Kekerasan di Matraman, Menteng ini jangan dibawa ke ranah rasisme. Jangan pula dijadikan alasan untuk memperkuat stereotip terhadap orang Indonesia Timur.
Kejahatan tidak mengenal asal daerah, suku, agama, maupun warna kulit. Orang dari Indonesia Barat, Tengah, maupun Timur sama-sama bisa berbuat baik, dan sama-sama bisa melakukan kejahatan. Menggeneralisasi tindakan individu kepada seluruh kelompok hanya akan melahirkan ketidakadilan baru dan memperdalam perpecahan horisontal.
Yang lebih penting adalah melihat akar persoalannya. Banyak penelitian sosiologi menunjukkan bahwa kekerasan jalanan sering kali tumbuh dari kombinasi ketimpangan sosial-ekonomi, minimnya kesempatan kerja, lingkungan yang permisif terhadap kekerasan, serta lemahnya kepercayaan kepada penegakan hukum.
Ketika orang merasa hukum tidak bekerja secara adil, tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat, bakal muncul frustrasi kolektif yang dapat bermetamorfosis menjadi budaya kekerasan. Dalam situasi seperti itu, identitas etnis hanyalah kebetulan, bukan penyebab.
Musuh kita bukan suku tertentu, melainkan kemiskinan, ketidakadilan, impunitas, dan negara yang belum mampu memberikan kepastian hukum yang setara bagi semua warga.
Surat Terbuka
Kepada Yth:
Store Manager Holland Bakery di seluruh Jakarta.
u.p: Surat Permohonan
Bisa tidak kalau setiap hari mulai dari jam 12.00 sampai jam 21.00 itu kincirnya dikencangin biar Jakarta tidak terlalu panas banget.
Terima kasih.
i need the international media to help us cover our people's struggle & voices, multiple indonesian trans women were beaten & doused with urine when they were just trying to earn a living
There are criminal mobs in Indonesia currently hunting trans women, yet we’re expected to believe that LGBTQ+ people are the threat to society instead of the extreme hatred from lunatics that justifies violence against other human beings.
ini ibaratnya punya ART yang punya jobdesc beresin rumah biar bersih, pas nggak bersih ditegur ini rumahnya kok nggak bersih, direspon kalau bapak/ibu gak suka saya kerjanya kurang ok silahkan pindah rumah.
biar apa sih band abang abangan ini naro logo A bulet begitu? masa band yang bawabawa anarkisanarkisan transphobic? maksude piye iki perskenaan iki? demen banget ngejual anarkisanarkisan demi jadi abangabangan superpower yah? halah monyet!
Masih aja nyari pembenaran abcde
Minta maaf ke mas bule dan dipost juga ya mba, soalnya lu caci maki dia dipost dengan gagah berani kan 🙂 semoga aja masnya masih ngegym di situ ya dan ga trauma liat muka lu!!
kindness above everything ingetttttttt
Kesel bgt sama orang oranng model begini, lu ngonten di publik ya begitu resikonya. Kalo gamau diganggu ya lu minta temen temen lu tuh buat jagain jangan sampe ada yg lewat
Dan ini 100% salah cewe itu karna dia punya opsi untuk ga posting. Tapi dia milih posting dan giring opini publik,tapi sayang tidak sesuai harapan malah skrg dia yg di tolol tololin terus nge down hapus postingan
Kalimat "Kalau Dipanggil Yang Maha Kuasa Saya Tetap Monitor Kalian," ini problematis.
Secara literal, kalimat itu menyatakan bahwa bahkan setelah meninggal (“dipanggil Yang Maha Kuasa”), seseorang masih akan “memonitor” orang lain. Tentu ini mustahil secara faktual. Karena itu, kalimat tersebut bukan pernyataan literal, melainkan metafora. Masalahnya, metafora yang dipilih menyiratkan bahwa pengawasan dan kontrol pribadi melampaui batas kehidupan. Dalam budaya demokrasi modern, kekuasaan seharusnya melekat pada institusi, bukan individu. Ini seolah-olah hendak menyatakan, bahkan kematian tidak mengakhiri kekuasaan seseorang.
For those who want a bit more context: a massive student and worker protest is unfolding in Indonesia’s capital in response to the Prabowo government’s decision to raise fuel prices, alongside other policies that many Indonesians are calling corrupt because they deepen the burden on working-class Indonesians already struggling with rising living costs and a weakening rupiah.
What’s fueling the anger even further is the broader feeling that economic pressure is being pushed downward onto ordinary people while major policy decisions continue to favour politicians and the ultra wealthy.
Just last year, Indonesians protested over the same kind of government corruption, which led to a crackdown on its own civilians using military force in cities like Jakarta and Bandung, resulting in multiple deaths and injuries, including those of students.
This situation, however, embarrassed the Probowo government, as people from all over the world began paying attention and massed mobilised to send food, medical/legal aid and financial donations via apps like Grab and Ojek (the region’s equivalent of Uber) the movement received particularly strong support from people across Asia, especially Southeast and East Asia, while also drawing contributions from around the world. This is why Indonesians are asking the world pay attention to their country again.