Bukti baru bermunculan dan menggugurkan anggapan bahwa peristiwa itu terjadi sekali. Terungkap Surah Al-Ikhlas juga dijadikan materi tantangan kepada pengunjung dengan imbalan satu botol minuman beralkohol.
Dalam rekaman itu, seorang pria bertopi tanduk memegang mikrofon di depan panggung booth Newport yang dipadati pengunjung. "Siapa yang bisa surat Al Ikhlas gua bayarin satu botol," ujarnya di hadapan audiens.
https://t.co/10PkFV1JwI
Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa
A reported dialogue between Ali Larijani and Ayatollah Ali Khamenei before his martyrdom:
Ali Larijani, Secretary of Iran’s Supreme National Security Council, came to Ayatollah Ali Khamenei carrying a cold report — but his heart was not cold.
After a long silence he said:
“My leader… this time the threat is not just a passing message of pressure. A decision has been made. The enemy wants to kill you, even if the sky burns with missiles. We have prepared a fortified location, a place carefully secured and hidden from all eyes — a place bombs cannot easily reach and aircraft cannot strike. It is not hiding, my leader… but a temporary disappearance until the storm passes.”
The Leader remained silent for a moment, then slowly stood up — as if history itself had risen with him.
He approached and asked calmly:
“And when you came to me… what answer did you expect?”
Larijani replied after hesitation:
“I expected you would refuse. But my leader, the nation needs you, and the battle needs its commander.”
The Leader smiled — a smile carrying both sadness and wisdom.
“You are right in the calculations of states and the books of security. But let us speak for a moment in a language older than politics.
How can I ask a soldier to face death if his commander disappears?
How can I tell the people to stand firm… if I am the first to leave the field of danger?”
He paused, as if a door to Karbala had opened within his chest.
“We are the sons of a man named Hussein ibn Ali — the Imam who knew his fate and still walked toward it as one walks toward God’s promise. He did not disappear because his army was small — for he had a greater army in the heavens.”
Larijani replied:
“But my leader, history is not one page. We also have a Hidden Imam whose absence taught us that disappearance is sometimes wisdom, not fear.”
The Leader sighed and answered:
“The difference, Mr. Larijani, is that when the Imam disappeared, he had no army and no nation capable of defending the truth. But we… how can I disappear when I have a nation fighting? How can I vanish while my soldiers stand under fire?
When a leader disappears while he is alone, it may be wisdom.
But when a whole nation stands behind him, his disappearance may become a heavy question in the conscience of history.”
Larijani fell silent, unable to respond.
The Leader shook his hand, thanking him for his concern. After Larijani left, he gathered his family and told them about the proposal — a safe place they could go until the war ended.
They looked at him as children look at the meaning of dignity and simply said:
“We are wherever you are.”
And so the man remained where he was — not because he did not know the danger, but because he knew something deeper:
Some leaders, when they disappear from death, may also disappear from the memory of their nation.
Wajib Lapor Setiap Minggu
Hari ini Sabtu, 14 Maret 2026
Hari libur bagi banyak orang, tetapi tidak bagi saya, karena Wajib Lapor saya harus datang ke POLDA setiap Minggu, hari Senin sampai Jumat karena saya sibuk menyelesaikan persiapan ujian Doktoral, sehingga yang tersisa adalah hari Sabtu ini.
WAJIB LAPOR menjadi kewajiban yang harus saya jalani sebagai Tersangka sejak ditetapkan tanggal 7 November 2025 lalu.
Tanpa terasa sudah empat bulan berlalu, tanpa ada tanda-tanda kapan kewajiban yang sesungguhnya adalah nama lain dari Tahanan Kota ini selesai saya jalani.
Ruang Pemeriksaan KAMNEG DITRESKRIMUM menjadi ruangan yang akrab buat saya.
Seperti hari Sabtu ini, ketika saya ketok ketok pintu yang sepi seperti kamar hantu, setelah lima hari hingar bingar dipenuhi Tahanan dan Polisi dan Reserse dan Pengacara.
Setelah pintu dibuka tampaklah sejumlah Polisi Muda yang wajah kuyu kucek kucek mata. Oh rupanya mereka lembur periksa tersangka dan baru tidur melepas lelah siang ini.
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Bahwa pada suatu hari, setiap minggu, saya harus melangkah menuju kantor polisi untuk wajib lapor.
Seperti hari Sabtu ini,
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap. Jalanan Jakarta masih lengang. Banyak orang menuju tempat rekreasi, tempat ibadah, atau sekadar menikmati sarapan bersama orang yang mereka cintai.
