Sebagai HR aku sangat memaklumi kok kalau misal kandidat gugup dan saat interview menjawab terbata-bata, aku bakal tetep nilai sesuai insight yang dia infokan, kandidat hanya nervous, bukan nya ga bisa kerja.
dari kecil aku nggak pernah diajarin gimana cara ngungkapin emosi, jadi sampai sekarang apa pun yang aku rasain seneng, sedih, ataupun marah semuanya lebih sering aku pendem sendiri. alhasil banyak banget unspoken feelings yang numpuk dan ujung-ujungnya malah nyalahin diri sendiri, even buat hal yang sebenernya bukan salahku. kadang aku juga bingung, kalau lagi seneng harus gimana, kalau sedih harus gimana, kalau marah harus ngapain. kayak… I genuinely don’t know how to express what I feel.
Lately gue suka banget sama kalimat ini.
“Sibukkan diri dengan ilmu, supaya lo nggak dikuasai sama perasaan.”
soalnya pas otak lagi sibuk belajar, kita jadi kurang punya waktu buat overthink hal-hal yang nggak perlu.
women with brains glow differently.
Ternyata kadang tuh emang kita harus ngerasa bener-bener burn out dan capek maksimal dulu, sih. Like, capek nahan ekspektasi, capek deal sama kelakuannya. You know what I mean, right?
Biar apa? Biar akhirnya kita hits that point where kita bener-bener lost respect dan lost feeling ke itu orang. Dan percayalah, phase capek itu krusial bgt biar kita bisa move forward tanpa any lingering guilt.
So, if you're feeling exhausted right now, gak apa-apa, jalani aja the process. Itu tandanya you're on your way to ultimate freedom. Stay strong. ✨
untuk perempuan yang ga sengaja baca tweet ini, nanti kamu akan menjadi wanita karir dengan gaji dua digit perbulan, high value woman, seorang anak yang menjadi kebanggaan orang tua, seorang ibu yang sukses, istri yang solehah, positif vibes dan wanita yang sangat berbahagia.
please respect kalo ada orang yang tiba-tiba take a break dari dunia. yang tiba-tiba hilang dari sosial media, late reply atau ga mau diajak keluar. some people just need time to recharge and get back to their normal life.
aku lah salah satunya. gak pernah neko-neko, pergaulan bebas? no, 100% anak rumahan. dari kecil sampe kuliah selalu straight As belajar juga sebagai tanggung jawab atas diri sendiri. but i always suffer in silence, karena orang tua ngga ngasih emotional safe space.
disaat aku udah dewasa baru protes kenapa ngga terbuka sama mereka, kenapa suka mengambil keputusan sendiri? well... i've been surviving alone all this time (mentally). dulu bahkan aku pernah mikir, "aku yang paling gak neko-neko gini kok malah jadi yg paling unlovable ya dibanding my siblings?" but it's okay aku udah berdamai dengan hal itu. peluk diri sendiri 🫂
Kebanyakan ini karena mother wounds ya alias ada mother issues. Ibunya yang bermasalah tapi dilimpahin ke anaknya terus emosinya sampe anaknya mikir, "Am I not enough? Am I a good child?"
Akhirnya anaknya harus jadi anak yang baik. Biar disayang ibunya. Beruntung lah kalian kalian disana yang nggak perlu ngemis cinta dari ibu. Karena di luaran sana banyak sekali yang punya mother issues. Obatnya? Nggak ada. Obatnya harus healing selama lamanya. Harus mindful selama lamanya.
Bayangin seumur hidup kalian mikirin "how to be enough?" Karena dari kecil kalian ga pernah disayang dan harus jadi anak baik dulu kalau mau disayang. Dan ini dampaknya luar biasa besar sekali apalagi kalo anaknya nggak sadar sadar bahwa dia punya luka itu selama ini. Endingnya kalau dia punya anak, dia kembali menurunkan trauma generasinya itu tanpa sadar. Tanpa sadar ia jadi ibunya sendiri padahal dulu dia nggak suka diasuh seperti itu. Karena dia nggak sadar, dia nggak tahu apa yang salah dan akhirnya meneruskan itu ke generasi selanjutnya.
Anak kalo sudah diam dan penurut itu siksa batinnya luar biasa besar. Aku adalah anak dengan mother issues itu. Ibuku pun korbannya. Aku kira everythings is gonna be okay pas aku besar nanti. Pas aku bisa cari uang, pas aku bisa kerja sendiri, pas aku pergi dari rumah. But, it's not. I lost my self, i fail my college, just because i still wondering "Am I enough for you?" di pertemananku.
Ada masalah dikit aku bisanya kabur. Aku tutup rapat rapat aksesnya untuk temenku nanya karena aku nggak mau keliatan sakit, gagal. Pas aku balik kuliah temenku udah gamau temenan and it's hurt me so bad. Aku terlalu peka sama orang, every movement akan aku analisis karena aku terbiasa harus membaca situasi dan mood ibuku di rumah. Jadinya aku banyak overthinking dan milih langsung pergi saat lihat temenku badmood, nolak ajakanku, atau tone bicaranya berubah. Karena aku ngerasa it's my fault padahal ya namanya orang ada malesnya, ada badmoodnya dan itu wajar kan.
Aku selalu takut ditolak. Selalu mikirin what if karena terbiasa harus sempurna. Jadi gagal sedikit, ada kesalahan sedikit, i will blame my self for a whole life.
Pertama kali aku ke psikolog itu karena ada masalah ospek. Aku bilang aku takut banget, tremor, sesak napas. Aku juga ada riwayat di bully pas sd. Tau ga apa yang pertama kali psikologku tanya? "Mbak anak ke berapa di rumah? Sering dimarahin ya di rumah?" Padahal aku lagi bahas ospek dan ga bilang sama sekali tentang keluargaku.
Family matters. Polanya selalu ada dari keluarga. Tapi untungnya aku ke psikolog saat itu. Sesuai dugaan ada anxiety atau kecemasan berlebih. Tahun ini nambah besar ada yang diagnosisnya mixed anxiety and depresive disorder dan agoraphobia.
Semua itu asalnya dari satu sumber. Terpaksa jadi "good child" pas kecil. Aku akhir akhir ini mulai mempelajari what's wrong with me dan I really really recommend to read buku "Family Constallation" by Meilisa Sutanto. Karena di buku itu di jelasin tentang trauma keluarga yang menurun. Dari buku itu aku juga belajar bahwa it's not my fault. It's not my only fault.
hari ini gue nangisin balita yang ditinggal sendiri setiap hari sm ayahnya krn ayahnya kerja ibu nya gtw kemana.
ngebayangin anak sekecil itu harus bangun sendiri, duduk sendiri, minum susu sendiri, bahkan sampe ketiduran depan pintu nunggu bapaknya balik:)