— leowon au
by bulan.
" Biasanya mereka yang berkeinginan untuk
meninggalkan segalanya ialah mereka yang sudah berusaha bertahan dan memperbaiki segalanya. Tetapi ketika pada akhirnya mereka sudah bertekad untuk pergi, mereka akan pergi dan tak akan pernah kembali."
maksud ku angst disini bukan yang dark gitu, tapi lebih ke melankolis. kayak para remaja yang lagi mencari jati diri mereka sendiri ditengah tekanan dan pandangan orang lain dan menurutku semua kata-kata mereka itu saling terhubung.
“저를 왜 그렇게 볼까요?” leo
“kenapa kamu memandangku seperti itu?”
“저는 왜… 다를까요?” junseo
“kenapa aku… berbeda?”
”변하고 싶어요…” arno
“aku ingin berubah…”
“나를 제대로 바라봐 주세요” sangwon
“tolong lihat aku dengan benar ”
“난 언제부터 이렇게 보였을까?” xinlong
”sejak kapan aku terlihat seperti ini?”
“진짜 나를 본 적 있어?” anxin
“pernahkah kamu melihat diriku yang sebenarnya?”
“세상이 보는 제가 정말 저인가요?” sanghyeon
“apakah diriku yang dilihat dunia benar-benar aku?”
maksud ku angst disini bukan yang dark gitu, tapi lebih ke melankolis. kayak para remaja yang lagi mencari jati diri mereka sendiri ditengah tekanan dan pandangan orang lain dan menurutku semua kata-kata mereka itu saling terhubung.
“저를 왜 그렇게 볼까요?” leo
“kenapa kamu memandangku seperti itu?”
“저는 왜… 다를까요?” junseo
“kenapa aku… berbeda?”
”변하고 싶어요…” arno
“aku ingin berubah…”
“나를 제대로 바라봐 주세요” sangwon
“tolong lihat aku dengan benar ”
“난 언제부터 이렇게 보였을까?” xinlong
”sejak kapan aku terlihat seperti ini?”
“진짜 나를 본 적 있어?” anxin
“pernahkah kamu melihat diriku yang sebenarnya?”
“세상이 보는 제가 정말 저인가요?” sanghyeon
“apakah diriku yang dilihat dunia benar-benar aku?”
pertanyaan sanghyeon ini menjadi semacam penutup filosofis dari rangkaian pertanyaan sebelumnya:
– Leo yang bertanya mengapa dipandang seperti itu
– Junseo yang bertanya kenapa dirinya berbeda
– Arno yang ingin berubah
– Sangwon yang memohon untuk dilihat dengan benar
– Xinlong yang mempertanyakan sejak kapan citra itu menempel
– Anxin yang meragukan apakah pernah ada yang melihat dirinya yang asli
– Sanghyeon menutup dengan pertanyaan paling mendasar: “apakah yang dilihat dunia itu memang aku?”
warna putih pada dirinya dan sayapnya menciptakan ironi yang begitu tajam.
sementara leo di awal memakai abu-abu yang redup dan tertutup, sanghyeon di akhir memakai putih yang seolah “suci”, seolah masih harus memenuhi ekspektasi dunia bahkan ketika dia sendiri sudah tidak yakin lagi siapa dirinya.
dari yang aku lihat, konsep sanghyeon ini yang paling kuat.
seorang anak muda yang masih dipaksa menjadi “malaikat” di panggung yang sudah tidak ada penontonnya, sambil diam-diam bertanya apakah dirinya yang sebenarnya masih ada.