@Dyanasthasia any reference to support ur opinion that middle income tend to spend more to feel that symbolic sense?
i aint an economist, but my personal preference and logic says that i -as also middle income - should control my budget more strictly to create buffer
@houseconetall just because ur sister lulusan pesantren bukan berarti semua lulusan pesantren setuju. jangan bawa-bawa akidah. kalo emang ajarannya ngelarang, ya jangan disamain sama toleransi.
menurutku nggak sesederhana โmereka benci feminitasโ.
banyak orang awalnya bisa toleran, but at some point they feel tired ketika yang diminta bukan cuma ruang hidup, tapi validasi penuh dan terasa seperti dipromosikan di ruang publik.
sudah kubilang homophobia ini akarnya ya emang dari misogini juga. mereka benci feminitas. mereka benci laki-laki yang dianggap meninggalkan maskulinitas dan mendekati sesuatu yang mereka pandang โlebih rendahโ yaitu perempuan
my adek is lulusan pesantren, org2 yg akidah agama nya bener mah gaakan jd homophobic. mereka justru paham that every human is a sinner, blum tentu dosa queer lebih besar dibanding hetero yg kerjaan nya zina, ninggalin solat, mabok, dll. giliran babi sm gay baru berisik