@VikirBaskervl & karena ipar sy dokter, sy sdh di info bahwa baby bisa bertahan tanpa makan dan minum sampai 3 hari. Perawatnya langsung diem, malamnya anak in room dan alhamdulillah ASI istri lancar. Gongnya pagi ketemu DSAnya sangat menyarankan ASI eksklusif. Bisa jadi akal2an perawat
@VikirBaskervl Jadi inget pas lahiran anak di 2025, perawat RS nyuruh beli sufor & wajib di mereka, katanya arahan dari DSA, sy tolak, perawat maksa sampai ancam anak lgsg in room dgn kondisi istri sy masih muntah2 after sc, sy state, sebagai ortu sy punya hak menolak
Baru habis ngobrol dengan salah satu Jenderal Polisi, teman lama lebih dari 5 tahun yang saya selalu hormati dan baru tau sekarang kalau misalnya kita jadi korban penipuan akun sosmed yang menipu misalnya fraud, scam atau jastip bodong bisa lapor lewat sini biar diblokir rekeningnya : https://t.co/RV34fJ8Fhu jadi ga perlu nunggu lapor polisi dulu buat nyegah jatuh korban lainnya. Salut solusinya dari Polda Metro Jaya buat pelayanan masyarakat ๐ซก๐ฎโโ๏ธ
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
@worksfess Kebetulan tim ijo, udh jalan 5 tahun, salary OKE pake BANGET untuk entry levelnya (apalagi untuk FG), fasilitas lengkap, kendaraan, budget rumah/kost, asuransi, budget kesehatan & pulkam. Culture & lingkungannya bener2 nyaman, aware sama karyawan, atasan supportif.
@ezash Asli bang eza, ini bener2 salah satu rejeki punya atasan full support. Punya manager support abis2an timnya, ada beberapa temen kantor finally naik jabatan after >10 tahun stag. Bener2 karir semua timnya diperjuangkan abis2an, plus tipe atasan yg jadi role model, contoh nyata.
Oatside growing nya lagi kenceng, mulai banyak kafe yg punya opsi non-dairy Oatside. Yang bikin kaget, banyak yg ngira pure produk luar, padahal pabriknya di Bandung.
Cuman 3 tahun aja bisa expand di 15 negara & jadi susu kepercayaan Starbucks. Coba kita bahas ya ~