@keeneye_sikho@txtfrombook Oleh krn itu, penerjemah dapat dikatakan sbg penulis kedua. Pekerjaan dia bkn sekadar meng-ALIH-kan BAHASA, tp jg mengalihkan MAKSUD, KONTEKS, dan PENGETAHUAN. Maka tidak aneh di beberapa terjemahan berkualitas terdapat catatan kaki atau catatan tambahan di akhir buku (endnote).
@keeneye_sikho@txtfrombook Sama halnya klo nerjemahin non-fiksi atau karya ilmiah, penerjemah idealnya punya latar pendidikan yg relevan di bidang itu atau setidaknya memiliki kefamiliaran dg istilah teknis yg dipakai.
aku pertama baca animal farm itu terjemahan ini. kemudian pas baca lagi yang terjemahan bentang, berasa banget tololnya. akhirnya, aku putuskan buat baca lagi dengan versi teks asli. baru tuh terkaget-kaget dan terheran-heran, this mothefucker nerjemahin ‘oat’ menjadi ‘beras’ supaya pas dgn pembaca indonesia.
mahbub gk cuma nerjemahin kata-kata, dia juga menerjemahkan konteks.
@ardibhironx@rothcefeler@menuembegejelek@JujuPoil@grok Untuk diri saya, maafin saya, jika saya penakut, mental lemah, tidak pandai bersosial, pendiam, jadi beban orang lain, pemalu, mudah stres, mudah deg-degan, dipendam sendiri, anxiety.
Kapan ya qt bs berhenti sibuk dg jargon, istilah2 atau ganti namalah, tp langsung menyelesaikan substansi-nya. Mau Tatar Sunda atau Sunda Empire lah, Gubernur diganti Narpati atau Prabu Sunda lah, yg penting Rakyat bahagia dan sejahtera, masalah2 di Jawa Barat teratasi.
Energi terlalu banyak terbuang untuk ruwatan nama. Sedangkan masalahnya setinggi gunung bantar gebang.
Kalau mau tau gak adilnya gaji dosen
Jadi gini, gaji dosen itu: Gaji Pokok + A + B + C + D + ...
Jangan tanya ke dosen yang sedang pegang jabatan atau di tengah karir. Mereka mah A, B, C, D-nya banyak.
Masalahnya: A, B, C, D-nya ini:
1) Gak didapat dengan mudah
2) Bisa hilang
3) Gak aksesibel ke semua orang
Tanya ke 2 kelompok: dosen muda dan dosen yang mau pensiun.
***
Tanya ke dosen muda. Yang baru masuk. Yang dapetnya Gaji Pokok doang. A, B, C, D, ... -nya belum ada.
Yang baru nikah, baru punya anak, baru bayar anak sekolah. Yang baru masih punya master, belum punya doktor.
Mereka masih harus nyiapin biaya lahiran, ngerawat anak, uang masuk TK, bayar sekolah SD.
Masih harus nyiapin uang buat tugas belajar buat dapet S3. Beasiswa cari sendiri. TOEFL dan TPA bayar sendiri.
Tunjangan belum ada. Jabatan fungsional pertama ngurusnya bisa tahunan. Kalau dapet tunjangan Asisten Ahli masih 375 ribu.
Sertifikasi dosen belum bisa. Harus Asisten Ahli dulu. Itu pun harus 2 tahun setelah memenuhi BKD. Masih harus bayar training Pekerti/AA pake duit pribadi dulu.
Insentif publikasi? Duit publikasi dari mana? Risetnya dibayarin siapa? Waktunya kapan kalau buat bertahan hidup aja susah.
Proposal riset? Minimal harus udah Lektor biasanya. Biar bisa riset harus lektor. Biar bisa lektor harus riset.
Jabatan di kampus? Mesti berpolitik, ngemeng sana, ngemeng sini.
Semua A, B, C, D itu belum ada.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen muda yang menerima gaji pokok doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
***
Kelompok kedua: dosen yang sudah sangat senior.
Di mana A, B, C, D - ... nya sudah tidak kepegang lagi.
Jabatan sudah kena regenerasi ke yang lebih muda. Hilang tunjangan jabatan struktural.
Kondisi kesehatan sudah jauh menurun. Mesti pasang cincin jantung, mesti rutin cuci darah, mesti dirawat di rumah sakit. Keluar biaya banyak.
Banyak dosen senior yang sampai minta donasi ke koleganya, untuk perawatan.
Mau publikasi juga udah gak kuat. Ilmu yang dipelajari udah gak lagi update. Mau belajar lagi udah gak sehat. Insentif publikasi udah gak masuk lagi.
