PSG musim ini adalah tim yang beda: Muda, energetik, cepat, & terpenting: tak malas lari saat bertahan. Ditambah taktik Enrique yang memang matang & terstruktur, ini tim jadi ngeri. Padahal megabintang pergi.
Biarkan tim yang malas lari saat bertahan dipegang Real Madrid saja.
Baru saja, penumpang jkt kota di manggarai peron 10 pas pintu krl ketutup ID cardnya jatoh di peron.
Kebayang sampe kantor on time tapi ga bisa akses gate kantor 😁 @CurhatKRL
Yang nemuin ID card tadi otw titip ke petugas 💪
Karena uda kebiasaan bangun jam 4 pagi pas bulan puasa, jadi ampe sekarang gw tetep bangun jam 4, padahal subuh jam 6 🤣
Biasanya sahur, sekarang diganti nonton youtube DW, aljazeera, dll
Disitu gw mulai nangkep alur berpikir Trump knp ugal2an ngasih tarif gede
Lebaran tinggal menunggu waktu. Satu per satu orang-orang mudik, melepaskan sejenak hal-hal bising dan kerasnya perantauan. Mencoba menemui lagi kampung halaman yang tak pernah bosan memeluk kita dengan segala romantisme masa lalu serta kenangan konyol dan tengik tetapi ngangeni itu.
Sejak dua hari lalu, beberapa kawan yang merantau sudah mulai menampakkan diri. Kami lantas mengatur jadwal untuk nongkrong, melepaskan kerinduan, mencoba mengulang kembali masa-masa saat kami semua masih menjadi anak kecil yang beranjak remaja, masa-masa ketika berkumpul bersama adalah hal yang sangat biasa.
Dulu mungkin kami berpikir, kami selamanya akan bisa menghabiskan ramadan dengan segala kemewahan anak kecil: menunggu waktu berbuka sambil menunggu jatah pembagian jaburan takjil di surau bersama kawan-kawan satu TPQ, berangkat tarawih beramai-ramai, berkeliling kampung sambil berlagak sok heroik menabuh tetabuhan membangunkan orang sahur seolah nasib santap-sahur seluruh warga kampung ada di tangan kami.
Namun, ternyata bukan begitu cara waktu bekerja. Usia terus merambat, dan kami dipaksa tumbuh dewasa, tak peduli sekeras apa pun kami mencoba menahan laju waktu.
Kami harus menerima kenyataan, bahwa kami bukan anak-anak lagi. Kami telah menjadi laki-laki yang harus bekerja, menjadi tulang punggung bagi keluarga kami masing-masing.
Sebagian dari kami cukup beruntung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kota sendiri. Sebagian lain masih menerima nasib menjadi pengangguran. Dan sebagian lainnya harus merantau sangat jauh demi pekerjaan yang menopang harga diri kelelakiannya.
Kata orang, laki-laki tak boleh miskin sebab dunia jahat kepada laki-laki miskin. Kami paham betul hal itu, dan untuk alasan itulah kami tumbuh dewasa.
Lebaran selalu berhasil mempertemukan kami kembali. Dan itulah kemewahan kecil yang layak kami rayakan.
Berkumpul, meminum kopi, membicarakan banyak hal, tentang asmara, tentang kenakalan masa lalu, tentang betapa kami dulu sangat bodoh dan mudah sekali cekcok karena alasan-alasan konyol yang tak jelas.
Malam yang menyenangkan di waktu yang kelewat sempit.
Minggu depan, sebagian dari kami harus kembali ke perantauan dan bekerja. Kami akan sibuk dengan pergulatan hidup kami masing-masing. Dan itu tak mengapa.
Mungkin memang itulah tirakat yang harus kami jalani, demi menunggu waktu saat kami menjadi tua dan peyot, lalu berkumpul di acara hajatan atau kematian salah satu dari kami, sambil membicarakan betapa lucunya cucu kami masing-masing.
Here’s how President Nayib Bukele solves corruption in El Salvador.
He gathered the entire Executive Branch together for a meeting and told them that they are currently under investigation for corruption.
