Ini bukan nasihat orang tua. Ini pelajaran dari mereka yang sudah merasakan sendiri.
Orang-orang berusia 18 hingga 55, ketahuilah Ini:
1. Kesehatan adalah kekayaan sejatimu — jaga sejak dini.
2. Waktu berlalu cepat — jangan habiskan untuk membuktikan diri kepada orang lain.
3. Keahlian lebih bernilai daripada gelar — teruslah belajar.
4. Teman datang dan pergi — keluarga selamanya.
5. Menabunglah saat kamu tidak membutuhkannya — kamu akan bersyukur kelak.
6. Pilih kedamaian daripada drama — itu tidak sebanding dengan energimu.
7. Kebiasaan harianmu yang membentuk masa depanmu, bukan motivasi sesaat.
8. Dunia tidak berutang apa pun kepadamu — perjuangkanlah yang kamu inginkan.
9. Belajarlah untuk berkata tidak — itu adalah kekuatan luar biasa.
10. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
11. Tidak ada orang yang memikirkanmu sebanyak yang kamu kira.
12. Jangan pernah berhenti berkembang — bertambahnya usia bukan berarti berhenti bertumbuh.
Kok narasinya agak lain ya? Seakan-akan Pak Anies nggak kena kasus itu cuma karena "jago strategi" atau main catur yang licin banget biar nggak keciduk. Pilihan katanya kayak nyiratin kalau beliau itu sebenarnya ada celah, tapi pinter sembunyi aja.
Padahal kan simpelnya, kalau orang emang bersih dan nggak korupsi, ya mau dicari-cari kesalahannya gimanapun bakal susah tembus.
Secara normatif, hukum itu harusnya berdasarkan alat bukti, bukan adu mekanik strategi politik buat menghindar. Kalau narasinya "entah strategi apa yang dilakukan," bukannya itu malah seolah-olah nantangin penguasa buat lebih giat nyari celah ya?
Kenapa nggak bilang "beliau selamat karena emang nggak ada masalah," daripada bawa-bawa istilah strategi segala seolah lagi main petak umpet sama hukum?
Lho, klo pendidikan hancur, ya otomatis lahir generasi bodoh — dan generasi bodoh jauh lebih gampang dikendalikan daripada yang pinter. Bukan kebetulan, ini justru resep kekuasaan abadi buat penguasa yang udah dari awal misikin rakyatnya.
Generasi bodoh cenderung jadi generasi miskin, dan kemiskinan bikin orang desperate. Desperate banget sampe rela nyoblos calon yang bakal nyengsarain 5 tahun ke depan, asal dapet amplop 50 ribu pas pemilu. Secara historis, pola ini bukan hal baru — rezim-rezim otoriter di mana pun selalu mulai dari sini: kurangi akses pendidikan, perbesar ketergantungan rakyat ke negara.
Endingnya? Penguasa yang bikin mereka bodoh ini justru makin langgeng — bahkan sampe anak cucunya ikut menikmati kekuasaan itu.
Jadi sebenernya ini bukan kegagalan kebijakan, dong — bisa jadi emang ini adalah kebijakannya?
@tempodotco Bersifat arogansi?
Kesalahan elementer begini menunjukkan isi otak mereka. Gak bisa membedakan kata sifat (arogan) dan kata benda (arogansi). Pantesan...
🚨 Mereka Masuk Lewat Saluran Got. Keluar Membawa Rp 800 Miliar. Dan Tidak Pernah Tertangkap.
Bayangkan situasi ini.
Senin pagi, 19 Juli 1976. Para pegawai bank Société Générale di Nice, Prancis Selatan, tiba di tempat kerja seperti biasa. Namun pintu brankas tidak mau terbuka. Mereka memanggil tukang kunci. Dicoba berjam-jam. Tetap tidak bisa.
Akhirnya mereka membobol dinding brankas dari luar.
Dan begitu masuk… mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Brankas itu dikunci dari dalam.
Di dalamnya: piring-piring makan bekas, sisa makanan empat kali makan, botol-botol anggur kosong, dan lebih dari 300 kotak penyimpanan pribadi yang sudah diobrak-abrik hingga kosong. Emas, perhiasan, obligasi, perangko langka, uang tunai. Raib semua.
Dan di dinding brankas, ada tulisan tangan:
"Sans armes, ni haine, ni violence."
"Tanpa senjata. Tanpa kebencian. Tanpa kekerasan."
