20s lesson:
- penting berprinsip banyakin kuantitas = banyak peluang. Two is one, one is zero, dalam ide dan tindakan
- a/b testing is must
- selalu berkata "harus", kurangi bilang nggak bisa
- jangan pernah ragu invest ilmu/skill
- Nabung penting banget, at least 50% income
Banyak orang blo'on asal nuduh horror esek-esek sebagai bukti jeleknya perfilman indon.
Padahal yang lebih mewakili seberapa membosankan dan busuknya perfilman indon tuh justru film fantasi mandul middle class macam Home Sweet Loan, Sore, dan NKCHTI.
Selalu ada hikmah di balik merantau, patut disyukuri.
Dulu, sejak SMP merantau ke Bandung cara berpikir jadi lebih terasah oleh dinamika kota.
Dua tahun lalu pindah ke Jakarta, kondisi ekonomi pun meningkat jauh lebih baik.
Keputusan terbaik: merantau ke Jakarta.
Lingkungannya cepat, kompetitif, dan kosmopolit cocok buat ngejar income cepet dan gede. Hasilnya, income bisa naik sampai 4x UMR Bandung.
Karir di Jakarta, harus siap modal skill, relasi, dan mental, dengan syarat berani hustle parah.
Gimana tanda kalo dia adalah jodoh kita?
Rasa tenang.
Bukan perasaan yg menggebu2, tapi ada perasaan tenang yg aneh. Seperti pulang ke rumah setelah lama pergi. Seolah kita yakin, kalo dia jodoh kita. Bukan cuma cocoklogi.
Selanjutnya, kita jg ngerasa jadi diri sendiri. Gak ada yg namanya kepura2an. Gak selalu jaim di depan dia. Gak ada kekurangan yg ditutupi. Dgn jodoh, topeng itu jatuh dgn sendirinya.
Tanda lainnya, kalo diskusi sm dia kerasa beda. Sekalipun beda pendapat atau berdebat. Marah, tapi gak pengen menyakiti. Capek, tapi gak pengen pergi. Ego kita gak lebih besar dari kemauan utk ngejaga hubungan.
Kalo kita ketemu dia, bawaanya pengen jadi versi yg lebih baik, bukan karena dituntut. Tapi, kehadirannya bisa menginspirasi utk terus tumbuh lebih baik.
Katanya, jodoh itu tenang, aman, dan mendorong ke arah lebih baik. Ketemu jodoh itu ibarat menemukan bagian diri yg hilang. Dan ketika bersama seolah tubuh kita jadi lengkap.
Ini kesimpulan yg saya dapatkan, dari hasil ngobrol sm orang lain dan ngerasainnya sendiri.
Sejauh ini yang aku perhatiin:
- Masalah orang miskin:
pinjol, judol, utang sana-sini, gali lubang tutup lubang, gaji habis sebelum tanggal, drama keluarga yang ketergantungan finansial, jadi sandwich generation, hidup selalu mode survival.
- Masalah orang kaya:
rebutan warisan, kawin-cerai, perselingkuhan berlapis, keluarga super complicated, tikung-menikung bisnis, merger–akuisisi buat matiin pesaing, monopoli bisnis, anak-anak yang krisis identitas, terbebani ekspektasi orangtua, trust issue akut, bolak-balik ke psikiater.
Intinya, semua kelas sosial ada aja ujiannya masing-masing. Makanya jangan terlalu silau lihat hidup orang. Rumput tetangga emang kelihatan lebih hijau, tapi kita gak tau ada serangga dan ular apa aja di dalamnya. 🐍🌱
Kondisi, anak pertama, brokenhome, sandwich, sejak remaja udah jauh dari keluarga, tinggal pindah-pindah.
Setiap fase dalam hidup, ada maknanya yang hasilnya terasa hingga sekarang
Bangun check WhatsApp penuh notif, ngerjain kerja sampingan sebelum berangkat ngantor. Malemnya pulang kerja ya kerja lagi.
Kerja di empat tempat sekaligus, otak panas, emosi nggak stabil, badan menggigil, tapi uang yang dikejar dari resiko tersebut penting banget bagi saya.
Banyak orang mau punya income 2 digit, tapi banyak orang gamau jalanin prosesnya.
gw tiap hari kerja, senin-jumat dari jam 9-5 kantoran, pulang kerja? harus meeting lagi sama client, ngerjaiin tugas yg dikasih client sampe jam 10 malam
gue pun iri liat teman seusia pada nongkrong, party, liburan, tapi sedangkan gue harus mencari nafkah untuk keluarga dirumah (gen sandwich)
gausah muluk-muluk kejar 2 digit dulu kalo ga siap sama prosesnya. cukup kejar dari yg kecil aja dulu buat mulai. nanti hasil akan datang sendirinya klo semuanya udah oke
hal besar selalu mulai dari hal kecil.
Nggak ada bedanya tubuh saya waktu zaman kuliah: kerja sambil kuliah, sambil ngeBEM, skripsian sambil jualan.
Rasanya nggak pernah selesai, dan nggak akan ada ritme yang ideal dari kerja keras untuk mimpi ingin yang dicapai.