Ya Allah sedih baca suratnya.😭
Dokter Icha meninggal bunvh diri karena depresi usai diintimidasi anggota DPRD Kab. Timur Tengah Utara, Prov. Nusa Tenggara Timur.
Pelaku Intimidasi diduga kuat dilakukan kader Golkar, PDI-P dan PKB yang merupakan keluarga pasien yang sedang dirawat di rumah sakit Leona Kefamenanu.
dr. Icha, 27 tahun, dokter di TTU, NTT.
Tangani pasien gigitan ular.
IDI konfirmasi: sesuai SOP medis.
Tapi tiga anggota DPRD TTU , kerabat pasien , datang, membentak, dan memicu bullying berat di media sosial.
Ironisnya , dua dari tiga pelaku diduga datang dalam pengaruh alkohol
Gubernur NTT mengaku sudah tahu sejak awal.
Responsnya? Berharap "diselesaikan secara baik-baik."
Hasilnya:
dr. Icha pergi selamanya di usia 27 tahun.
Dengan surat wasiat yang isinya satu pesan:
"Jangan ada tenaga kesehatan lain yang jadi korban."
Dokternya benar. Prosedurnya benar.
Yang dilindungi sistem justru yang salah.
Ini bukan sekadar tragedi.
Ini kegagalan negara melindungi para pahlawan kesehatannya sendiri.
"Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana, saya takut. Biar saya mati saja , supaya jangan ada korban nakes yang lain."
Itu pesan terakhir dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni , dr. Icha , sebelum ditemukan meninggal, 26 Juni 2026.
Ia sedang menyelamatkan anak korban gigitan ular. Sesuai SOP. IDI mengkonfirmasi.
Tapi yang diduga anggota DPRD Komisi III , komisi yang membidangi kesehatan , membentak dan mengancam:
"Kau akan bertemu saya di Komisi III."
23 saksi di lokasi. Surat wasiat diamankan polisi , berisi intimidasi dan ancaman.
Bupati TTU sendiri berkata:
"Peristiwa ini akan membuat nakes takut bertugas di sini."
Dr. Icha memilih mati agar rekan sejawatnya tidak jadi korban berikutnya.
Di negara ini ,siapa yang melindungi dokter yang sedang menyelamatkan nyawa rakyat?
Sebagai ortu yang punya anak perempuan, gua membayangkan ortunya pasti tiap hari ngerasa bangga banget ngeliat anaknya ini. Kuliah kedokteran UI, tapi masih punya energi buat ngurusin kerusakan negara hasil kerjaan boomer-boomer ga becus dan serakah.
Salut gue sama Fatimah.
Dulu pas masih kuliah di S1-S2 UI (2013-2020) jarang sekali ngelihat anak FK UI jadi aktivis mahasiswa.
Bahkan, untuk aktif di kepengurusan BEM UI saja, mereka jarang melakukannya.
Baik saat anak S1 FK UI masih kuliah di Salemba, maupun setelah pindah ke Depok (RIK).
KENAPA? KARENA TUNTUTAN AKADEMISNYA SUPER BERAT.
Sebagian besar dari mereka berkutat pada diktat, praktikum dan ujian per blok.
Belum lagi kalau udah makin senior, makin disiapkan dengan tetek-bengek persiapan untuk masuk profesi.
Makanya, kalau ada anak FK UI yang jadi wakabem UI, bahkan memimpin demonstrasi berikut penuaansannya di media.
Itu sudah pasti keren banget…
Apalagi kalau kelen lihat cara dia berbicara
Terstruktur, jelas dan diksi yang lembut namun tegas..
Maka bisa dipastikan: Dia ini jenius
Dan bakal jadi profesional sekaligus politisi yang hebat.
Semoga Fatimah tetap konsisten dan berintegritas sampai akhir hayatnya.
I made a word "Memories" for a reason. menahan menyebut nama beliau even dari sebelum semuanya terjadi dan dimulai– sampai menuju selesai dengan mulut seperti ini rasanya tidak mungkin.
oh ya, temen-temen Indonesia dapat salam dari Maki Otsuki :) beliau sudah terbang kembali.
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas.
Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
Terlalu sakit, terlalu pilu, memikirkan tragedi yang menimpa Arianto Tawakal, murid usia 14 tahun yang dibunuh oleh seorang oknum Brimob…
Ibu-Bapak yg saya cintai, tren kesewenang-wenangan sudah mencapai sebuah titik di mana kita harus berkaca: kita ingin dikenal sebagai bangsa dengan budaya seperti apa? Apakah di mata Tuhan Allah dan di mata dunia, kita ingin dikenal dan dikenang sebagai masyarakat yang beringas dan liar?
Saya tetap yakin di segenap aparat hukum kita, mayoritas anggota merupakan manusia yang baik. Namun, peristiwa ini harus menjadi peringatan keras untuk mengembalikan profesionalisme sebagai kiblat utama lembaga penegak hukum.
Kematian Arianto Tawakal ini ekstra sedih bagi saya, karena tujuh bulan lalu saya sangat terinspirasi diajarkan oleh sesama tahanan di penjara yang beragama Islam tentang makna kata “Tawakal”, di tengah perjuangan saya untuk mengungkap kebenaran dan mendapat keadilan.
Tambah heran, bahwa kelakuan oknum Brimob ini juga terjadi di bulan suci Ramadan dan di bulan suci pra-Paskah. Saya tidak bisa membayangkan trauma yang dirasakan keluarga Arianto. Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Turut berduka yang mendalam; saya dan Ciska doakan Allah SWT menyelimuti keluarga Arianto dengan segala kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi tragedi ini…
It’s too painful, too excruciating, to think about the tragedy that befell Arianto Tawakal, a 14-year old schoolboy who was killed by a member of Indonesia’s police paramilitary unit (Brimob)…
My dearest colleagues, this trend of ever-greater impunity has reached a point where we have to reflect: what kind of a society do we want to be known and remembered as? Do we want to be seen in the eyes of the Almighty and in the eyes of the world, as a savage and atrocious people?
I remain convinced that each and every one of our law enforcement agencies consists primarily of good human beings – but this incident MUST be a harsh wake-up call for us to return professionalism as the central guiding principle for our security forces.
It adds an extra layer of sadness for me that around 7 months ago, I was so inspired being taught the meaning and concept of “Tawakal” (utmost thriving followed by surrender to God’s Will) by Muslim fellow inmates in prison, as I was fighting to expose the truth and obtain justice for myself. It’s also bewildering to think that this depravity by a paramilitary police officer took place in the Holy Fasting Month of Ramadan and the Holy Month of Lent…
I can’t imagine the trauma that Arianto’s family is experiencing right now… We belong to Allah and indeed to Allah we shall return…
My deepest condolences to Arianto’s family; Ciska and I pray that God provides any and all strength and resilience to them in confronting this senseless tragedy…