- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Twit ini BERBAHAYA karena sudah asbun berbicara mengenai seksualitas tahap anak. Kalau sudah mengenai anak, ada hal-hal yang wajib diluruskan:
1. Ketertarikan anak pada seseorang (pada usia 5-8 tahun) itu justru lebih ke kagum, ingin dekat, dan perasaan excited dengan orang tertentu. Lebih ke membangun ikatan emosionalnya, bukan untuk ikatan romantis apalagi seksual. Anak kecil itu masih dalam tahap eksplorasi mengenai apa yang dirasakannya. "Cinta monyet" anak kecil itu innocent: main bareng, peluk, menyayangi satu sama lain. Dan tidak untuk ke arah romantis/seksual (jika ada anak usia segini yang mengeksplorasi ke arah sana, itu membahayakan dan harus diberikan batasan tegas. Karena anak harus dilindungi dari aktivitas seksual, meskipun itu dengan sesama anak lainnya).
2. Andai ada anak kecil laki-laki bilang "aku suka dia" ke anak laki-laki lain, itu tidak bisa langsung dilabeli sebagai gay. Mengapa? karena anak-anak itu masih proses mengenal berbagai macam jenis perasaan yang muncul dalam berbagai interaksi sosial dan tidak mengetahui arahnya akan ke mana dan itu sangat dinamis dan berubah-ubah, sehingga tidak bisa langsung disebut sebagai ketertarikan romantis atau seksual.
3. Anak tidak bisa dilabeli atau mengambil label terlalu dini (makanya aneh kalo ada anak dilabeli gay, lesbi, bi-), dsb. Biarkan anak berkembang natural dengan bimbingan yang benar dari orang tua, ketika nanti sudah dewasa dan sudah mengenal berbagai macam emosi, baru mereka tahu mengenai jati diri mereka, karena label itu bisa memengaruhi self-perception dan perilaku. Dan juga dalam Islam, anak harus diajarkan sesuai dengan keadaan ia dilahirkan, jika ia laki-laki maka harus mengikuti fikih laki-laki, ketika dia perempuan maka harus mengikuti fikih perempuan.
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
Beliau bukan presiden yang sempurna, banyak sekali kekurangannya.
Tapi beliau adalah presiden yang decent dan tau harus bertindak bagaimana.
Ya Allah, mohon... Karuniakanlah kami presiden minimal yg seperti Pak SBY. 😭
@tanyakanrl Gapapa banget kak, justru kakak hrs ada di pihak suami dan kuatin dia. Ttp berbakti secukupnya sm ortu aja, asal jangan jd durhaka cukup. Sisanya bela dan tetap ada di sisi suami kakak 🩷
@18fesss Big no nder!! Cowo baik2 mana ada ngajak liburan berdua bareng. Adanya ngajak nikah duluu dan dia serius dgn usaha nikahnya. Biasanya yg iseng2 berhadiah ngajak liburan, ntar iseng2 berhadiah jugaa ngajak macem2. Gaada ya cowo yg ga nafsu berduaan sm cewe yg dia suka
@18fesss Kak, jangan salahin dirimu. Justru kewajiban suami kakak untuk berusaha mebiayai dan memfasilitasi pengobatan kakak. Coba deeptakl baik2 sama suami, mau dia kyk gimana dan kakak juga bilang baik2 maunya kakak. Semiga segera menemukan jalan keluar, dan kakak segera sehat