Pelatih Liverpool, Arne Slot beberapa waktu lalu pernah mengatakan tentang format baru Champions League
🗣: “Dengan format UCL yang baru ini, Anda mungkin berpikir menjadi yang pertama di klasemen adalah posisi terbaik untuk berakhir, tetapi, ini klasemen liga yang aneh, tidak dalam arti negatif. Misalnya, bagi saya PSG memiliki pertandingan tersulit di setiap hari pertandingan sejauh ini, uff …”
“Jadi PSG berada di posisi yang cukup rendah di klasemen saat ini yang tidak mencerminkan kualitas mereka, tetapi mereka berada di posisi yang rendah, jadi mungkin jika Anda berakhir di posisi pertama di klasemen, Anda dapat menghadapi PSG (di awal babak gugur), dan itu merugikan bagi tim yang berada di posisi pertama di klasemen, (karena mereka dapat menghadapi PSG). Berada di puncak klasemen tidak memberi tahu Anda bahwa Anda adalah tim terbaik, dan berada di posisi ke-24 tidak memberi tahu Anda bahwa Anda berada di posisi ke-24 dalam hal kualitas.”
Dan hari ini PSG berhasil menyingkirkan Liverpool di babak 16 Besar #UCL
Sore itu, saya sedang sibuk memberi makan dua kompi ikan lele yang saya pelihara di dalam dua ember besar di halaman rumah ketika lelaki muda itu datang.
Ia tidak memperkenalkan dirinya. Atau mungkin ia memperkenalkan diri tapi saya tidak mendengarnya dengan baik. Yang jelas, dari gelagatnya, saya langsung tahu bahwa di adalah seorang sales.
Ia datang dengan rambut yang begitu klimis. Sepintas lalu, rambutnya itu benar-benar tak ada beda dengan rambutnya Marshello si vokalis band The Hydrant itu. Kemejanya begitu rapi. Sepatunya mengkilap dan hitamnya paten seperti sepatu ketua OSIS di hari senin sesaat sebelum upacara bendera.
Ia kemudian mulai berbasa-basi. “Masnya asli sini?” tanya dia dengan roman muka yang sangat ramah.
“Nggak, saya di sini cuma ngontrak, Mas. Saya asli Magelang.”
Tepat saat saya menyebut Magelang, tampangnya langsung berubah. Ia menjadi tampak jauh lebih bersahabat. Rambutnya yang klimis itu menjadi terlihat semakin berkilau.
“Magelangnya mananya Tegalrejo, Mas?”
“Agak jauh, saya dekat Akmil.”
“Saya dulu pernah mondok di Tegalrejo, Mas.”
“Pondok API-nya Gus Yusuf?”
“Nah, iya. Gus Yusuf itu kiai saya.”
“Oh, saya kenal baik sama beliau, baru beberapa hari yang lalu saya main ke sana.”
Gus Yusuf yang sedang kami bicarakan adalah KH. Yusuf Chudori, pengasuh pondok pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, salah satu pondok pesantren terbesar di Magelang.
Obrolan tentang Gus Yusuf sedikit banyak membuat kami jadi agak akrab sebab kami jadi punya semacam bahan obrolan.
Sejurus kemudian, dengan manuver yang cukup halus, ia kemudian mulai memancing saya ke inti perkara. Saya tahu ia akan menawarkan sesuatu pada saya. Sedari awal, saya sudah memantapkan diri untuk menerimanya dengan baik, selayaknya seorang tuan rumah yang beriman dan berakhlak.
Namun, sedari awal pula saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan membeli apa pun yang ia jual jika memang saya tidak benar-benar membutuhkannya, apalagi jika harganya mahal.
“Ini tak akan lama, saya akan mengakhirinya di saat yang tepat,” batin saya.
Yang ia tawarkan kepada saya ternyata adalah sebuah kalung. Kalung ion. Atau apalah itu namanya. Intinya, ia menjabarkan bahwa kalung tersebut punya manfaat yang baik untuk tubuh saya.
Penjelasannya tentang manfaat kesehatan kalung yang ia jual membuat dirinya seketika berubah dari seorang vokalis band rockabily menjadi seorang mantri kesehatan dari sebuah puskesmas di daerah terpencil.
Sambil sesekali bercerita tentang produknya, ia sempat pula bercerita pada saya bahwa ia sedang dalam masa training. Ia mendapat tugas dari kantor tempatnya bekerja untuk menjual kalung tersebut.
