@h_ejoon Miyeon meraih mangkok ramennya, dia mulai menyantap mie di dalamnya sendiri, tanpa disuapi. “Sekarang aku ‘kan tidak mengabaikanmu?” Sebelah alisnya terangkat naik. “Laporanku akan kukerjakan nanti, supaya aku bisa fokus pada bayiku yang mulai merajuk ini,” candanya.
@h_ejoon Kedua sudut bibir Miyeon tertarik ke bawah, dia cemberut dan berekspresi lucu. Kalau teman kerjanya melihat wajah Miyeon yang sekarang, mereka pasti akan menertawai—mengingat Miyeon dikenal sebagai karyawan galak di kantor.
“Jangan pulang,” katanya. Dia menggenggam baju +
@h_ejoon + mulutnya. Miyeon menghela napas, dia membuka mulut—bukan untuk melahap keripik, melainkan berkata, “Hejoon-ah.” Dia menoleh, ke pemuda di samping yang beberapa tahun lebih muda. “Tidak lihat aku sedang apa?” Nada bicaranya netral dan berucap rendah, tanpa maksud memarahi.
@h_ejoon Suara berisik dari televisi hanya membuat Miyeon melirik sekilas dengan kening berkerut, atensinya kembali pada layar laptop; jemari masih mengetik di atas keyboard.
Rupanya, 'gangguan' belum berhenti sampai di sana. Kali ini ada tangan yang mendekatkan keripik ke arah +
@h_ejoon + Laporan harus diserahkan besok pagi ke atasan, dan masih delapan puluh lima persen hingga akhirnya selesai—Miyeon masih belum dapat bernapas lega.
Bahkan, eksistensi kekasih yang berada di sisinya tak diperhatikan oleh Miyeon. Si sulung dari dua bersaudara ini malah sedikit +