Ini bukan film. Ini nyata. Dan inilah salah satu perampokan bank paling luar biasa dalam sejarah umat manusia.
Dari mana mereka masuk?
Polisi yang tiba di lokasi kejadian sampai tidak bisa berkata-kata.
Para perampok tidak masuk lewat pintu. Tidak lewat jendela. Tidak lewat atap.
Mereka masuk lewat saluran got.
Ya — saluran pembuangan bawah tanah kota Nice. Tempat yang gelap, berbau, dan penuh air kotor.
Namun di situlah kejeniusan mereka bermula.
Investigasi polisi menemukan jalur masuk dari sebuah tempat parkir di Place Masséna, salah satu pusat kota Nice. Dari sana, kelompok ini menelusuri gorong-gorong bawah tanah sepanjang ratusan meter, mengikuti aliran sungai Paillon yang memang mengalir di bawah permukaan kota.
Mereka kemudian menggali terowongan sepanjang 8 meter secara manual, menembus tanah tepat di bawah Rue de la Liberté — jalan yang berada persis di atas brankas bank.
Dinding tembok brankas setebal 1,3 meter berhasil mereka jebol.
Dan di sisi lain dinding itu: harta senilai puluhan juta franc.
Dua bulan persiapan. Di dalam got.
Ini bukan perampokan yang dilakukan secara spontan.
Persiapannya membutuhkan dua bulan penuh. Setiap malam, sebagian anggota tim turun ke saluran pembuangan — mengarungi limbah dalam kegelapan, sambil menggali secara perlahan dan diam-diam.
Untuk menghindari deteksi suara, mereka hanya menggali pada akhir pekan, saat bank tutup.
Mereka bahkan sempat menunda eksekusi satu kali karena ada kunjungan resmi Presiden Prancis ke Nice — yang otomatis membuat keamanan kota meningkat tajam. Terlalu berisiko. Mereka mundur satu minggu.
Ini bukan perampok sembarangan.
Perlengkapan di dalam got yang sulit dipercaya:
🔦 Ratusan meter kabel listrik — disambungkan ke sumber daya parkir bawah tanah kota
🌬️ Kipas angin portabel untuk ventilasi udara
🛏️ Kasur angin untuk beristirahat
🍽️ Kompor gas portabel — lengkap dengan seseorang yang bertugas memasak
Ya. Mereka membawa juru masak.
Selama akhir pekan itu, di dalam brankas bank yang dikunci dari dalam, mereka menyantap makan empat hidangan: sup, charcuterie, hidangan utama, dessert, dan anggur. Menggunakan piring perak antik yang mereka ambil dari kotak penyimpanan nasabah.
Sulit untuk tidak terkagum-kagum membacanya.
Total jarahan: 46 juta franc Prancis.
Dikonversi ke nilai saat ini, angka itu setara hampir €29 juta (sekitar Rp 560 miliar) dalam euro modern — atau bisa mencapai lebih dari Rp 800 miliar jika turut memperhitungkan nilai emas, perhiasan, dan aset tak ternilai lainnya yang tidak pernah terdata.
Pada saat kejadian, majalah TIME edisi Agustus 1976 langsung menyebutnya sebagai "the largest heist in the history of bank robberies to that date" — perampokan bank terbesar dalam sejarah pada masanya.
Tidak ada yang menyamai skala ini sebelumnya.
Siapa otak di balik semua ini?
Namanya Albert Spaggiari. Lahir 14 Desember 1932 di Laragne-Montéglin, Prancis Selatan.
Jika Anda berpapasan dengannya di jalan, Anda tidak akan pernah menyangka.
Dia bukan penjahat bertampang seram. Bukan preman berbadan besar. Dia adalah seorang fotografer di Nice — tenang, berpenampilan rapi, gemar cerutu, dan selalu tersenyum. Para tetangganya mengenalnya sebagai orang biasa yang tinggal di sebuah villa bersama istrinya, "Audi", sambil beternak ayam.
Namun di balik wajah ramah itu, tersimpan masa lalu yang kelam.
Masa lalu Spaggiari yang jarang diketahui publik:
Usia 19 tahun — bergabung dengan pasukan terjun payung di Perang Indochina Pertama. Ditangkap karena perampokan bersenjata, masuk penjara selama 4 tahun.
Setelah bebas — bergabung dengan OAS (Organisation Armée Secrète), organisasi sayap kanan yang menentang kemerdekaan Aljazair. Ditangkap kembali atas tuduhan terorisme politik, menjalani hukuman penjara 3,5 tahun.