Tepat saat ia menceritakan kisahnya tersebut, mendadak saya melihat diri saya sendiri muncul pada sosok kawan kita ini. Ingatan saya langsung terlempar ke masa sembilan tahun silam, saat saya berada dalam posisi sangat bingung karena tak punya pekerjaan yang pada akhirnya menuntun saya untuk melamar di sebuah perusahaan kecil di mana saya mendapatkan tugas pertama untuk menjual jas tuxedo sebagai bagian dari tes seleksi penerimaan kerja.
Bayangkan saja, saya, dengan wajah yang begitu dekil dan sangat tidak eksekutif, harus menjual jas tuxedo, pakaian yang identik sebagai pakaian orang-orang kantoran sukses.
Bayangan kekhawatiran saya saat itu tentu saja bukan tentang jas yang saya jual itu bakal laku atau tidak, namun khawatir kalau-kalau saya justru dituduh sebagai orang yang habis maling jemuran laundri dan sedang berusaha untuk menjual barang curiannya.
Saya tak bertahan lama dan memutuskan keluar dari arena seleksi karena saya sadar, tidak akan mudah bagi saya untuk menjual jas tuxedo. Itu usaha yang sama konyolnya seperti orang botak yang menjual obat penumbuh rambut. Bagi saya, keberhasilan adalah perpaduan antara kerja keras dan realitas. Dan menjual jas tuxedo bagi saya adalah sebuah kerja keras yang tidak didukung oleh realitas.
Ah, keparat. Sampai mana tadi?
Oh ya, demi mendengar ceritanya bahwa dia sedang dalam masa training itu, saya pun mencoba berbasa-basi.
Saya menampakkan sedikit rasa ketertarikan saya pada kalung tersebut. Walau sedari awal, sekali lagi, saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan membelinya.
Hal itu semata saya lakukan demi meningkatkan kepercayaan diri kawan kita ini saat menawarkan barangnya di rumah berikutnya setelah rumah saya. Semacam penyemangat bahwa barang yang ia jual punya nilai yang membuat orang tertarik walau mungkin belum tentu mau membelinya.
“Berapa, Mas?”
Ia tak langsung menyebutkan harga aslinya. Ia melipir jauh dengan menyebutkan harga yang cukup mahal dan kemudian menurunkannya jika saya membeli darinya saat itu juga.
Pada akhirnya, ia menyebutkan harga jual kalung itu: 299 ribu.
Memang jauh lebih murah ketimbang harga yang ia sebutkan di awal, namun tetap saja, bagi saya, itu harga yang cukup mahal untuk sebuah kalung yang saya bahkan belum terlalu tahu banyak tentang kevalidan manfaatnya.
“Kalung ini bagus kalau dipakai dan menempel di dada. Bisa melancarkan aliran darah,” terangnya.
Bagi saya, tidak ada sesuatu yang benar-benar membuat saya tertarik pada produk yang ia tawarkan setelah ia menjelaskannya dengan panjang lebar.
Tak mau menyerah, kawan kita ini kemudian mengeluarkan ponselnya lalu memutarkan dan menunjukkan pada saya video testimoni dan khasiat kalung tersebut.
Jujur, saya tidak bisa fokus pada video yang ia putarkan, saya justru fokus pada ponsel yang ia pakai untuk memutar video tersebut. Sungguh sebuah ponsel android butut yang saya yakin pasti sudah melalui banyak asam-garam kehidupan, ada banyak lecet dan goresan, tempered glass-nya pun penuh dengan retakan yang tidak karuan.
“Oke, sebelum semakin lama, saya harus segera mengakhirinya,” batin saya setelah ia memutarkan video tersebut.
Namun tampaknya, kawan kita ini benar-benar seorang pekerja keras. Ia terus menembakkan kalimat-kalimat yang membuat saya mau tak mau harus bertahan lebih lama. Kata-katanya berluncuran seperti peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Ini tentu saja berbahaya. Saya adalah orang yang tidak tegaan. Semakin lama waktu yang ia habiskan untuk berusaha, maka semakin rapuh pertahanan saya dan semakin tak tega saya untuk mengakhirinya.
Maka, saya terpaksa mengambil langkah taktis untuk menolaknya dengan cara yang, entah bagaimana, mendadak terpikir dengan spontan.
“Mas, kalau mas kasih saya harga 200 ribu, saya ambil. Tapi kalau nggak, ya sudah. Lain kali saja.”
Saya sudah memperhitungkan hal tersebut. Saya sudah yakin ia tak akan melepas kalungnya di angka 200, sehingga saya pikir, itu akan menjadi penolakan yang cukup halus dan tak menyakitkan hati.
