Temen gw kerja di front office hotel bintang 4 di Bali.
Suatu malam gw tanya: "Kalau gw mau nginep di hotel lo, booking di mana yg paling murah?"
Dia bilang satu kalimat.
Satu kalimat yg bikin gw gak pernah lagi booking lewat Agoda atau Traveloka.
Dan setelah lo baca thread ini, lo juga gak akan.
Kalimatnya:
"Telepon langsung ke hotel. Bilang lo liat harga di Agoda Rp sekian. Minta harga lebih murah. Kita PASTI kasih."
Gw kaget.
"Serius?"
"Serius. Tiap tamu yg booking lewat app, hotel bayar komisi 15 sampai 25 persen ke app itu. Kamar Rp 1 juta? Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu masuk ke kantong Agoda. Bukan ke hotel."
"Jadi kalau gw telepon langsung?"
"Komisi itu gak ada. Hotel bisa kasih lo harga lebih murah DAN tetep untung lebih gede. Semua seneng. Kecuali Agoda."
Gw coba.
Hotel yg sama. Kamar yg sama. Tanggal yg sama.
Harga di Traveloka: Rp 1.250.000. Harga di Agoda: Rp 1.180.000.
Gw telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat di Agoda harga kamar deluxe tanggal segini Rp 1.180.000. Ada harga lebih baik kalau saya booking langsung?"
Jawaban resepsionis: "Bisa, Kak. Kami bisa kasih Rp 950.000. Sudah termasuk sarapan."
Selisih: Rp 300.000. Plus dapet sarapan yg di app BELUM termasuk.
Satu telepon. 2 menit. Hemat Rp 300 ribu.
"Kenapa hotel gak pasang harga murah itu di website sendiri aja?"
Nah. Ini bagian yg gelap.
Temen gw bilang: "Kita GAK BOLEH."
Hotel punya kontrak dg Agoda, Traveloka, Booking com. Di kontrak itu ada satu klausul yg namanya RATE PARITY.
Artinya: hotel DILARANG pasang harga lebih murah di channel lain, termasuk website sendiri, selama harga itu bisa diliat publik.
Kalau ketahuan, app bisa turunin ranking hotel di hasil pencarian. Hotel jadi gak keliatan. Booking anjlok. Revenue mati.
Jadi hotel terjebak. Mau kasih harga murah ke tamu, tapi gak boleh.
Kecuali lewat satu celah.
Celahnya: TELEPON.
Rate Parity berlaku buat harga yg DIPUBLIKASI. Website, app, iklan.
Tapi harga yg dikasih lewat telepon? Itu PRIVATE. Gak dipublikasi. Gak bisa ditrack sama Agoda.
Makanya temen gw bilang: "Telepon langsung."
Bukan lewat WhatsApp resmi hotel (bisa diaudit). Bukan lewat website (bisa ditrack).
TELEPON. Suara ke suara. Gak ada jejak digital buat Agoda trace
Ini bukan cheat. Ini cara hotel kasih harga yg SEHARUSNYA lo dapet dari awal. Sebelum 15-25% dipotong buat komisi app
Gw tanya lebih jauh: "Trs kenapa gak semua orang tau ini?"
Temen gw ketawa.
"Krn Agoda dan Traveloka spend MILIARAN buat iklan. Google Ads. Instagram Ads. Influencer. Cashback. Promo.
Semua itu biar lo TERBIASA booking lewat mereka.
Biar lo gak pernah kepikiran buat telepon langsung.
Biar lo gak pernah tau bahwa Rp 150 ribu dari setiap booking lo itu masuk ke kantong app, bukan ke hotel yg ngelayanin lo."
Dan satu lagi yg temen gw bilang.
"Kalau lo telepon dan bilang lo MEMBER loyalty program hotel, harga bisa turun lebih jauh lagi."
IHG Rewards. Marriott Bonvoy. Accor ALL. Daftar GRATIS.
Member rate kadang 10-20% lebih murah dari harga publik. Dan itu SAH. Krn member rate masuk kategori "private rate" yg gak kena aturan Rate Parity.
Jadi stacknya:
Harga Traveloka: Rp 1.250.000. Harga telepon langsung: Rp 950.000. Harga member rate: Rp 850.000.
Selisih total: Rp 400.000. Buat yg PERSIS SAMA
Senjata lo:
Satu. JANGAN langsung booking di app. Liat harga di sana, catat, tapi JANGAN klik bayar.
Dua. Telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat harga di Agoda Rp sekian. Ada harga lebih baik kalau booking langsung?" Kalimat itu aja. Gak perlu negosiasi keras.
Tiga. Daftar loyalty program hotel GRATIS. IHG, Marriott, Accor , semua bisa daftar di app tanpa bayar. Member rate bisa lebih murah lagi.