Dan yang paling mengejutkan — dokumen CIA yang dideklasifikasi pada tahun 2000 mengungkapkan bahwa Spaggiari bekerja untuk DINA, dinas intelijen rahasia Chile di bawah rezim Pinochet. Nama sandinya: "Daniel".
Seorang perampok bank yang sekaligus merupakan agen rahasia rezim militer Amerika Latin. Di Prancis. Tahun 1976.
Sebuah fakta yang bahkan penulis novel thriller pun mungkin ragu untuk memasukkannya ke dalam cerita karena terasa terlalu dramatis.
Bagaimana ide perampokan ini bermula?
Spaggiari mendapat informasi bahwa saluran got kota Nice melewati area yang berdekatan dengan brankas Société Générale.
Bagi kebanyakan orang, itu adalah informasi yang tidak ada gunanya.
Bagi Spaggiari, itu adalah peta menuju harta karun.
Dia kemudian menyewa sebuah kotak penyimpanan di bank tersebut — bukan untuk menyimpan sesuatu, melainkan untuk memasang jam weker di dalamnya. Dia mengatur jam itu untuk berbunyi keras pada tengah malam, lalu menunggu respons dari pihak bank.
Tidak ada respons. Tidak ada alarm. Brankas itu tidak dilengkapi sistem deteksi suara sama sekali.
Direktur bank, Jacques Guenet, begitu yakin dengan keamanan brangkasnya sehingga dia tidak memasang alarm elektronik apapun — dan bahkan memulangkan penjaga malam setiap akhir pekan demi menghemat biaya pegawai.
Spaggiari membaca celah ini dengan sangat cermat.
Rekrutmen: bukan sekadar kumpulan preman
Melalui jaringannya di OAS dan koneksi dunia bawah Marseille, Spaggiari merekrut sekitar 20 orang. Bukan sekadar orang-orang kasar. Tim ini terdiri dari individu dengan keahlian teknis yang spesifik:
⚙️ Ahli penggalian terowongan
🔌 Teknisi instalasi listrik
🔧 Mekanik untuk peralatan berat
👁️ Pengintai yang berjaga di sekitar perimeter bank
Mereka memasuki got pada malam Jumat, 16 Juli 1976 — malam pertama long weekend Hari Bastille. Waktu yang dipilih dengan sangat teliti: sebagian besar warga Nice sedang berlibur, kota sepi, dan bank tutup selama tiga hari penuh.
Mereka memiliki waktu dari Jumat malam hingga Senin subuh.
Dan mereka memanfaatkannya sebaik-baiknya.
Di dalam brankas, mereka berpesta.
Begitu berhasil masuk, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengelas pintu brankas dari dalam — agar siapapun yang datang tidak bisa membuka pintu dari luar.
Aman sepenuhnya.
Lalu mereka mulai bekerja. Membuka satu per satu kotak penyimpanan. Menggunakan 6 obor las dan 27 tabung oksiasetilen. Bahkan menggeser sebuah brankas seberat 5 ton yang menghalangi jalan — menggunakan dongkrak hidrolik berkapasitas besar.
Di antara barang yang mereka temukan di kotak-kotak penyimpanan nasabah:
💰 Uang tunai — termasuk hasil penjualan akhir pekan dari department store terbesar di Nice
🥇 Emas batangan dan perak
💎 Perhiasan dan permata
🖼️ Lukisan dan perangko langka
Dan satu hal yang kemudian membuat laporan berita di seluruh dunia sejenak terdiam:
Setidaknya satu kotak penyimpanan berisi koleksi foto-foto porno milik salah satu nasabah.
Para perampok itu — dengan selera humor yang sulit dijelaskan — menempelkannya ke dinding brankas sebagai dekorasi ruangan.
"Mereka memasangnya di dinding dengan penuh apresiasi," tulis majalah TIME dalam laporan originalnya tahun 1976.
Yang menghentikan mereka: hujan deras.
Bukan polisi. Bukan alarm. Bukan penjaga keamanan.
Hujan lebat di akhir pekan itu membuat permukaan air di dalam gorong-gorong naik secara drastis.
Seorang polisi yang menangani kasus ini menyatakan: "Kalau tidak hujan, tidak ada yang tahu seberapa banyak lagi yang akan mereka bawa."
