Karl Marx walaupun dia itu secara objektif atheis, dia itu lebih fundamentalis agama daripada kebanyakan orang beragama disini yang rata2 munafik orangnya.
Nah ini bentuk logical fallacy yang paling umum bahwa cerita yang ada setelahnya pasti meniru cerita yang ada sebelumnya.
Padahal suatu hal lampau bisa diceritakan secara berulang sehingga terlihat mirip antara redaksi satu dan lainnya meskipun beda waktu
Ayo kita bahas 👇
🚨Diego Simeone on Manchester United’s 2–1 victory over Atlético Madrid.
🎙️ Reporter: Diego, despite the defeat, what stood out to you the most about tonight’s match?
🗣️ Diego Simeone: “I have to be very honest. Forget the scoreline for a moment, forget the tactics and even forget the players. The thing that impressed me the most today was the atmosphere Manchester United’s supporters created.”
“From the first whistle to the final whistle, they never stopped singing. They were loud, passionate and behind their team every single minute. I always hear people talk about Manchester United fans, but experiencing it in person is completely different.”
“This was only a pre-season match, but they made it feel like a Champions League night. The intensity from the stands was incredible, and as a coach you notice those things immediately because they give the players extra energy.”
“I’ve managed in some of the biggest stadiums in Europe, and I have enormous respect for passionate supporters everywhere. Today, the Manchester United fans reminded everyone why Old Trafford and this club are so special, even away from home.”
“The appreciation today belongs to the Manchester United supporters. They backed their team from start to finish, celebrated every tackle, every recovery and every attack. That kind of support can change the momentum of a game.”
“The players won the match on the pitch, but the fans played their part as well. They created an unbelievable atmosphere and pushed their team forward. In my opinion, they are among the very best supporters in world football, and tonight they showed exactly why they have that reputation.”
One of the greatest defenders of all time.
Here's Franco Baresi in the 1994 World Cup final at 34-years-old, putting in an incredible performance 24 days after suffering a severe meniscus tear that required surgery.
RIP
Kudus punya ulama yang bikin gempar media nasional.
Kerja sehari-hari jadi tukang bangunan. Penampilan sehari-hari selayaknya kuli bangunan. Namun ia terkenal di dunia internasional.
Ia sudah menghasilkan banyak kitab, jadi rujukan lintas negara. Dilakoninya di sela-sela rutinitas sbg kuli bangunan.
Mbah Riyan Al-Mastur. Begitulah namanya dikenal warga. Dulu temannya sering memanggilnya Supri.
Sementara melalui kitab-kitab digarapnya, namanya dikenal sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi.
Ia meneliti kitab-kitab klasik yang rumit, mengoreksinya, hingga menelusuri jejak kitab-kitab tua.
Alhasil, dedikasinya dan hasil kerjanya mendunia.
Terkini, beliau dapat penghargaan MUI Award 2026. Namun ia memilih tidak datang.
Agaknya karena ia tak ingin sanjungan atasnya membuatnya tak lagi membumi.
Di tengah dunia yang gila hormat dan popularitas, ia memilih menjaga jarak agar tetap waras.
Sad news from Italy as Franco Baresi has passed away this morning at 66 years old.
An absolute legend of the game with AC Milan and Italy, marking an era for different generations.
Thoughts and prayers with the family and the friends.
Rest in peace, Franco. ❤️🕊️
Polisi mengamankan sajam dari kelompok orang timur yg diduga akan melakukan penyerangan balasan kepada warga Matraman Dalam, Menteng, Jakarta Pusat.
Mengantisipasi terjadinya bentrokan susulan, pasukan Brimob dan TNI di siagakan di lokasi.
Barusan sebelum zuhur aku dengar ada keributan di minimarket. Kebetulan lagi jualan di dekat situ, jadi aku penasaran dan masuk.
Ternyata ada seorang bapak yang sudah sepuh lagi dikerumuni orang.
Aku tanya ke kasir, "Ada apa?"
Kasir bilang bapak itu ketahuan mau nyuri telur.
Aku tanya langsung ke bapaknya, "Bener, Pak?"
Kelihatan banget beliau ketakutan.
Beliau jawab, "Iya. Saya mau beli telur, tapi nggak punya uang. Ini udah dibungkus, saya cuma muter-muter di dalam. Uang saya tinggal Rp5.000."
Akhirnya aku bayarin telurnya. Harganya Rp14.000, padahal saldo GoPay-ku tinggal Rp20.000.
Ada ibu-ibu yang nyeletuk, "Kok malah ngebelain maling?"
Aku jawab, "Bukan ngebelain maling, Bu."
"Mungkin bapak ini sudah benar-benar mentok sampai nekat begini. Bisa jadi beliau bingung gimana caranya ngasih makan keluarganya, atau bahkan tetangganya nggak ada yang tahu kondisinya."
Dalam hati aku juga mikir, gimana kalau itu aku? Atau itu almarhum bapakku dulu?
Aku ajak bapaknya salat, lalu kuajak pulang ke rumah.
Sampai di rumah beliau masih ragu buat masuk. Aku bilang nggak apa-apa.
Aku ajak makan siang sambil ngobrol. Ternyata usianya sudah 67 tahun dan masih punya dua anak yang masih kecil.
Selesai makan, aku antar beliau pulang sambil bawain sedikit beras dan beberapa potong ayam crispy.
Pas sampai rumahnya, aku hampir nggak kuat nahan nangis.
Ada anak laki-laki sekitar umur 4 tahun langsung meluk bapaknya sambil nanya, "Pak, bawa makanan apa? Aku lapar."
Begitu bapaknya nunjukkin ayam, telur, dan makanan lainnya, wajah anak itu langsung berbinar bahagia.
Pesanku cuma satu, jangan langsung menghakimi orang yang berbuat salah.
Karena kita nggak pernah benar-benar tahu cerita dan keadaan di baliknya.
In the last four World Cup finals, only two runners-up stayed on the pitch until the trophy presentation: Argentina in 2014 and Argentina in 2026.
Not Croatia, Not France. Did anyone say anything during that time? No, because that wouldn't get clicks.
Guess which country is now being criticized and accused of disrespecting the winners simply for going over to acknowledge their own fans? Argentina, of course.