Kejagung:
Modus korupsi Dadan Cs adalah dengan memiliki afiliasi ke yayasan2 MBG sehingga mereka mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap harinya.
Selain itu juga terdapat penggelembungan (mark up) pengadaan yang dilakukan BGN seperti motor listrik, tablet dan sepatu.
@prastow@rouletteess Usul untuk quick win untuk tindak lanjuti rekomendasi KPK utk MBG secara tuntas dan transparan pak, dikomunikasikan ke publik progres nya ๐
Saya mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional. Ini bukti beliau pun mendengarkan masukan dan aspirasi publik, dan ingin memperkuat tata kelola program MBG.
Ibu Agustina Arumsari, Wakil Kepala BGN yang baru, adalah sahabat lama saya. Sebelumnya beliau adalah Wakil Kepala BPKP dan punya rekam jejak panjang sebagai auditor investigasi yang andal dan berintegritas.
Semoga pencermatan Bapak Presiden tentang pentingnya penguatan tata kelola ini membuat program ini lebih tepat sasaran, akuntabel, dan berdampak.
Suara saya, Anda, dan kita tak pernah sia-sia untuk membantu perbaikan demi kebaikan bersama. Semangattt๐ฅ๐ช๐ฎ๐ฉ
@fajarnugros ada prinsip dalam sistem penganggaran: let's manager manage, artinya masing-masing pimpinan KL diberikan keleluasaan utk mengelola detil anggaran setelah program di approve oleh Kemenkeu, Bappenas dan DPR
ada pro-cons, tp sy pribadi percaya peran Kemenkeu perlu lebih kuat
>Menurut Anies kerja pertama ga harus langsung kerjaan yg keren, bergengsi, atau gaji besar. Bisa aja posisinya kecil, gajinya pas-pasan, kantornya jauh ato tugasnya berat tapi itu bukan masalah.
>Buat dia fungsi utama pekerjaan pertama bukan langsung ngebangun karier besar tapi buat ngebentuk karakter kita. Karier mungkin baru kebentuk di fase berikutnya, tapi karakter mulai ditempa dari kerjaan pertama.
>Di kerja pertama, orang belajar banyak hal penting kayak cara menghadapi situasi yg sulit, cara membangun komunikasi dgn orang lain, cara menepati janji ke rekan kerja, dan cara menyelesaikan tugas yg ngebosenin tapi tetap dikerjain dengan sepenuh hati (gokilll).
Dua tulisan โbeda bangetโ ini atas bawah di satu halaman :)
Aku seneng baca debat gini karena medium tulisan = mikir, bukan hanya modal pokoknya :)
Buat teman-teman yg di medsos cakap menulis, punya perspektif kritis, coba deh menulis di media massa.
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
@rbpermana setahuku lembaga pemerintah yang bukan KL diberikan tugas/mandat/wewenang pemerintah tertentu berdasarkan per-UU-an misal OJK, LPS, BI
biasanya penganggaran, pelaksanaan, dan pertanggung jawaban keuangannya punya regulasi sendiri
hampir semua lembaga tsb publish lapkeu kok ๐ฌ
Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan.
Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki "political & economic resources". Opsi & solusi masih tersedia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan "must be on board". In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama.
Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia Bisa. *SBY*
Guys, ada rapat yang menurut gue salah satu yang paling menarik untuk ditonton bukan karena isinya dramatis,
tapi karena cara Purbaya memimpin rapat ini sangat beda dari rapat pemerintah Indonesia pada umumnya.
Di depan CEO perusahaan Arab Saudi yang mau investasi 10 miliar dolar di Indonesia Purbaya tidak segan-segan mempermalukan pejabat Indonesia sendiri di depan investor asing itu.
Konteksnya dulu:
PT Acua singkatan dari Arabian Company for Water and Power, milik Public Investment Fund pemerintah Arab Saudi,
beroperasi di 15 negara mau bangun panel surya terapung di atas Waduk Saguling, Jawa Barat. Proyek ini sudah financial close,
sudah mulai konstruksi, tapi macet karena satu hal: belum dapat izin penggunaan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan.
Dan kenapa belum bisa dapat izin dari Kementerian Kehutanan? Karena butuh rekomendasi Gubernur Jawa Barat dulu.
Dan rekomendasi gubernur belum keluar karena PLN belum memenuhi kewajiban lahan pengganti hutan yang sudah bertahun-tahun nunggak.
Satu proyek.
Tiga instansi saling tunggu.
Dan investor asing yang sudah keluar duit triliunan menunggu.
Purbaya langsung tembak PLN:
"Pak Dirut, katanya sudah siap.
Ternyata baru 14%. Coba jelasin."
PLN punya kewajiban menyediakan 1.081 hektar lahan pengganti hutan sebagai kompensasi penggunaan kawasan hutan untuk proyek-proyek mereka di Jawa Barat.
Yang sudah terpenuhi baru 159 hektar alias 14,7%.
PLN menjawab dengan berbagai penjelasan teknis procurement ongoing, sertifikasi sedang berjalan, anggaran sudah ada, tinggal proses sosial, dan seterusnya.
Purbaya memotong:
Kalau ngomong komitmen gampang.
Saya pengin tahu time frame-nya ke depan seperti apa. Tahun ini selesai?