Dengan air yang terus naik, tim terpaksa mengakhiri operasi. Mereka mengangkut seluruh jarahan menggunakan perahu karet lipat dan rakit dari ban dalam — mengapungkannya kembali melalui jaringan saluran pembuangan menuju van-van yang sudah menunggu di permukaan.
Sebelum pergi, mereka meninggalkan catatan di dinding:
"Sans armes, ni haine, ni violence."
Ditandatangani dengan simbol perdamaian yang dibalik.
Polisi bingung. Nasabah marah. Bank panik.
Ketika berita menyebar, kerumunan warga yang marah memadati jalan di depan Société Générale. Seorang ibu tua dilaporkan pingsan begitu mendengar kabar kehilangan harta simpanannya, dan harus dibangunkan menggunakan brendi.
Masalah yang lebih pelik: untuk keperluan klaim ganti rugi, para nasabah harus mendeklarasikan isi kotak penyimpanan mereka. Padahal di Prancis, menyembunyikan kekayaan dari otoritas pajak di balik kotak bank adalah praktik yang sangat umum. Tiba-tiba, ribuan nasabah kaya dihadapkan pada pilihan yang tidak nyaman: mengakui apa yang mereka simpan kepada negara, atau diam dan kehilangan semuanya.
Banyak yang memilih untuk diam.
Tertangkap — namun hanya sebentar
Tiga bulan berlalu tanpa jejak yang berarti.
Hingga akhirnya mantan kekasih salah satu anggota geng menyerahkan informasi kepada polisi. Dominonya jatuh satu per satu.
Spaggiari ditangkap di bandara Nice pada 27 Oktober 1976 — tepat saat dia kembali dari perjalanan ke Asia Timur bersama Wali Kota Nice, Jacques Médecin, dalam kapasitasnya sebagai fotografer pribadi sang wali kota.
Awalnya dia menyangkal. Kemudian mengaku — tetapi dengan alasan yang mengejutkan: dia mengklaim bahwa seluruh operasi itu dilakukan untuk mendanai sebuah organisasi politik rahasia bernama "Catena" (bahasa Italia: rantai) — yang tampaknya hanya ada dalam fantasinya sendiri.
Pelarian dari ruang sidang yang menjadi legenda
10 Maret 1977. Gedung Pengadilan Nice.
Spaggiari dipanggil untuk bertemu hakim. Dia membawa sebuah dokumen berkode — sengaja dibuat membingungkan — untuk mengalihkan perhatian Hakim Richard Bouaziz.
Saat sang hakim tengah fokus membaca dokumen tersebut…
Spaggiari berdiri perlahan. Berjalan menuju jendela. Dan melompat.
Lantai dua. Jatuh tepat di atas kap mobil yang terparkir. Bangkit. Naik ke boncengan sepeda motor yang sudah menunggu. Melambaikan tangan ke arah hakim dan pengacara yang terpaku di tempat mereka.
Dan pergi begitu saja.
Dikisahkan bahwa pemilik mobil yang kap-nya penyok kemudian menerima kiriman cek senilai 5.000 franc melalui pos sebagai kompensasi kerusakan.
Bahkan dalam melarikan diri pun, Spaggiari tetap menjaga tata krama.
Sisa hidupnya: operasi plastik, Argentina, dan misteri
Spaggiari divonis penjara seumur hidup secara in absentia.
Dia dikabarkan menjalani operasi plastik untuk mengubah penampilannya, dan menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya di Argentina — sesekali kembali secara diam-diam ke Prancis untuk menemui ibu kandung dan istrinya.
Pada 1983, dia sempat muncul dalam sebuah wawancara 15 menit di program TV bergengsi Prancis Apostrophes — dilaporkan direkam di Milan, Italia — untuk mempromosikan buku terbarunya. Dia duduk santai, tersenyum, berbicara dengan tenang tentang perampokan yang mengharumkan namanya di seluruh dunia.
Albert Spaggiari meninggal pada 8 Juni 1989, akibat kanker paru-paru, di usia 56 tahun. Tidak pernah dipenjara. Tidak pernah tertangkap kembali.
Seluruh jarahan senilai lebih dari Rp 800 miliar itu? Tidak pernah ditemukan hingga hari ini.
Plot twist tahun 2010: Ada yang mengaku sebagai dalang sesungguhnya
Tiga puluh empat tahun setelah perampokan, seorang pria menerbitkan buku berjudul "The Truth About the Nice Heist" — mengklaim bahwa dialah dalang sesungguhnya di balik operasi itu, dan bahwa Spaggiari hanyalah pemain kecil.
