Pisces satu ini waktu muda dulu gampang ovt & gak enakan, apalagi kalau tau ada orang yang gak suka sama aku. Menjelang usia 30an, sudah bisa berdamai dengan ovt-ovt itu dan menjalankan stoic pelan-pelan.
Enteng banget isi kepala zuzur. ๐
BREAKING NEWS!!!
Kelompok Hacker Pro Palestina resmi luncurkan arsip digital Genosida Gaza 64.537 video dan 17.905 kejahatan kemanusiaan kini dapat diakses publik!!!
Ini link nya --> https://t.co/yKbdkQsfn2
Sampe bgt nih mikir "oh, mgkn dia gak tau arti mengerdilkan, or dia gak teliti/kelewat.
Soalnya w dibilang jgn ngusik hobi org perkara utas itu.
Ngusik dr mane gue tanya? Malah di utas w dukung anzeerrrrr! Serah u mau ngabisin duit ke mana, org lain gak berhak ngejudge ๐ญ๐ญ๐ญ
Zuzur kaget sih pas dikasih, kaget campur ngakak sampe bertanya-tanya "masa sih?". Kok bisa-bisanya ada orang yg gak bisa memahami utasku.
Padahal di situ tertulis "jgn mengerdilkan orang lain cuma krn gak spend money yg sm kayak km selama dia gak nyusahin kamu."
Which is true.
Barusan dapat kabar, orang2 yg dulu nyakitin aku & sama sekali gak minta maaf satu2 menuai apa yg mereka tanam. Adaaaa aja kesulitan yg mereka alamin.
Jujur, stlh lwtn fase "sakit", aku udh bodo amat. Tapi, bkn berarti melupakan. Sakitnya udh hlg, sygnya bekas lukanya masih ada.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.
Yasudahlah, nasi udah jadi bubur. Kang buburnya pun udah naik haji. Paling juga jadi bahan omongan. Wkwkwk.
Makanya adik-adik, pastikan kalau ada yang ngirim link jangan sampe kepencet. ๐คฃ
Tadi siang lagi buka request & hidden chat di IG. Kubukalah satu-satu. Gak banyak sih, cuma ada 5 pesan. Dari 5 pesan, 3 dari yang nanya tentang per-harry potteran, 1 dari yang ngiklan rumah, 1 lagi dari anomali.
Si anomali ini ngirim link fb ternyata. Emang dasar otak sama tangan lg gak sinkron, kepencetlah. Dilalah, si empunya akun ada bikin story (sekarang tuh di fb story kita muncul di halaman, jadi tanpa perlu ngeklik foto profil udah auto nge-view kalau buka halaman akun).
Kabar duka dari Papua. Aliko Walia (Laki-laki, 8 tahun) meninggal dunia setelah berjuang 36 hari dengan luka tembak tembus di dada kanan. Ia menjadi korban saat operasi militer di Puncak pada 14 April lalu.
Ibunya, Wundilina Tabuni (Perempuan, 40 tahun), tewas di tempat pada hari kejadian. ๐ฅ
Selengkapnya:ย https://t.co/9uUt6xwlBJ
#PengungsiInternalPapua #IDPsPapua #Papua #Indonesia #WestPapua #PapuanLivesMatter
https://t.co/EsqCQuqsFY | FB: JubiNews | X: @News_jubi | IG: newsjubi | Tiktok: @jubinews | Youtube: @jubinews