Benar saja. Dugaan saya tak meleset, Ia tak mau melepas kalungnya di angka 200.
“Maaf nggih, Mas. Ini sudah dari sananya. Saya bisa dimarahi kalau jual 200. Saya nanti harus nombok,” terangnya dengan wajah penuh kekecewaan. “299 ini aja sudah harga diskon, Mas.”
“Nggih, pun, Mas, kalau begitu. Mungkin lain kali,” kata saya.
“Ya sudah, Mas.”
Ia tampak layu. Ia kemudian mulai mengemasi barang dagangannya lengkap dengan aneka brosur dan tetek bengek lainnya yang sedari tadi ia gunakan untuk “berperang” melawan saya.
Saya sudah bersiap dan menguatkan diri untuk menerima wajah ketus dari orang yang sudah berpanjang-lebar menjelaskan barang dagangannya namun ternyata yang diterangkan menawar dengan kejam dan pada akhirnya tidak membelinya.
Namun, kali ini, dugaan saya meleset jauh. Yang terjadi ternyata sebaliknya. Kawan kita ini justru berlalu dengan wajah yang tetap menggembirakan.
“Maaf sudah menganggu waktunya nggih, Mas” katanya dengan wajah yang tak kalah ramah dengan wajah yang ia tampakkan tadi di awal. Melihat wajahnya yang tetap pasang wajah ramah itu, ada semacam sesak dalam diri saya.
Sesaat sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan saya dan keluar dari halaman rumah saya, ia sempat berbalik pelan dan kemudian mengatakan sesuatu yang sebentar lagi bakal membalikkan keadaan.
“Mas, kalau suatu saat Mas mampir lagi ke Tegalrejo, tolong sampaikan salam saya buat Gus Yusuf, ya.”
Blaaaaar. Kalimat itu meluncur seperti palu godam yang menghantam jendela perasaan saya. Tepat setelah ia mengatakan kalimat itu, hati saya langsung mencelos. Saya membalas “Ya,” dengan perasaan yang campur aduk.
Ya Tuhan. Saya mungkin bisa menolak tawaran dari seseorang yang menjual barang yang saya tak membutuhkannya. Namun jelas saya tak bisa menolak tawaran dari seseorang yang senantiasa ingat, hormat, dan takzim pada guru dan kiainya.
Maka, baru beberapa langkah ia berjalan, saya segera memanggilnya.
“Mas!” kata saya. “Ya sudah, boleh deh, 299 ribu.”
Ia kembali pada saya dengan wajah yang jauh lebih semringah. Saya lalu masuk ke rumah untuk mengambil uang dan membayarnya.
“Semoga rejekinya lancar ya, Mas,” kata dia. Sungguh sebuah doa yang saya yakin ia berikan dengan tulus. Doa yang kalau setelah ini rejeki saya menyerbu laksana air bah, maka saya yakin salah satunya karena doa tersebut.
“Aamiin, Mas. Suwun,” kata saya.
Lelaki itu kemudian berlalu. Saya memandangi kalung yang kini berada di tangan saya itu. Saya menatapnya dengan prengas-prenges. Kalung yang membuat saya membatin “Bajigur, kok iso-isone aku tuku barang koyo mene.”
Ketika beberapa minggu lalu saya nekat membeli ketipung dangdut, saya merasa itu sudah sangat tidak masuk akal. Tapi ternyata, saya akhirnya membeli barang yang jauh lebih tidak masuk akal lagi.
Kalung itu menjadi bukti bahwa seseorang bisa kalah sekaligus menang dalam waktu bersamaan.
Hari itu, saya merasa tidak sedang membayar untuk sebuah kalung. Saya membayar untuk sebuah rasa hormat seorang murid terhadap gurunya, sekaligus rasa takzim seorang santri kepada kiainya.
Dengan harga yang kelewat “murah”.
dapet cerita ini masi merinding.
salah satu sifat Allah itu Al-'A'la الْأعلى (Maha Tinggi)
terdiri dari :
'ayn : 'mata'
lam : 'tidak'
Tinggi yang "tidak tampak di mata", meninggikan Allah dengan hati
iya bener, dibaca saat sujud, merepresentasikan 'meninggikan tanpa melihat', satu2nya posisi solat di mana jantung berada di atas mata.
daaangggggg 😭😭