Mau proyekan juga kondisi udah gak memungkinkan. Bolak-balik Jakarta ke kota kampusnya udah gak kuat lagi. Kalau dipaksain memperburuk kondisi kesehatan.
Tabungan udah dipakai buat hidup, nyekolahin anak, nguliahin anak, yang jumlahnya lebih dari satu. Tiap anak biaya sekolah makin naik, UKT terus naik.
Tinggal gaji pokok doang, paling sama sertifikasi. Dengan UMR yang terus naik, paling juga udah di bawah UMR setahun dua tahun lagi.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen senior menerima gaji pokok + sertifikasi doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
Saya sepakat dengan Zoetmolder: akar dari Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Filsafat Timur mendefinisikan bahwa puncak Filsafat adalah pengetahuan akan Tuhan. Tentang yang Maha Mutlak dan hubungan-Nya dengan manusia. Kita akan menjumpai ini di peninggalan budaya.
PhD. "P"nya = Philosophy.
Semua ilmu pengetahuan (tanpa terkecuali) berakar dari filsafat. Mahasiswa wajib mengetahui ini sejak level bachelor
Filsafat di sini bukan yaping dgn bahasa ndakik-ndakik ala sosmed. Filsafat adalah cara berpikir bijaksana.
Contoh dalam bidang gue...
Fyi, argumen para pecinta LGBT itu lucu² dan rapuh banget.
Pernikahan laki-laki & perempuan itu bukan patriarki, justru sistem yang paling adil dan natural sesuai fitrah manusia.
Suami bertanggung jawab penuh sebagai qawwam (pemimpin & penanggung jawab): mencari nafkah, melindungi, membiayai istri & anak. Sedangkan istri punya peran mulia mengurus rumah tangga & mendidik anak, tapi bukan budak.
Istri tetap boleh bekerja, punya harta sendiri, dan suami wajib memperlakukannya dengan baik (mu'asyarah bil ma'ruf). Bahkan nafkah lahir batin tetap jadi kewajiban suami, meski istri kaya.
Sekarang bandingkan dengan pasangan sesama jenis yang mereka puji:
- Tidak ada pembagian peran alami → seringnya malah timbul kompetisi ego, dominasi fisik/emosional, atau "siapa yang jadi laki-laki" (top/bottom) yang justru meniru pola heteroseksual tapi dipelintir.
- Tidak ada fitrah reproduksi & pewarisan keturunan yang sah.
- Statistik dunia (bahkan di negara Barat yang super liberal) menunjukkan hubungan sesama jenis cenderung lebih pendek, tingkat kekerasan & perselingkuhan lebih tinggi, dan anak yang dibesarkan di lingkungan itu punya risiko psikologis lebih besar.
So, nikah yang bener, ya guys. Jangan ikut-ikutan narasi yang rusak fitrah. 🔥
Di Cirebon pun demikian. Malah menurut tradisi lisan ulama-ulama Cirebon, mantra-mantra jampi jangjawokan itu sengaja "dimacetkan" oleh Sunan Gunung Jati sampai perapal membaca bismillah dan syahadat. Dari situ muncul juga apa yang disebut sebagai Syahadat Cirebon.
Take pendidikan hari ini:
Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa siswa kita ini “kurang critical thinking”.
Padahal, banyak siswa sangat kritis di luar pelajaran.
- Bisa membandingkan harga skincare.
- Menganalisis strategi game.
- Membaca pola algoritma TikTok.
- Menilai mana konten yang settingan.
- Membaca ekspresi teman.
- Mencari celah diskon.
- Memahami konflik sosial yang rumit di kelas.
Tapi begitu masuk di pelajaran, mereka sering terlihat pasif.
Sering kali karena mereka tidak punya cukup pengetahuan, kosakata, dan konteks untuk berpikir kritis di topik itu.
Critical thinking bukan tombol yang bisa langsung dinyalakan di semua bidang.
Anak bisa kritis di hal yang dunianya ia pahami, tapi tampak “kurang mampu berpikir kritis” di topik yang bahasanya terdengar asing, konteksnya jauh dari keseharian mereka, dan pengetahuan dasarnya masih bolong-bolong.
PR kita adalah memperkaya dunia pengetahuan anak agar pikirannya punya bahan untuk bekerja.
Pergeseran corak Islam dari pesisiran menuju pedalaman di era Mataram Islam itu menarik. Islam gaya sufisme ortodoks yang disusun oleh para Wali Islam bertemu dengan kebudayaan Hindu-Buddha di pedalaman. Akhirnya lahir corak Islam sufisme falsafi akulturatif.