“Mengapa kamu begitu hormat dan takzim kepada orang itu? Bukankah manusia itu setara?”
“Saya menghormati ilmunya dan kesalihannya.”
- KH Afifuddin Muhajir (Wakil Rais ‘Aam PBNU)
Jangan sekali-kali berani sama orang alim, tetap kualat. Soal kamu nggak cocok ya nggak cocok, kecuali kamu sama alimnya, hasud hasud an dikit nggak masalah itu seninya hidup Kalau kamu nggak alim nggak usah ikut, ngeri…
“Wes to, kuwalat kuwalat
Wong seng sak bendinone sibuk ngurusi ngaji, kok dikomentari karo wong seng sibuk golek dunyo sampek lali ngaji.”
#BOIKOTTRANS7#BOIKOTTRANSTV
Mbah yai : “Loh, wes dhuhur?” 😭
Tertamparlah kami sebagai santri. Semangat beliau mengaji sungguh luar biasa. betapa tidak, beliau mengaji mulai jam 7 sampai 12 siang, begitu khusyuk dan nikmat hingga tak menyadari bahwa sudah masuk waktu dhuhur. Sedangkan kami? 😭
Mendidih hati kami.
sosok yang se-istiqomah beliau, se-alim beliau, se-telaten beliau, kalian fitnah dengan framing yang keji @TRANS7
Semoga Guru-guru kami selalu dalam lindungan Allah 🥺
#BOIKOTTRANS7#BOIKOTTRANSTV#Wongliyongertiopo
“Loh, wis dhuhur?”
Mbah Yai Anwar Manshur, yg ikhas usia dan waktunya habis untuk ngaji dan ngaji, mulai jam 7 pagi hingga masuk waktu dhuhur, setiap hari,
masih saja dijadikan korban fitnah demi cuan oleh @TRANS7
Bangsat emang @TRANS7#BOIKOTTRANS7
TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL
Menjelang Hari Santri Nasional, @TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiai—khususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung.
Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar “salah tayang.” Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers — ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren.
Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang.
Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhana—jauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Saya menangis menonton tayangan itu.
Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh.
Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai — ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren.
Salam penuh duka dan amarah,
Nadirsyah Hosen