PLN jawab: sedang dirancang agar bisa selesai as quickly as possible.
Purbaya langsung potong lagi: "Cukup gitu.
Bentuk komitmennya apa?
Saya mereka cuma bilang komit, tanda tangan sudah. Anda perlu bukti apalagi?"
Pemda Jawa Barat tidak mau kalah cermat:
Wakil Gubernur Jawa Barat hadir dan menyampaikan dua syarat sebelum rekomendasinya keluar.
Pertama, PLN harus tanda tangan pakta integritas dulu bahwa lahan pengganti 1.081 hektar akan dipenuhi dengan tenggat waktu yang jelas bukan cuma janji lisan.
Kedua, PT Acua harus berkomitmen tidak menebang pohon selama konstruksi, atau kalau tidak terhindarkan harus seminimal mungkin.
Alasannya jelas dan sangat kuat: Jawa Barat adalah provinsi rawan bencana.
Tempo hari ada alih fungsi lahan di Bandung Barat yang berujung 68 warga meninggal dunia.
Pemda Jabar tidak mau terulang hanya karena mempercepat izin investasi.
Dan mereka langsung bilang: begitu pakta integritas ditandatangani, rekomendasi gubernur bisa keluar hari itu juga.
Momen paling menggelikan dan mengungkap segalanya:
Purbaya tanya ke Wakil Gubernur: rekomendasi bisa keluar kapan?
Wakil Gubernur jawab: sudah siap, tinggal tunggu komitmen PLN.
Purbaya tanya ke PLN: kapan bisa tandatangan?
PLN bilang: siap, nanti ketemu Gubernur di Bandung, tandatangan road map.
Purbaya tanya lagi: rekomendasi gubernur bisa keluar kapan, akhir minggu ini?
Wakil Gubernur jawab: hari ini sudah keluar.
Purbaya: "Oh hari ini sudah keluar. Oh, jago dia."
Jadi ternyata rekomendasi itu bisa keluar hari ini tapi tidak pernah keluar karena tidak ada yang pernah duduk di satu ruangan dan saling mengikat komitmen secara formal.
Semua menunggu semua. Dan proyek yang sudah financial close itu macet bukan karena masalah teknis yang sulit, tapi karena koordinasi antar instansi yang tidak pernah dipaksa tuntas.
Cara Purbaya menutup rapat dan ini yang paling tegas:
"Komitmen diikat di sini. Dia enggak akan bisa lari. Yang dikatakan di sini itu mengikat semuanya. Enggak bisa main-main."
"Kalau ada kendala kasih tahu kami. Di sini ada BPPN, ada BPN, ada tentara, ada polisi, semua ada di sini. Kalau ada gangguan kasih tahu kami."
Dan sebelum menutup dia juga sempat sentil PLN dengan humor kering: "Dulu 2016-2017 kita pernah cari tanah PLN yang hilang 40 hektar.
Ketemu juga setelah 16 tahun. Anda sekarang bisa sendiri atau butuh bantuan kami lagi?"
Yang paling penting dari seluruh rapat ini:
Investor Saudi yang sudah komit investasi 10 miliar dolar proyek pertamanya macet bukan karena masalah besar,
bukan karena konflik hukum yang rumit,
bukan karena teknologinya belum siap.
Macet karena satu rekomendasi gubernur yang tidak pernah keluar karena PLN belum tandatangan komitmen lahan pengganti yang sudah jadi kewajiban mereka bertahun-tahun.
Dan semua itu selesai dalam satu rapat ketika ada orang yang cukup senior dan cukup tidak sabaran untuk memaksa semua pihak duduk,
saling berhadapan, dan tidak boleh keluar ruangan sebelum ada komitmen yang terikat.
Pertanyaannya: berapa banyak proyek lain yang macet dengan cara yang sama tapi tidak ada Purbaya-nya yang datang untuk memaksa semua duduk di satu meja?
@badgen1us_ pertalite bbm subsidi yg selisihnya ditanggung apbn lewat kompensasi
pertamax bbm non subsidi yg harganya diregulasi oleh pemerintah, bisa dikatakan pertamina yg tanggung selisih harganya bukan apbn
negara yang punya WeChat Pay & Alipay
rela adopsi sistem pembayaran dari Indonesia
kenapa? ๐ค
karena QRIS itu simple
> 1 QR code, semua e-wallet bisa scan
> tanpa perlu tukar mata uang
> tanpa perlu aplikasi khusus
Jepang bilang QRIS lebih canggih dari sistem mereka sendiri, China launch 30 April ini
India, Korea, Saudi Arabia, antri
dan ini dibuat Bank Indonesia sejak 2019
bukan Silicon Valley, bukan Beijing
@elisa_jkt@KemenkeuRI Setahu saya 2024 ada pengosongan besar-besaran dan dari kabar mulut ke mulut yg beredae akan dibangun rumah susun negara, kalau tidak salah ya...
Selesai dari PDT bikin sadar selama ini belum menemukan titik yang betul-betul nyaman untuk merasa puas menjadi diri sendiri.
Bukan karena tempat atau orang yg selama ini aku tumbuh salah. Tapi karena apresiasi atas value diri yg tinggi dan ekspektasi yg mudah terkendali.