Sebuah langkah balik yg tepat, juga contoh nyata sikap tidak membiarkan setiap usaha penyimpangan demokrasi berlalu begitu saja tanpa ditangkal. Semoga bisa jadi kesadaran bagi semua. Hormat utk bu dosen!
tp maaf ya. sbg org bandung sendiri gue kurang suka sama ke segelintir ke aroganan kesombongan masyarakat bandung.
kalau event mayoritas selalu berlindung dgn pembelaan “gpp ini setahun sekali, gpp ini pesta bandung, kalau ga suka jangan ke bandung” jadi rasanya menormalisasikan kemacetan…
padahal kan gak 100% org merayakan. ada yg sakit, ada org yg keluarganya sekarat. ada org tua yg keganggu, ada perantau, ada yg harus kerja dll” karna kemarin aja terbukti org pulang kerja ga bisa mesen ojol, ada ambulance terhalang. padahal ambulance harus diutamakan…
nah kalau event minoritas aja. mereka merasa terganggu. padahal kan bisa cari jalan lain yg muter kalau ga mau macet2an. toh macet pun ga se bandung. atau sabar sebentar..
In reality, the headline should read:
“Israel tortured and starved Palestinian child, Walid Ahmad, whom it held hostage under administrative detention, without charge, in its prison.”
Sahur membuktikan kita bisa bangun di sepertiga malam bahkan untuk solat subuh,
Tarawih membuktikan bahwa
kita mampu berdiri lebih lama dalam ibadah,
Puasa membuktikan bahwa kita bisa punya kendali atas diri sendiri,
Membaca Al-Qur'an membuktikan
bahwa waktu selalu ada, hanya saja kita terlalu sibuk prioritaskan dunia,
ternyata Ramadhan bukan sekedar bulan peningkatan iman yang sementara, Bulan ini adalah bukti bahwa kita sebenernya mampu melakukannya setiap hari, kalau kita mau.