*jpf Buat kakak-kakak khususnya yang lulusan sastra Jepang, kalau boleh tahu prospek kerja di Indonesia saat ini apa aja ya, apakah lintas jurusan? Kira-kira posisi apa yang bisa di apply dengan N3 selain ngajar karena sender gak ada bakat ngajar jadi bingung ๐ฅบ๐ฅบ
@LotusDande@Baroindra Bener, punya pengalaman yg sm..
Pas OP ibu mandiri, g' punya BPJS, pas kontrol disuruh bikin BPJS sama dr.nya..
Itu nakes kayaknya blm pernah ada anggota keluarnya yg dirawat di RS yg sampe opnam jd g' bs ngerasain gmn posisi kt sbg kluarga pasien... Ngeri sih ketikannya..
punten permisi.. ijin ikut nimbrung mengenai fenomena ini.
Merespons foto tersebut, mari kita bahas fenomena childfree ini secara netral dari kacamata Muhammadiyah.
Bukan untuk menghardik atau menggurui, tapi murni menelaah irisan antara teks agama, realitas ekonomi, dan kondisi struktural saat ini.
Sebuah utas
Lihat Dr Tirta yang lagi hiatus bersosmed akhirnya buka suara juga terkait hal ramai kemarin tentang postingan pasien bpjs yang meninggal dunia (alm. yurizal).
intinya Dr. Tirta ngejelasin kalau pasien itu Customer tapi sayangnya gak semua Dokter paham. Pasien berhak complain di platform mana saja, baik itu ig, wa, threads, telpon, dll.
trus jg katanya skill komunikasi Dokter itu jelek banget dan harus mau belajar lagi biar kejadian begini gak berulang terus.
Pinter di satu ilmu belum tentu pinter di bidang lain jadi GAK USAH SOMBONG. ๐ซต๐
@KapudS640 Padahal dokter lho? Kok sampe hati ngetik ky gitu? Pdhal tiap hari kan ketemu macem" pasien?
Yg jd pasien dia apa g' was" kalo pas control??
Gue janda 37 tahun. Kemarin makan siang sendirian di restoran yang lumayan rame. Di meja sebelah, ada tiga cowok umuran 30-an, keliatan mapan, ngobrol serius.
Satu ngomong: "Gue sama istri udah setuju nunda anak. Cicilan rumah aja masih 15 tahun, mobil 5 tahun. Belum biaya lahiran, belum nanti sekolah. Mending nabung dulu."
Yang lain nyamber: "Gue malah mikir, di zaman now... nikah itu masih worth it nggak sih?"
Gue yang lagi nyeruput es teh langsung berhenti. Sendok gue taruh pelan.
Pertanyaan itu ngena banget. Karena gue sendiri, janda 37 tahun, hampir empat tahun di dating app bahkan sering banget mikir hal yang sama.
Dulu gue nikah karena "udah waktunya". Semua orang nikah. Keluarga nanya terus. Temen-temen udah pada bikin undangan.
Tapi sekarang, setelah bercerai dan lihat realita hidup? Gue jadi bertanya-tanya: menikah di zaman sekarang itu masih worthed nggak sih?
Bukan dalam arti sinis. Tapi beneran, secara logika, secara finansial, secara mental.
Mari kita hitung sama-sama. Angka-angka ini realita Jakarta dan sekitarnya.
Biaya nikah dulu. Sewa gedung, catering 500 orang, dekor, fotografer, baju, mahar. Minimal? 100-150 juta. Itu minimal. Banyak yang habis 200-300 juta.
Buat apa? Buat pesta 3-4 jam yang lo sendiri nggak bisa nikmatin karena sibuk foto sama 500 tamu yang setengahnya lo nggak kenal.
Sesudah nikah: tempat tinggal.
KPR rumah tipe 36 di Jabodetabek sekarang minimal 500-800 juta. Itu yang di pinggiran. Kalau mau deket kantor? Siapin 1-2 M.
Cicilan per bulan? 4-7 juta. Fix. 15-20 tahun.
Lo belum punya dapur sendiri, tapi cicilan udah kayak nyicil istana.
Mobil? LCGC sekarang 200-an juta. Cicilan 3-4 juta per bulan. Belum bensin, servis, pajak, asuransi. Motor? Bisa. Tapi kalau nanti punya anak, lo butuh mobil.
Transportasi rumah tangga itu sekarang udah bukan kemewahan. Tapi kebutuhan yang nyedot 20-30% penghasilan gabungan.
Bulan madu selesai. Lo mau punya anak?
Biaya lahiran normal di RS swasta bagus: 20-40 juta. Caesar? 40-80 juta. Itu baru lahirannya. Belum kontrol kehamilan tiap bulan. Belum vitamin. Belum USG.
Belum kalau ada komplikasi.
Anak udah lahir. Sekarang biaya bulanan.
Popok: 500-700 ribu per bulan. Susu formula: 1-1,5 juta per bulan. Vaksin yang nggak ditanggung BPJS: bisa 2-5 juta per dosis. Belum baju. Belum mainan. Belum babysitter kalau lo berdua kerja.
Masuk playgroup: 1-3 juta per bulan. TK swasta biasa: 2-5 juta per bulan. SD swasta bagus: 3-10 juta per bulan. Belum les. Belum buku. Belum uang gedung yang suka tiba-tiba muncul.
r
Lo masih napas? Gue kasih lanjutan.
Kuliah nanti. Sekarang UKT di PTN aja bisa 5-15 juta per semester untuk jurusan favorit. PTS? 20-50 juta per semester.
