🇬🇧🏴🏴The Muslims invaders took over and ran Spain for almost 800 Years but a tiny band of devout Christian warriers held out in the Nothern west mountains.
They never surrendered our lost the faith and after 40 Generations they destroyed the Islamic invasders and took back their country. THIS will be the story of Britain.
We may be forced to the mountains but we will NEVER Surrender this sacred land to Islam. We will fight to the last drop of our blood and we shall be victorious
No Surrender! Are YOU with US?
🚨💣 Rugani, Cabal, Thuram, Zhegrova, Milik and Ekhator are the candidates who could be left out of the UEFA Europa League squad list.
For Serie A, two of Cabal, Zhegrova, Milik and Thuram could be left out.
— @ilbianconerocom
Turmeric is the most powerful anti-inflammatory on Earth.
It destroys chronic pain, flushes toxins from your liver, and protects your brain from early aging.
Here's everything you need to know about it (thread):
1) It heals your gut first
Gausa jauh2 bahas soal Habibie yang pinter,
Lha kemarin dapet calon presiden lulusan Ekonomi & Kebijakan Publik, sama lulusan Hukum & Politik, pada gamau 😭
Let alone ada cawapres yang lulusan doktor Hukum Tata Negara, pernah ngerasain semua posisi Trias Politika. Langka banget loh itu.
Belom 2 tahun yang lalu pula loh WKWKWK
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Seluruh delegasi AS membuang SEMUA hadiah dari Tiongkok ke tempat sampah di depan tangga pesawat Air Force One, sebelum naik pesawat, di depan kamera.
Setiap lencana, pin, suvenir…ditinggalkan.
Setiap HP buatan Tiongkok yang diberikan kepada staf dan pers… dibuang.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Setelah nnton pesta babi.
Jadi ngerti kenapa dulu 'Pria oslo'
itu sering blusukan ke tanah papua.
Sampe dijuluki Bapak Papua
krn baru dia pemimpin yg sering kesana.
Ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan,
ada bakwan dibalik nasi pecel.
Pdhl setulus dan seseneng itu
tatapan anak2 papua pas ada
pemimpin yg kunjungi mereka
Tega banget ya merekaa
cc:threadanggadewimahardheka
Guys, Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling tidak takut konsekuensi dari semua kritik yang beredar soal pemerintahan Prabowo sekarang.
Dan dia mulai dengan satu angka yang langsung bikin gue terdiam.
108 wakil menteri.
Lebih gila dari zaman Soekarno:
Soekarno terkenal dengan kabinet
gemuknya 100 menteri.
Itu sudah dicatat sejarah sebagai salah satu pemborosan birokrasi terbesar Indonesia.
Prabowo melampauinya.
108 wakil menteri saja
belum termasuk menterinya.
Ferry bilang dengan sangat datar: "Birokrasi, Bos. Wakil menteri itu 108 loh.
You can imagine ini kabinet yang lebih gila
dari zaman Soekarno."
Dan ini bukan soal gaya atau
estetika pemerintahan.
Ini soal uang.
Setiap wakil menteri punya gaji, tunjangan, staf, kendaraan dinas, protokol, dan anggaran operasional.
Dikali 108 angkanya tidak kecil.
Dan semua itu dibayar dari pajak rakyat yang sama yang katanya sedang dihemat untuk efisiensi.
Soal Purbaya Ferry akui ada yang menarik,
tapi ada yang lebih penting:
Ferry tidak membabi buta mengkritik Purbaya.
Dia mengakui keberanian Purbaya berani head to head dengan Luhut, berani buka Pandora Box soal mafia-mafia yang selama ini nyaman, berani mengakui ada kebocoran di sistem restitusi pajak.
Tapi Ferry memisahkan dengan sangat tajam antara administrasi dan kebijakan.
Memindahkan Rp200 triliun dari BI ke Himbara?
Itu administrasi.
Bukan fiscal policy.
