PRIGOZHIN
- Born 1st June, 1961 in Leningrad.
- In 1981, sentenced to twelve years imprisonment for robbery and fraud.
- Began selling hot dogs in 1990 after early release from prison.
- Expanded business operations in 1995, ran popular and successful restaurants.
- Grew closer to Putin in the 2000s, served international leaders including Chirac and George Bush.
- Became known as "Putin's chef", had received government contracts and grew increasingly wealthy.
- Established Wagner Group in 2014 to support Russian forces in the war in Donbas.
- Operations expanded to Syria and Africa, became key player in 2022 Ukraine War.
- His troops led successful campaign to take Bakhmut earlier this year.
- Now leading rebellion against Putin and Russia's military.
This was a street interview in China in 1995.
People said their expectations for China in the 21st century.
We made it! Led by the CPC.
This is true democracy. Not just "lip-servic".🤔
@bobby_risakotta Tolong di cc-in ke buzzerRp Abbas asal NTT yg ngerasa Jakarta sudah baik² aja ttg toleransi beragama @KrisyantoOni https://t.co/CGUGG27Jzq
USIA PERADABAN BANGSA INI SUDAH TUA, SELAMAT TAHUN BARU PRANATA MANGSA 2934
.
.
.
Ada 3 peristiwa penting terjadi pada hari ini 21 Juni 2023, peringatan dan khidmat kita atas meninggalnya Ir. Soekarno, ulang tahun pak Jokowi dan malam tahun baru.
Lanjut
#MenolakLupa#PrabowoBukanJokowi
Demikian juga dengan suratkabar: jika pemimpinnya tak mematuhi titah penguasa, suratkabar akan dihabisi. Banyak korban akan jatuh: kehilangan kerja atau putus karir, dan mungkin jadi pariah politik.
Waktu TEMPO dibreidel pertama kalinya, saya jadi kapten pilot yang memutuskan untuk berkompromi dengan pemerintah — yang sebenarnya tak mau bersikeras, karena para pejabat eselon kedua di Departemen Penerangan sendiri waktu itu tak yakin bahwa TEMPO harus dibreidel.
Tanggal 26 Juni malam itu, di depan “ultimatum” yang disampaikan Hashim, dorongan hati saya: menolak.
Pilihan yang ditawarkan Hashim bagi saya sebuah kesewenang-wenangan, sama dengan pembreidelan itu sendiri. Saya marah dalam hati, dan saya merasa malu untuk menyerah kepada pameran kekuasaan itu. Waktu itu yang keras dalam pikiran saya: jika saya menyerah, saya tak akan dapat berhadapan muka dengan kedua anak saya. Mereka dibesarkan dengan cerita tentang kakek mereka yang, sekian puluh tahun yang lalu, ditembak mati tentara pendudukan Belanda.
Ya, saya harus menolak.
Maka saya terharu dan bangga: dengan tanpa perdebatan, malam itu pimpinan TEMPO (termasuk lapisaan yang lebih muda: Yusril Djalinus, Zulkifly Lubis, Mahtum) menolak ultimatum Hashim.
Saya terutama terharu melihat Pak Samola: dalam keadaan sakit, ia dihadapkan kepada pilihan yang sangat berat. Saya lihat ia beberpa kali menjandarkan dahinya ke pigura lukisan Nashar di tembok. Saya memeluknya.
Saya tahu: ini keputusan dalam arti yang sebenarnya —sebuah loncatan ke dalam gelap. TEMPO akan mati selamanya, sepanjang rezim Suharto dan kronisnya berkuasa — dan waktu itu, mustahil rasanya Suharto dan sistem otoriternya akan jatuh.
Lalu apa setelah keputusan itu? Saya tak tahu. Tak ada Plan B. Saya kira, teman-teman saya malam itu juga tak tahu.
Yang memberatkan hati saya: bagaimana nasib sekitar 200 karyawan TEMPO nanti? Adilkah mereka tak diajak bicara untuk keputusan kami — meskipun memang tak ada waktu untuk berkonsultasi dengan mereka? Tapi tidakkah sejak mula mereka sadar, atau diharapkan sadar, bahwa. bekerja di dunia jurnalisme di dalam sistem politik yang represif mau tak mau harus siap kehilangan kerja, bahkan kehilangan kemerdekaan? Sebelum TEMPO, sudah banyak koran dimatikan.
Setidaknya, malam itu kami sedang tak ingin kehilangan harga diri.
Beberapa minggu kemudian Sarwono Kusumaatmaja, salah satu dari menteri yang diam-diam menunjukkan simpati kepada TEMPO, mengundang saya makan di rumahnya. Setelah hidangan diangkat, ia bertanya, kenapa saya melawan. Saya jawab, tanpa berpikir lama, dalam bahasa Inggris: “It is about self-respect”.
