@sera_rala www yeah, H stages can be kinda rough if your roster isn't built yet. But if I'm not mistaken, you don't need to clear them to progress the story, you can just go straight to 7-1 after finishing 6-18
Casual player finally hits MASTER rank in Great Rift 😭🎉 Lost 20+ divine cores to Narja along the way but we made it. Full run here 👇
https://t.co/6F0Iigsgw0
#ChaosZeroNightmare#CZN
Arknights: Endfield EP - Camille [Under My Breath]
Incinerate the past, rise anew from the ashes.
Sink every doubt into the deepest breath.
As the embers fade, he no longer looks back.
Arknights: Endfield Game Stats Widget Is Now Live on @discord
Display your Talos-II journey in the Discord Game Stats Widget!
Connect your account to show Arknights: Endfield progress in the Discord Game Stats Widget and choose your favorite theme!
- After connecting, head to Discord > Avatar > Edit Profile > Add Widgets, then select the Arknights: Endfield Game Stats Widget. This allows you to display your Authority Level, Operator Count, Awakening Day, Regional Development Level, Path of Glory, and more.
- You can also display more game info on Discord, including your nickname, server, account level, and playtime.
- Connecting for the first time will also grant you [Oroberyl×100] and an exclusive role in our official Discord server.
>>>Connect Now:
https://t.co/iPiIMmHfVP
For more details on Discord account connections and the Game Stats Widget, please head to the official Discord server:
https://t.co/uNqahjyix3
#ArknightsEndfield #Endfield #SketchesOfLostHeirlooms
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Modern DRAM is based on a brilliant design from IBM.
But, we're still paying for a latency penalty that's existed since the 60s!
In this video, I'm introducing my research project (Tailslayer) that immensely reduces p99.99 latency on traditional RAM!
By implementing a hedged read strategy taking advantage of (undocumented!) channel scrambling offsets, I've gotten as much as 15x reductions in tail latency.
The technique works across Intel, AMD, Graviton, DDR4, DDR5, x86, ARM, you name it.
Check out the C++ lib I wrote, watch the video, and try it yourself!
Dario Amodei just gave his first interview since the Pentagon blacklisted his company. The toll is visible on his face.
He was asked one question. What would you say to the President right now?
He didn’t hesitate.
Amodei: “We are patriotic Americans. Everything we have done has been for the sake of this country.”
Anthropic built their models to defend America. They were the first AI lab cleared for classified military systems. They wanted to help the warfighter.
But the Pentagon demanded unrestricted access to fully autonomous weapons and mass surveillance of American citizens.
Amodei drew the line.
The government responded with emergency Cold War powers. A supply chain designation normally reserved for foreign adversaries. A six-month federal phaseout ordered from Truth Social.
Amodei: “When we were threatened with supply chain designation and Defense Production Act, which are unprecedented intrusions into the private economy, we exercised our classic First Amendment rights to speak up and disagree with the government.”
The administration framed Anthropic’s refusal as anti-American.
Amodei’s response dismantled that framing in one sentence.
Amodei: “Disagreeing with the government is the most American thing in the world.”
Here is the deeper paradox nobody in Washington wants to say out loud.
We are in a geopolitical race against autocratic adversaries who use AI for mass surveillance of their own citizens and autonomous weapons with no human oversight.
The Pentagon demanded that Anthropic build those exact capabilities for America.
Amodei: “The red lines we have drawn, we drew because we believe that crossing those red lines is contrary to American values.”
You cannot defeat authoritarianism by adopting its methods.
You cannot defend the open society by forcing private companies to build its antithesis under threat of wartime emergency powers.
Anthropic held the line. Got blacklisted for it. And came out the other side saying the same thing they said going in.
That is what it actually looks like to mean it.