang lebih susah dari kamu."
"Bersyukur dong, ada yang lebih parah."
"Ah itu mah belum masalah besar. Nanti juga ketawa sendiri."
"Itu semua dari orang tua yang BAIK. Yang PEDULI. Tapi anak-anak nggak mau cerita ke mereka. Tahu kenapa?"
Jujur ngeri sih ini🥲🙏
Pertalite abis dimana-mana
Mall- Mall besar pada bikin pagar tinggi
Harga sembako naik lagi
PHK dimana-mana, banyak layoff
Polri vs Kejagung tiba2 selesai
Pejabat2 pada masukin keluarga jadi komisaris
Langsung ke intinya aja, jadi tanggal berapa sih?
Harus gimana menyikapi situasi ini?
🙏🥲
Nah yang kayak gini ini yang seringkali ngorbanin diri sendiri menjadi charger umum... giliran baterainya tinggal 1% gak ada 1 pun charger yang idup.. empati boleh aja.. tapi jangan jadi berat sebelah.. hubungan dalam bentuk apapun yang sehat adalah saling mengerti.. jika tidak maka akan cape sendiri pada akhirnya..
"anak yg baik" itu justru dikasih standar yg ga masuk akal, kalo ga memenuhi standar itu dianggap gagal. kebalikannya "anak yg bandel" dikasih standar yg bare mininum bgt, yg penting gak bla bla bla aja udah dianggap pencapaian.
Gimana ya caranya menamai duka anak-anak yang … gak pernah neko-neko, gak kriminal, tapi ironisnya malah harus ke psikolog karena JUSTRU dia “anak yang baik”.
Mereka berusaha kasih semua karena percaya jadi anak baik akan membuat mereka aman, tapi ternyata enggak.
Plot twist paling gila di dunia nyata:
Ada ilmuwan yang kerjanya neliti scan otak pembunuh berantai
Pas lagi iseng scan otak keluarganya sendiri, dia nemu 1 scan yang polanya SAMA PERSIS kayak psikopat paling sadis, ternyata itu scan otaknya dia sendiri:
@SecretaryMika gue suka part dia diam, hilang dan belajar. jujur ini sulit banget sekarang ditengah banyaknya distraksi, padahal kalau bisa fokus diam, hilang dan belajar 1 skill pasti bisa jadi duit sih
Sodara gue gak pernah ungkit "inget gak dulu Om usir saya dari kursi?"
Gak pernah sekalipun.
Karena dia bilang ke gue gini malem itu:
"Balas dendam paling mahal itu... bukan bikin dia miskin. Tapi bikin orang yang ngerendahin lo, hutang budi sama lo."
Cc:threads
Namun, perlu diingat bahwa Post-Traumatic Growth bukan berarti traumanya tidak menyakitkan atau semua orang pasti menjadi lebih kuat setelah trauma. Pertumbuhan itu terjadi ketika seseorang mau menghadapi lukanya, memproses emosinya, dan perlahan membangun kembali dirinya.
Jadi, kalau hari ini kamu masih sedang berjuang menyembuhkan luka-luka yang ada di dalam diri, jangan terburu-buru menganggap dirimu rusak. Bisa jadi, kamu sedang berada di proses untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih memahami arti kehidupan dibandingkan sebelumnya.
Karena terkadang, seseorang tidak tumbuh meski hidupnya selalu baik-baik saja. Tapi seseorang yang pernah hancur dan berhasil bangkit, sering kali menemukan kekuatan yang bahkan tidak pernah ia sadari ada di dalam dirinya.
Aku setuju dengan apa yang pernah dikatakan Miley Cyrus:
"Aku tidak pernah berbicara buruk tentangmu.
Aku hanya menceritakan apa yang kamu lakukan kepadaku.
Jika itu membuatmu terlihat buruk, maka masalahnya bukan pada ceritaku, tetapi pada perilakumu sendiri.
Karena menceritakan kebenaran tentang apa yang aku alami bukanlah bentuk kebencian. Itu adalah bentuk kejelasan.
Dan aku tidak bertanggung jawab untuk menjaga citra seseorang yang dulu tidak pernah peduli saat tindakannya merusak ketenanganku.
Terkadang kebenaran terdengar begitu menyakitkan hanya karena selama ini ada seseorang yang diuntungkan oleh diamnya orang lain."
siapa tau ada yg sama kayak gue sepanjang hidup gampang stres dan anxious tiap ngelakuin sesuatu, bikin keputusan, atau sering anxious soal masa depan. gue nemu saran bagus di threads buat ngubah pov biar ga stres di semua hal, lg coba praktekin pelan2
Ga. Selama emosinya ga pernah dialirkan keluar, sampai mati pun ga akan sembuh.
We're the one who needs to fight to heal.
Do not rely on time.
Time does nothing if we do nothing.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)