Goenawan Mohamad
https://t.co/P808DeqO0l
Dari SDA ke pengolahan..2 tahap 25 tahun pasca Perang Dunia II (50 tahun ke 1): siapa yg memenangkan dunia adalah yg menguasai SDA & pengolahan. Telat? Gak apa2, ayo pak @jokowi, kita uber ke era Rekayasa Keuangan & Data (50 thn ke 2)
https://t.co/EKfoM6btZT
Mentor @ganjarpranowo itu @jokowi , org yg dianggap plonga-plongo tp punya kehebatan buat membawa Indonesia ke arah kemajuan. Dan kini Ganjar nantilah yg akan melanjutkan perjuangan sang mentor membawa negara ini menuju kemajuan. Btw guys, knp ini videonya bikin brebes mili🥹😭
PRIORITAS MELAWAN ARABBISASI:
SOSIAL, BUDAYA DAN EKONOMI.
Selama ini terlalu fokus dengan menolak Khilafah ala HTI. skrng harus mulai bagi tugas untuk konsen ke tiga bidang tsb entah bagaimana caranya.
hal ini ditujukan agar tepat sasaran karena level syariah masih levl 2-3.
The Girl Who Forgave Death - 1945. Eva Kor, a survivor of the Holocaust with Romanian/American roots, was taken to Auschwitz concentration camp in 1944. Tragically, upon their arrival, her mother, father, and two sisters were immediately separated and condemned to death. Despite the unimaginable pain she endured, Eva courageously expressed the following sentiment:
"I never even got to say goodbye to her. But I didn't really understand that this would be the last time we would see her"
Eva and her sister Miriam, both twins, were spared and taken by Josef Mengele, the Nazi Angel of Death, for experiments. They endured months of medical torture, enduring injections of unknown substances that even modern doctors cannot identify. As a result, both girls fell gravely ill, with Eva suffering from a debilitating fever for five weeks. Despite being given only two weeks to live and unable to walk, Eva summoned the strength to endure the experiments and the pain, constantly reminding herself of her will to survive. In 1945, the Soviet Army liberated the camp, allowing Eva and her sister to return to Romania.
In 1950, Eva relocated to Israel and served in the army for eight years. Eventually, she moved to the United States in 1960 and married a Holocaust survivor named Michael Kor. As Eva aged, she experienced various health problems. Meanwhile, Miriam faced intricate and severe medical issues during her three pregnancies. It was later discovered that Miriam's kidneys had ceased growing since she was 10 years old. Subsequently, her kidneys failed, and Eva believed this outcome was a consequence of the experiments they endured as children. Without hesitation, Eva selflessly donated one of her kidneys to her sister, stating, "I have one sister and two kidneys, so it was an easy choice."
Regrettably, Miriam succumbed to kidney cancer in 1993. Filled with anger towards the Nazis for the suffering inflicted upon her family, Eva dedicated herself to advocating for Holocaust recognition. However, in a remarkable display of forgiveness, Eva embarked on an emotional journey and forgave Mengele and the Nazis for the pain they had caused her. This transformative perspective took hold during the 1990s.
In 2019, Eva passed away. The photograph mentioned above captures Eva displaying an image of herself and her sister Miriam taken in Auschwitz, with Miriam standing beside her on the left in the hood.
Hidup adalah tentang penyesuaian-penyesuaian agar bisa terus melangkah
Sebagaimana mengayuh sepeda, roda harus terus berputar agar sampai ke tujuan
Selamat pagi semesta yang menyenangkan 😍❤️
Pesawat baru China yg dirancang dan dibangun di dalam negeri, COMAC C919, menyelesaikan penerbangan komersial pertamanya. Hadir sbg saingan Boeing 737 Amerika, model baru ini telah beredar selama beberapa waktu, akhirnya menyelesaikan persetujuan peraturan musim gugur lalu.
Gw baca ini mau ketawa takut dosa.
Ijazah itu penting, tapi pengalaman, pemahaman dan attitude itu JAUH LEBIH PENTING.
Kalau saya butuh engineering design and solutions, tentu saya akan lebih consider si lulusan teknis mesin ini, tapi kalau saya butuh hull welder, shift supervisor, atau project troubleshooter, atau project manager, mungkin akan pilih si bapak2 lulusan STM dengan sertifikat welding dari Fincantieri.
Serifikat Welder itu gak sembarangan. Butuh pengalaman, dan harus uji ulang secara berkala.
Tapi kalau saya sampai tau nama si penulis, mungkin kalau saya terima application dia tangan saya bisa bergerak secara autonomous secara otomatus naro application file dia ke tumpukan aplikasi2 yang ditolak.
Sekali lagi... Ijazah itu penting, tapi pengalaman, pemahaman dan attitude itu JAUH LEBIH PENTING.
Makanya ada janda nikah lagi dan ada yang gadis ngejomblo melulu. It's about placement, knowledge, and making the right moves... it's not about status.
#LestarikanBudayaNasional
Mengenal Jaran Serek *KUDA MENARI* warisan tradisi Keraton Sumenep yang hampir Punah , kembali di lestarikan Bupati Sumenep @achmadfauzi_wy
Sepanjang sejarah Jepang, kaisar dipandang sebagai setengah dewa, jauh dari rakya biasa. Tradisi itu hancur pada tahun 1945 ketika Kaisar Hirohito berbicara 673 kata lewat siaran radio yang menerima Deklarasi Potsdam 26 Juli. Pengumumannya ini juga untuk pertama kalinya rakyat