Identitasnya akhirnya terungkap: Jacques Cassandri, tokoh dunia bawah Marseille.
Karena Spaggiari sudah meninggal dan masa kedaluwarsa tuntutan pidana atas perampokan telah lewat, Cassandri tidak bisa dijerat hukum untuk kejahatan utamanya. Namun polisi yang menyadap teleponnya menemukan bukti pencucian uang dari hasil rampokan untuk mendanai bisnis-bisnis yang dikelola keluarganya.
Dia divonis 30 bulan penjara — bukan untuk perampokan, melainkan untuk pencucian uang.
Di persidangan, dia berbalik arah: "Buku itu hanya karangan fiksi!"
Hakim tidak menerima alasan tersebut.
Warisan: 3 film, 1 novel Ken Follett, dan inspirasi tanpa batas
Kisah ini terlalu luar biasa untuk tidak diabadikan.
📖 Buku Cinq Milliards au bout de l'égout (1977) karya René Maurice & Jean-Claude Simoën — diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Ken Follett pada 1978 dengan judul The Heist of the Century (juga diterbitkan sebagai Under the Streets of Nice)
🎬 Film Prancis Les égouts du paradis (1979)
🎬 Film Inggris The Great Riviera Bank Robbery / Sewers of Gold (1979)
🎬 Film Prancis Sans arme, ni haine, ni violence (2008)
📺 Episode serial dokumenter Kanada Masterminds, bertajuk "The Riviera Job"
Dan hingga hari ini, kasus ini masih belum sepenuhnya tuntas. Sebagian besar harta jarahan tidak pernah kembali. Sejumlah pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya memimpin operasi ini masih diperdebatkan.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?
Yang membuat kisah ini abadi bukan semata nilai rampasannya. Melainkan cara berpikirnya.
Spaggiari dan timnya melihat sesuatu yang dianggap menjijikkan oleh kebanyakan orang — saluran got — sebagai jalur masuk yang sempurna. Mereka bersabar selama dua bulan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Mereka memperhatikan setiap detail, dari sistem ventilasi hingga pilihan menu makan malam.
Dan yang paling mengejutkan — mereka tidak menyakiti satu orang pun.
Anda boleh tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan. Namun satu hal yang sulit disangkal:
Ini adalah salah satu rencana paling berani, paling terperinci, dan paling luar biasa yang pernah dieksekusi dalam sejarah kriminalitas modern.
Dan mereka melakukannya dengan perut kenyang, anggur di tangan, dan senyum di wajah.
Bagian mana yang paling membuat Anda terkejut? Juru masak di dalam brankas? Pelarian dari jendela ruang sidang? Atau fakta bahwa uang senilai ratusan miliar rupiah itu tidak pernah ditemukan hingga sekarang? Tulis di kolom komentar. 👇
📚 Sumber / Bacaan Lanjutan:
🔗 https://t.co/mKCoNJY2nI
🔗 https://t.co/sMzsjXULx9
🔗 https://t.co/ZfittwaKIC
🎥 https://t.co/zUh67QtzK5
Ini momen paling pas buat balikin status 17 bandara internasional yang kemarin dipangkas. Bayangkan, dari 34 tinggal separuhnya doang. Padahal pas Rupiah lagi loyo begini, pariwisata itu "penyelamat" devisa paling instan.
Turis Malaysia atau Singapura itu nggak semuanya mau ribet transit di Jakarta (CGK) dulu. Udah nambah waktu, eh tiket domestiknya mahal gara-gara isu kartel yang harganya nauzubillah. Kalau mereka bisa direct flight ke Bandung, Jogja, atau Belitung, mereka bakal lebih royal belanja baju dan kulineran di sini. Secara historis, konektivitas udara itu kunci multiplier effect ekonomi lokal, bukan malah dipusatin di satu titik doang.
Lagian, buat apa maksa semua orang mampir Jakarta kalau tujuannya mau healing ke daerah lain? Apa gunanya punya banyak bandara megah kalau akhirnya cuma jadi pajangan buat penerbangan domestik yang harganya bikin elus dada?
Emang kelihatan banget ada anomali antara Prabowo versi tulisan sama aslinya. Klo liat disparitasnya, curiga deh jangan-jangan buku sama tweet-nya itu hasil karya ghostwriter. Soalnya gap kualitas narasinya jauh banget, kayak dua orang yang berbeda kepribadian.
