menelisik twit2ku ke kurun waktu sebelumnya dan lalu itu emg terlihat betapa lompatan² pikiran dan perasaanku saling ingin tumpang tindih.
kerap terbesit rasa jijik, lebay, tak pantas. apalagi di umur sekarang. bagi org normal timelineku kyk remaja labil. tp kini aku dgaf yeah
mari kita becermin boy, asal tak menyenggol liyan. gaining position bukanlah goal. be humble, sad, and be yourself. sdh besar boy. keep mellow, keep read poems asoy
gatau, tapi aku semakin relate sama salah satu tokoh. kalau dia saking takut dengan ayahnya maka aku saking jengkelnya.
kukira perasaan semacam itu valid. ga bisa serta merta hanya 'aku' yg dicap durhaka, melawan, taktahu terima kasih dan sejenisnya.
Arsip kenarsisan—
Meskipun cerpenku yg lolos tak dibaca SGA sebab memang beliau tak jadi kuratornya, tak apa. Sudah cukup membahagiakan bagiku.
Dan yang nomor 1 itu Danny, kawan kuliah, warga Mojokerto. Amat pantas baginya menyandang gelar pertama. Terima kasih, SGA.
sudah kugali dalam dadaku dari dulu. tp maaf--lihat aku masih pakai maaf--tak kutemukan rasa kasih itu. aku sebenernya tak masalah. yg jadi masalah adalah, tembok cara pikir dan komunikasi setara yang kurasa bak mitos.
mungkin keresahan ini akan panjang di