Dari TK sampai S1, estimasi biaya anak di kota besar: 500 juta - 1,5 M. Satu anak. Kalau dua? Lo hitung sendiri.
Sekarang bandingin sama penghasilan.
UMR Jakarta 2024: 5 jutaan. Fresh graduate kerja kantoran: 6-8 juta. Profesional 5-10 tahun: 15-30 juta.
Tapi berapa persen yang penghasilannya segitu? Mayoritas pasangan muda di Indonesia hidup di bawah atau pas-pasan dengan angka tadi.
Jadi pertanyaannya: nikah + punya anak + KPR + mobil + biaya sekolahโฆ itu realistis atau mimpi?
Di sinilah gue berhenti sejenak.
Gue bukan anti-nikah. Gue janda, bukan berarti gue trauma dan benci pernikahan. Tapi gue realistis.
Dulu generasi orang tua kita nikah muda, punya anak banyak, dan berhasil. Kenapa? Karena dulu:
Biaya hidup lebih rendah
Harga tanah masih masuk akal
Sekolah negeri masih murah
Satu gaji cukup buat satu keluarga
Sekarang? Satu gaji cukup buat lo sendiri aja udah syukur.
Tapi gue juga lihat sisi lain.
Ada temen gue yang nikah, berdua kerja, atur keuangan rapi, dan mereka bahagia. Anak satu, sekolah negeri, liburan secukupnya, rumah sederhana. Mereka sadar: nggak perlu gengsi, yang penting fungsi.
Jadi mungkin masalahnya bukan "nikah nggak worth it". Tapi "gaya hidup yang dipaksakan setelah nikah".
Kita terbebani ekspektasi: resepsi harus mewah, rumah harus cluster, anak harus sekolah swasta favorit, mobil harus yang bagus. Sosial media bikin kita ngerasa semua orang sukses dan mampu.
Padahal realitanya? Banyak yang di balik foto Instagram, lagi pusing mikirin cicilan.
Gue juga mikir: nikah itu bukan cuma soal duit.
Ada nilai companionship. Ada rasa aman. Ada partner buat berbagi beban mental. Ada yang nyambut lo pulang kerja. Ada yang megang tangan lo pas lo down.
Itu nggak bisa dihitung pake excel.
Tapi di sisi lain, companionship nggak akan bertahan kalau setiap bulan lo berantem soal uang. Kalau cinta ada, tapi dapur nggak ngebul, cinta itu lama-lama jadi asap.
Jadi, nikah di zaman now itu worth it atau nggak?
Jawaban gue: worth it, KALAU lo ketemu pasangan yang realistis, sepaham soal keuangan, dan nggak gila gengsi.
Tapi kalau lo nikah cuma karena tekanan sosial, terus lo berdua nggak siap secara finansial dan mental? Itu resep bencana. Gue udah ngerasain sendiri.
Sekarang gue pengen denger pendapat lo.
Menurut lo, nikah di zaman now masih worth it nggak? Atau mending fokus karir, nabung, jalan-jalan, dan nikmati hidup dulu?
Buat yang udah nikah: gimana cara lo survive? Buat yang masih single: apa yang bikin lo ragu?
Cerita di kolom komentar. Biar kita obrolan jujur, tanpa gengsi. ๐
cc : raspitaadewi
@10miliarbisa@Kkuuroo___ Spill lem tikusnya please..
Aku kemarin pki lem tikus merk f*x, tp cuma kena ekor + kaki blkng aja, tak tinggal mau ambil tongkat... E malah kabur duluan๐ญ๐
@AymanAlatas Bener dok, hidup ini itu sepaket seneng & susahnya....
Gpp banget ngejalaninya dibarengi sama sambat biar g' tambah stress...
Biar aja diomongin sambat teruss, nah lu jd gue jg blm tentu mampu bertahan...
Mari nikmati takdir kita masing" & smoga menjd manusia lbh baik
Kirana Larasati lanjutin opininya soal maling ayam viral~
Dia bilang, stop meromantisasi hidup maling karena yang memilih nggak jadi maling juga banyak meski hidupnya susah.
Menurut Kirana, โurusan anak istri jadi susah karena perbuatan kriminal bapaknya ya itu risiko dan bukan urusan kita, lagian gimana sama korban kemalingannya yang punya anak istri juga?
Kirana juga cerita kalau dia pernah jadi korban penodongan waktu naik bajaj sama ibunya dulu.
Jadi dia blak-blakan bilang sorry not sorry kalau disebut nirempati sama maling.
aku tuh selalu sedih kalau ada perempuan yang jadi mempertanyakan dirinya sendiri cuma karena ternyata dipertemukan sama laki-laki yang gak bener :(
to every woman out there, please don't carry someone else's mistakes as if they're yours. kalian gak kurang, gak kurang cantik, gak kurang baik, gak kurang berharga. sometimes it's not about you at all. emang ada aja laki-laki yang milih buat jadi brengsek.
semoga gak ada lagi perempuan yang kehilangan rasa percaya diri cuma karena dipertemukan sama laki-laki yang salah. you deserve to be loved without having to question your own worth ๐ฅน๐ค
Jual ponsel, tetapi tidak mencantumkan harga. Saat ada yang menanyakan harga, dijawab "DM saja Kak."
Saya jadi penasaran. Mengapa harus begitu? Bukankah lebih baik langsung mencantumkan harga atau setidaknya menjawab pertanyaan terkait iklan itu di lini masa?