Catatan:
Secara psikolinguistik, gaya bahasa seseorang biasanya konsisten (disebut "idiolect"). Kalau ada perbedaan gaya bahasa yang ekstrem antara teks tertulis dan ucapan spontan, itu indikasi kuat adanya campur tangan pihak luar atau penggunaan persona yang dikonstruksi secara sengaja.
Pak SBY ngelukis di Magelang sambil komen soal ekonomi... sementara rakyat nggak punya "political & economic resources" buat bayar beras yg makin mahal.
Kalo emang serius, Pak SBY bisa gerakin Partai Demokrat buat tekan lebih keras dari dalam — itu kan objek pengaruh bapak yg sesungguhnya. Ngasih semangat lewat tweet doang mah kurang nendang, Pak 🙏
🧵 KONSPIRASI GULA: Bagaimana Industri Makanan Memanipulasi Sains Selama 60 Tahun — dan Membuat Kita Keliru Menyalahkan Lemak
Selama puluhan tahun, kamu diajari bahwa lemak adalah musuh. Tapi bagaimana jika itu kebohongan yang dirancang secara sistematis?
1/13
@gen_Z_speak@direktoridosen Contoh orang asbun yg gak tau keadaan lapangan tapi merasa paling puintar dan hebat karena bisa mangap dan menyemburkan frasa yg dia kira paling sakti: "peraturannya sudah dikeluarkan". Sikat gigi dulu sana, Pak.
The Prophet Muhammad ﷺ said: “A man saw a dog eating mud from thirst, so he took his shoe, filled it with water, and gave it to the dog. Allah appreciated his deed and forgave him.”
— Sahih al-Bukhari
Pemerintah harus menjamin kenyamanan warganya. Mereka seharusnya memberantas semua pengamen, kecuali yg menetap dan tidak mengganggu, seperti di Malioboro.
Memang sangat menganggu si di saat kita makan pengamen datang silih berganti, harusnya kewajiban pedagang gak sih ngasih dia biar gak mengganggu pelanggan ? 🤔
Masih menyoal prioritas pendidikan, seperti yang disebut oleh mas @zanatul_91 .
Nomor 1, bangunan sekolah yang layak. Memang bangunan sekolah tidak berkontribusi langsung pada kualitas pendidikan. Tapi, kecuali Anda pengen jadi superhero pendidikan, yang mengajar sambil keluar masuk hutan, yang tahan hujan dan panas, gedung yang layak adalah syarat mutlak untuk sebuah pelaksanaan kegiatan mengajar.
Bahkan bukan hanya gedung, tetapi juga jumlahnya yang cukup merata dan terjangkau. Kita tidak ingin kan anak2 kita harus jalan kaki lebih dari 10 kilometer atau naik sampan satu jam hanya untuk mencapai sekolah.
Nomor dua guru. Guru adalah inti dari pendidikan. Ciptakan guru yang baik kalau ingin memperbaiki pendidikan. Guru2 ini harus diberi penghidupan yang layak karena mereka memegang posisi kunci dalam pendidikan. Kita bisa ngomong panjang lebar soal gaji guru, tapi tidak akan saya lakukan di sini.
Tanpa kurikulum yang baik, tanpa fasilitas yang baik, jika kita punya guru yang baik, pendidikan akan tetap jalan; sebegitu sentral peran guru dalam pendidikan.
Negara harus invest habis2an untuk menciptakan guru yang baik.
Nomor tiga adalah bahan ajar atau konten pendidikan. Ketersediaan bahan ajar dengan kualitas yang baik sangat membantu, terutama bagi guru. Kemampuan setiap guru pasti terbatas, dan ketersediaan bahan ajar bisa memperluas kemampuan guru.
Bahan ajar memang banyak, tapi kita perlu melihat apakah guru dan murid bisa mengaksesnya, karena akses adalah masalah yang paling krusial di sini.
Tidak meratanya distribusi buku, tidak ada sinyal internet adalah masalah di sini.
Dan kita lanjutkan soal digitalisasi bahan ajar.
Sy didik anak sy, laki & perempuan utk bs masak, krn itu basic life skill.
Ragil sy, cowok, SMA, malem² suka buka² kulkas & sibuk di dapur. Lalu tau² bawa piring ndeketin sy, nyodorin sesendok hasil masakannya di dpn mulut emaknya smbil bilang dgn mesra "Ibuk, cicip dong" 🥰