Saya melangkah melalui gedung bertuliskan Tahanan Polda Metro Jaya setiap Minggu, dengan satu pikiran yang sama :
Ini bukan tentang saya.
Ini tentang harga dari sebuah keberanian untuk berbicara.
Saya tidak pernah mencari jalan ini.
Tetapi ketika kebenaran memanggil, kita tidak selalu diberi pilihan untuk hidup nyaman.
Ada rasa perih, tentu saja.
Ada rasa lelah, pasti.
Ada juga saat-saat ketika hati bertanya dalam diam:
Apakah semua ini akan dimengerti suatu hari nanti?
Tetapi setiap kali pertanyaan itu muncul, saya mengingat satu hal yang jauh lebih besar daripada rasa takut.
Bahwa sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tetap berdiri ketika tekanan datang.
Setiap minggu bagi saya sekarang bukan lagi sekadar hari Wajib Lapor.
Setiap Minggu menjadi pengingat.
Pengingat bahwa jalan kebenaran tidak selalu mudah.
Pengingat bahwa suara hati kadang harus dibayar mahal.
Dan pengingat bahwa ketegaran sering lahir dari tempat yang paling sunyi.
Saya datang, saya melapor, saya pulang.
Lalu hidup berjalan lagi seperti biasa.
Karena pada akhirnya saya percaya satu hal:
Kebenaran mungkin bisa ditekan,
Tetapi tidak pernah bisa dihentikan.
Dan selama napas ini masih ada,
saya akan tetap berjalan.
Setenang mungkin.
Seteguh mungkin.
Setegar mungkin.
Karena banyak doa dan harapan bertaburan dan memberi saya kekuatan.
Hasbunallah wanikmal wakil.
Nikmal maula wanikman Nashir.
La haula wala quwwata ila billah.
🇦🇪🇺🇸 Miliarder terkemuka UEA, Khalaf Ahmad Al Habtoor, baru saja menerbitkan surat terbuka kepada Trump. Isinya sangat brutal.
"Siapa yang memberi Anda wewenang untuk menyeret wilayah kami ke dalam perang dengan Iran? Siapa yang memberi Anda izin untuk mengubah wilayah kami menjadi medan perang?"
Al Habtoor adalah tokoh penting: miliarder, mantan diplomat, dan suara politik yang vokal di Teluk. Ketika dia berbicara, para pemimpin UEA mendengarkan.
Pertanyaannya:
- Apakah ini keputusan Anda atau tekanan dari Netanyahu?
- Apakah Anda menghitung kerusakan tambahan sebelum menembak?
- Anda menempatkan negara-negara GCC (negara teluk) di tengah bahaya yang tidak mereka pilih.
- Inisiatif "Dewan Perdamaian" Anda didanai oleh negara-negara Teluk. Sekarang kita diserang. Ke mana uang itu pergi?
- Anda berjanji tidak akan ada perang. Anda telah melakukan operasi di 7 negara: Somalia, Irak, Yaman, Nigeria, Suriah, Iran, Venezuela
- 658 serangan udara di tahun pertama Anda kembali = seluruh masa jabatan Biden (yang Anda kritik)
- Biaya perang berkisar antara $40-65 miliar untuk operasional, dan kemungkinan total biaya mencapai $210 miliar.
- Tingkat persetujuan Anda turun 9% dalam 400 hari
Rakyat Amerika dijanjikan perdamaian. Namun, mereka malah mendapatkan perang yang didanai oleh pajak mereka.
Kalimat yang paling tajam: "Sebelum tinta pada inisiatif Dewan Perdamaian (board of peace) Anda mengering, kita mendapati diri kita menghadapi eskalasi militer yang membahayakan seluruh wilayah. Jadi ke mana inisiatif-inisiatif itu pergi?"
Al Habtoor bukanlah kritikus sembarangan. Dia adalah bagian dari kelompok mapan. Memiliki koneksi. Ketika para elite UEA mulai secara terbuka mempertanyakan pengambilan keputusan Trump, itu artinya sekutu Arab terdekat Amerika mengatakan "kami tidak menyetujui hal ini."
Surat itu diakhiri dengan kalimat: "Kepemimpinan sejati tidak diukur dari keputusan perang, tetapi dari kebijaksanaan, rasa hormat kepada orang lain, dan upaya untuk mencapai perdamaian."
Children are dying of cold in Gaza.
Tents are flooded by heavy rain.
If you're watching this video, add a dot to bypass the algorithm.
"Winter Has Come to Gaza"