@keluhkesahkonoh Menikah di KUA gratis (Rp0) jika dilaksanakan di kantor KUA pada hari dan jam operasional kerja (SeninβJumat). Jika akad nikah dilakukan di luar KUA (seperti di rumah, gedung, atau masjid) atau di luar jam kerja, dikenakan biaya resmi Rp600.000 yang disetor langsung ke Kas Negara
@ilyofthealley untuk hal yang ini, mama kamu bener, kak. gak hanya berlaku bagi cewek ke cowok, cowok ke cewek juga sama. intinya, kalau diajak secara baik-baik, menolak pun baik-baik.
@keluhkesahkonoh wisuda TK? ya ampun.. baru kemarin diskusi sama suami soal wisuda2an ini, yakin deh pasti ada biayanya. kalau pun gak dibayar terpisah, pasti udah termasuk di SPP/uang daftar ulang dll. Kami sepakat, wisuda kayak gini bukan urgent, uangnya bisa lah dipakai traktir si kakak aja
Saya baru saja membaca kisah seorang ustad yang mengaku memiliki ketertarikan sesama jenis.
Yang membuat saya berpikir bukan orientasinya.
Tapi pilihannya.
Ia sadar ada dorongan dalam dirinya yang bertentangan dengan keyakinan yang ia pegang. Ia pernah mencoba menikah, namun tidak berhasil. Setelah itu, ia memilih hidup sendiri dan berjuang menahan dirinya hingga akhir hayat.
Tidak ada yang tahu pergulatan batin seseorang.
Sebagian orang berjuang melawan amarah. Sebagian berjuang melawan kecanduan. Sebagian berjuang melawan hawa nafsu.
Kita semua punya ujian yang berbeda.
Di era ketika banyak orang berkata "ikuti saja apa yang kamu inginkan", cerita ini mengingatkan bahwa manusia juga punya kemampuan untuk berkata:
"Aku menginginkannya, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya."
Terlepas dari apa pun pandangan kita tentang topik ini, saya rasa pengendalian diri tetap merupakan salah satu kemampuan paling sulit yang dimiliki manusia.
Karena tidak semua yang kita inginkan harus kita ikuti.
Menurut kalian, apakah pengendalian diri saat ini semakin langka atau justru masih banyak dimiliki orang di sekitar kita?