Dan hasilnya pun menunjukkan itu: undisbursed loan di perbankan sekarang sudah hampir Rp3.000 triliun.
Bank sudah punya likuiditas berlimpah tapi kredit growth tetap jatuh dari double digit ke 7%.
Debitur tidak mau ambil kredit bukan karena tidak ada uang di bank tapi karena economic
outlook-nya tidak meyakinkan.
Bisnis tidak ekspansi di tengah ketidakpastian.
Jadi pertanyaan Ferry sangat sederhana dan sangat keras: kebijakan apa yang Purbaya tawarkan untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun ini?
Solusi Ferry dan ini yang paling provokatif:
Ferry tidak hanya mengkritik. D
ia kasih resep yang sangat berlawanan dengan narasi pemerintah sekarang.
Turunkan pajak.
Semua pajak.
PPN dari 11% ke 10%,
idealnya ke 5%.
Corporate tax diturunkan.
PPh diturunkan.
Biarkan uang itu tetap di tangan rakyat dan swasta bukan masuk ke kas negara yang menurut Ferry makin besar penerimaannya makin ngawur spendingnya.
Logikanya:
semakin besar uang yang dikuasai pemerintah semakin besar ruang untuk misallocation of resources.
Hambalang. BLBI. IKN. IKTP.
Semua terjadi bukan karena kekurangan uang
tapi karena uang yang terlalu banyak di tangan yang salah.
"The more money the government get,
itu makin kacau ekonomi kita."
Dan kalau penerimaan pajak turun spending harus dikecilkan juga.
Tidak ada jalan lain.
Defisit harus dijaga.
Negosiasi dengan kreditur kalau perlu.
Tapi cara membangun negeri ini harus berubah secara radikal dari government-driven menjadi private sector-driven.
Karena yang menciptakan lapangan kerja adalah bisnis. Bukan pemerintah.
Dan kalau bisnis punya ruang lebih besar untuk bergerak mereka yang akan menggerakkan ekonomi, bukan program pemerintah yang penuh kebocoran.
MBG salah dari awal, salah dalam desain:
Ferry tidak malu-malu:
Terus terang saja saya tidak setuju dengan program-program ultra populis macam MBG dan Koperasi Merah Putih.
Ini sudah salah dari awal."
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena desainnya tidak masuk akal secara data.
Berdasarkan data statistik hanya 7,1% atau sekitar 20 juta orang yang benar-benar dalam kondisi urgen membutuhkan perbaikan gizi.
Dari 20 juta itu, mungkin 10 juta adalah anak-anak.
Tapi program MBG dirancang untuk menyuapi 83 juta orang dengan anggaran Rp328 triliun.
Pertanyaan Ferry: "
Kenapa yang harus disuapin 83 juta orang?
Kalau memang mau fokus gizi kenapa tidak targetkan 20 juta yang benar-benar butuh,
di daerah tertinggal, dengan sistem kupon yang jauh lebih efisien?
Paling mahal 5 triliun."
Dan kemudian muncul kabar ada 11 yayasan yang ikut di dalam ekosistem MBG.
Ferry langsung tanya:
Purbaya berani tidak mengcounter ini?
Kalau berani saya cium tangannya."
Kabinet 108 wakil menteri yang lebih gemuk dari Soekarno.
Program gizi yang menyuapi 83 juta orang padahal yang darurat hanya 20 juta. Anggaran Rp328 triliun untuk program yang tidak menyentuh akar masalah.
Dan tidak ada satu kebijakan fiskal yang benar-benar radikal untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun.
Ferry tidak bilang Purbaya jahat. Dia bilang Purbaya belum cukup.
Dan selama kebijakan yang diambil masih bersifat kosmetik terapi kejut administrasi tanpa perombakan struktural yang nyata angka 8% growth yang terus digembar-gemborkan akan tetap menjadi angka yang indah di slide presentasi, bukan kenyataan yang dirasakan di dompet rakyat.