Empat. Kalau hotel chain besar: cek website resmi mereka. Banyak yg punya "Best Rate Guarantee" kalau lo nemu harga lebih murah di app lain, mereka MATCH dan kadang kasih diskon tambahan.
Lima. Kalau hotel independen atau boutique: WhatsApp atau DM Instagram mereka. Hotel kecil LEBIH fleksibel soal harga krn gak seketat chain besar soal Rate Parity.
Agoda dan Traveloka bukan musuh.
Mereka berguna buat CARI hotel. Bandingin fasilitas. Baca review. Liat foto.
Tapi begitu lo udah tau hotel mana yg lo mau?
Tutup app. Buka dial pad. Telepon.
2 menit. Satu kalimat. Rp 300-400 ribu lebih murah.
Temen gw bilang ini ke gw. Sekarang gw bilang ke lo.
Dan sekarang lo tau kenapa Agoda gak mau lo tau ini.
cc : emmawithai
@mapunzell Beberapa minggu lalu baru bikin SIM C, ikutin semua instruksi dari awal :
- tes kesehatan disuruh baca tulisan (tes buta warna, tes baca jarak alfabet) ✅
- psikotes ( angka 1-9 beda² bentuk) ✅
- tes teori ( ngulang 3 kali ) 🗿
- tes berkendara ( stop n go, letter s ) ✅
Angela Yu adalah seorang pengembang (developer) dan instruktur coding yang sangat terkenal di Udemy. Kelakar di kalangan developer, dia melahirkan lebih banyak programer dibandingkan seluruh universitas di dunia.
Dulu dia adalah dokter medis dan trainee bedah di NHS (National Health Service) Inggris. Kemudian beralih karir menjadi developer dan founder/CTO dari The App Brewery (bootcamp programming di London).
Sudah mengajar lebih dari 3 juta siswa di seluruh dunia melalui kursus-kursusnya di Udemy. Kursusnya sering mendapat rating sangat tinggi (banyak yang 4.7–4.8).
Kursus paling populer yang dia ajarkan
The Complete 202X Web Development Bootcamp (HTML, CSS, JavaScript, Node.js, MongoDB, dll.)
100 Days of Code: The Complete Python Pro Bootcamp
iOS & Swift App Development Bootcam
Kursus Flutter, React, AI, dan lain-lain.
Gaya mengajarnya sangat ramah, jelas, step-by-step, dan cocok untuk pemula. Banyak orang bilang kursusnya “best seller” dan “legend” di Udemy.
Kalau kamu lagi belajar programming (web dev, Python, iOS, dll.), hampir pasti namanya muncul sebagai rekomendasi terbaik.
#infotechbro
Pulang, beresin rumah, lalu tanpa sengaja lihat Mama masih pakai sajadah setipis itu.
Aku bilang,
“Ma, kok masih pakai yang ini? Nggak sakit lututnya? Aku kan sudah beliin yang tebal dan empuk…”
Mama cuma jawab pelan,
“Gapapa, Kak. Itu seserahan dari Ayah waktu nikahan dulu.”
Aku diam. 🥹
Ternyata 30 tahun berlalu, tapi hatinya masih sama.
Setia bukan cuma soal bertahan, tapi soal menjaga kenangan, menghargai pemberian, dan merawat cinta dengan cara yang paling sederhana.
GUys ini sakit sih......
Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi,
tanpa konferensi pers,
tanpa pernyataan apapun dari kementerian?
Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam.
Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya.
Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa.
Ternyata ada sabotase dari dalam.
Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar.
Bocoran pertama:
kas pemerintah hanya cukup 3 minggu.
Bocoran kedua:
uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis.
Bocoran ketiga :
dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing:
Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan.
Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Dari dalam Kemenkeu sendiri.
Dampaknya nyata ke pasar.
Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar.
Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu.
Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri,
ketemu investor satu per satu
menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan.
Bule-bule itu bilang clear.
Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi.
Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri.
Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan:
Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab:
Iya dan tidak. Ada sedikit.
Tapi ada yang lain-lain juga.
Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas.
Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan.
Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen.
Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan:
Pertama
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya.
Mayoritas perusahaan China.
Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar.
Dua sudah dikejar dan berjanji membayar.
Tapi 38 yang lain masih berjalan normal.
Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah.
Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu:
Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya.
Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak.
Kedua
dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada.
Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya.
Jawaban Purbaya:
Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin.
Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin."
Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya.
Oh, tanda tangan elektronik ada loh.
Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan."
Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman."
Ketiga
sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah.
Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance.
Semua isian dari awal lagi.
Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan:
Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu.
Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot.
Tapi di dalam:
Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri.
Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak.
Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya.
Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam.
Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam.
Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini.
sungguh sakit ini negeri kita
Kamu bisa terlihat jahat karena:
Tidak ikut drama.
Mengutamakan diri sendiri.
Tidak mau dimanipulasi lagi.
Kadang jadi jahat versi mereka adalah kebaikan versi dirimu.